LANGIT7.ID, Surakarta - Mubaligh Persyarikatan Muhammadiyah, Ustadz Adi Hidayat (UAH), menjelaskan makna di Balik nama Ahmad dan Muhammad. Dua nama itu merupakan nama nabi terakhir yakni
Rasulullah Muhammad SAW.
Ahmad dan Muhammad merupakan representasi
hablun minallah dan
hablun minannas, yakni hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia antarsesama manusia. Konsep ini merupakan inti ajaran Islam agar tercipta kehidupan yang damai penuh kedamaian.
Prinsip itu pula yang menjadi inti dari dakwah Muhammadiyah. Muhammadiyah merupakan sebuah ormas Islam terbesar di Tanah Air yang didirikan oleh zuriah Rasulullah SAW, yakni KH Ahmad Dahlan.
Baca Juga: Mencintai Rasulullah SAW Bagian dari Akidah Seorang Muslim
“KH Ahmad Dahlan yang mendirikan Muhammadiyah adalah keturunan langsung yang tersambung kepada Rasulullah. Karena itu kita mengenal kader persyarikatan yang diwakafkan, amal salehnya, pengabdiannya, tapi wakaf itu tidak mengharuskan kita lupa kepada induknya,” kata UAH dalam Tabligh Akbar Semarak Muktamar 48 Muhammadiyah ‘Aisyiyah, di Universitas Muhammadiyah Surakarta, Solo, Sabtu (8/10/2022).
Rahasia di Balik Nama AhmadAhmad merupakan bentuk superlatif dari Hamid. Orang Arab tidak pernah menyebutkan kata Hamid kecuali kepada sosok yang tinggi nilai spiritualnya, sehingga tinggi tingkat pemujiaannya kepada Allah Ta’ala.
UAH mencontohkan orang yang rajin shalat, mulai shalat wajib sampai yang sunnah. Orang Arab akan menjuluki orang itu dengan kata Hamid. Akan tetapi, jika kekhusyuan meningkat, rajin shalat pun rajin berinfak, bersedekah, membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan beramal saleh maka dijuluki Ahmad.
Nabi Isa AS ketika menginformasikan nabi terakhir tidak menyebut nama Muhammad, tapi menggunakan nama Ahmad. Nabi Isa ingin memberikan kesan bahwa nabi terakhir adalah sosok yang tidak bisa ditandingi nabi dan rasul sebelumnya.
Baca Juga: Wajib Mengenal Rasulullah SAW sebagai Bukti Cinta Padanya
“Nabi terakhir yang datang setelah saya ini (kata Nabi Isa), sosok yang tidak bisa ditandingi oleh nabi dan rasul sebelumnya, khususnya dalam tingkat penghambaan kepada Allah Ta’’la. Tidak bisa disaingi,” kata UAH.
Kala itu viral bahwa Nabi Isa adalah nabi terakhir. Itu karena melekat satu sifat mulia Nabi Muhammad kepadanya, yakni sifat kasih sayang. Namun, Isa membantah dengan menyebut nabi terakhir adalah Ahmad, sosok yang sangat tinggi nilai spiritualnya.
Pengalaman Aisyah ketika tiduran di samping Nabi Muhammad. Malam-malam terbangun karena tangannya menyenggol kaki nabi. Lalu melihat kaki nabi sudah bengkak-bengkak. Begitu salam ditanya Aisyah, “Ya Rasulullah, kenapa masih shalat sampai kaki bengkak? Bukankah engkau sosok yang Sudah dijamin dengan surga.”
“Apakah boleh aku mensyukuri semua nikmat yang Allah anugerahkan kepadaku ini?” Jawab Nabi Muhammad.
Atas dasar itu, Nabi Isa AS tidak menamai beliau dengan nama Muhammad, tapi menyebutnya dengan Ahmad. Itu untuk memberikan kesan nabi terakhir adalah yang paling hebat dan paling tinggi maqomnya di hadapan Allah. Ahmad merupakan representasi
hablun minallah.
Rahasia di Balik Nama MuhammadKata Muhammad berasal dari kata Mahmud. Mahmud adalah bentuk tunggal, sementara Muhammad adalah bentuk superlatif. Tidak disebutkan di dalam bahasa Arab kata mahmud kecuali menunjuk kepada sosok yang tinggi nilai sosialnya.
Baca Juga: Rekomendasi Sirah Nabawi untuk Mengenang Perjuangan Rasulullah SAW“Jadi, kalau Ahmad hubungannya
hablun minallah (vertikal), mahmud sifatnya
hablun minannas (sosial). Ada orang yang rajin berbagi, itu mahmud. Ada orang yang toleran sifatnya, itu mahmud. Ada orang yang suka menyatu dengan orang lain untuk mengerjakan kebaikan, itu mahmud,” kata UAH.
Jika semua sifat-sifat sosial terakumulasi pada satu sosok, maka pada saat itulah dijuluki sebagai Muhammad. Jadi, Nabi Muhammad adalah sosok manusia yang paling tinggi sifat sosialnya. Beliau senang berbagi dan sangat toleran kepada sesama manusia.
“Dari nama mahmud menjadi Muhamamad,” jelas UAH.
(jqf)