LANGIT7.ID -
Tujuh belas Agustus tahun empat lima
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka nusa dan bangsa
Hari lahirnya bangsa Indonesia
Mer—de—kaLirik lagu berjudul Hari Merdeka ini senantiasa berkumandang di seluruh Indonesia di setiap momen Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Pencipta lagu yang monumental ini bernama H Mutahar.
Selain merupakan komponis, H Mutahar ternyata adalah seorang Sayyid atau Habaib yang nasabnya bersambung hingga ke Nabi Muhammad SAW. H Mutahar memiliki nama lengkap Sayyid Muhammad Husein bin Salim bin Ahmad bin Salim bin Ahmad al-Muthahar.
Baca Juga: Habib Ali Kwitang, Ulama Penentu Tanggal Proklamasi Kemerdekaan
Meski merupakan seorang komponis, nama H. Mutahar tak sepopuler nama komponis lain semisal WR Supratman. Nama beliau samar-samar. Wajar, ia sosok yang tawadhu dan tak ingin terkenal. Bahkan Husein Mutahar tak suka difoto, selalu memalingkan wajah dan berusaha bercakap-cakap agar hasil foto tak tampak wajah dari depan.
H. Mutahar merupakan pria kelahiran Semarang, 5 Agustus 1916. Dia lulusan sekolah menengah atas zaman kolonial, AMS bagian A (Pasti Alam). Ia pernah tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada, dari 1946 sampai 1947. Pada awal revolusi, ia menjadi Sekretaris Panglima Angkatan Laut RI di Yogyakarta pada 1945 hingga 1946.
Karya monumental H. Mutahar selain mars Hari Merdeka (1946) adalah hymne Syukur yang diperkenalkan Januari 1945. Sementara, Dirgahayu Indonesiaku menjadi lagu resmi ulang tahun ke-50 Kemerdekaan Indonesia.
Beberapa lagu kepanduan yang beliau ciptakan adalah Gembira, Tepuk Tangan Silang-silang, Mari Tepuk, Slamatlah, Jangan Putus Asa, dan Saat Berpisah. Ia menciptakan lagu kepanduan lengkap dengan kiprah gerakan kepanduan yang kemudian ia menjadi akrab disapa dengan panggilan “Kak Mut”. Khas panggilan anggota pramuka kepada pemandunya.
Selain dikenal sebagai komponis, H. Mutahar juga seorang pejuang kemerdekaan. Jejak langkahnya telah mewarnai peristiwa penting sejak tahun-tahun awal kemerdekaan Republik Indonesia.
Ia terlibat dalam Pertempuran Lima Hari pada 15-20 Oktober 1945 di Semarang. Pertempuran heroik itu merupakan perang rakyat Indonesia melawan tentara Jepang. Pertempuran itu dipicu nasionalisme masyarakat Indonesia ingin mengusir penjajah Jepang dari Tanah Air.
Perjuangan beliau yang paling menonjol adalah saat menyelamatkan bendera pusaka saat situasi Kota Yogyakarta, yang waktu itu menjadi ibu kota Indonesia, dalam kepungan Belanda. Pada 1948, tepatnya agresi militer II, serangan yang dipimpin Van Mook melibatkan pesawat-pesawat terbang P-51 membombardir Yogyakarta.
Dalam waktu singkat, Yogyakarta diduduki. Pangkalan Udara Maguwo direbut dan markas komando militer kota juga dibom. Bung Karno dan Bung Hatta ditawan oleh Belanda. Keduanya lantas dibuang ke Berastagi, Sumatera Utara, sebelum dibuang ke Pulau Bangka.
Penyelamatan bendera pusaka, menjadi salah satu bagian heroik, dari sejarah tetap berkibarnya Sang Saka Merah putih di Indonesia hingga kini. Di mata seluruh bangsa Indonesia, bendera itu adalah sebuah ‘prasasti’ yang wajib diselamatkan, dan tidak boleh hilang dari jejak sejarah.
“Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada diriku. Dengan ini, aku memberikan tugas kepadamu pribadi. Dalam keadaan apapun, aku memerintahkan kepadamu untuk menjaga bendera ini dengan nyawamu,” kata Soekarno kepada Husein Mutahar dalam buku “Bung Karno: Penjambung Lidah Rakjat” karya Cindy Adams.
H. Mutahar dibantu Pranadinata. Ia membuat jahitan bendera Indonesia sehingga tampak sebagai kain biasa berwarna putih dan merah.
Atas jasanya itu, Karno, melalui pemerintah Republik Indonesia telah menganugerahkan Bintang Maha Putera pada tahun 1961 karena jasanya menyelamatkan Bendera Pusaka.
Baca Juga: Sultan Hamid II, Zuriah Rasulullah SAW Perancang Garuda Pancasila
Bapak Pendiri PaskibrakaBung Karno menugaskan H. Mutahar untuk mengurusi upacara kemerdekaan Indonesia yang kedua. Ia mengurusi upacara pengibaran bendera di HUT RI ke-2 pada 17 Agustus 1946.
Saat itu, ia menunjuk lima orang pengibar bendera asal Jogja, yang menyimbolkan Pancasila. Ini yang kemudian menjadi dasar dalam membentuk Paskibraka (Pasukan Pengibar Bendera Pusaka) yang selanjutnya diubah menjadi tiga orang.Saat Bung Karno digantikan Soeharto pada 1965, H. Mutahar tetap dipercaya sebagai penjaga bendera pusaka.
Pada 1967, ia dipanggil Soeharto untuk menangani masalah Bendera Pusaka. Berdasarkan pengalaman tugas dari Bung Karno, ia mengembangkan lagi formasi pengibaran menjadi 3 kelompok, yaitu; kelompok 17 yang berfungsi sebagai pengiring atau pemandu, kelompok 8 sebagai pembawa serta inti, dan terakhir kelompok 45 sebagai pengawal.
Formasi itu kemudian dicoba pada upacara kemerdekaan Indonesia 1968. Petugas pengerek Bendera Pusaka adalah sepasang pelajar remaja yang ditunjuk dari setiap Provinsi di Indonesia, namun karena saat itu tidak memungkinkan memanggil dari tiap provinsi karena adanya kendala, maka untuk melengkapi formasi dipakailah para anggota pasukan di tahun 1967.
Mutahar menghembuskan nafas terakhir pada 9 Juni 2014, di kediaman anak angkatnya, Sanyoto, di Jalan Damai Raya Nomor 20, Cipete Jakarta Selatan. Jenazahnya dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Jeruk Purut, Jakarta Selatan.
(jqf)