LANGIT7.ID - , Jakarta - Peristiwa tewasnya ratusan nyawa akibat kerumunan masa kembali terjadi. Diawali dengan Tragedi Kanjuruhan, baru-baru ini 150-an orang tewas dalam
pesta Halloween di
Itaewon, Korea Selatan.
Dokter yang tergabung dalam Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI)
dr Vito Anggarino Damay, mengatakan, berdesakan dalam kerumunan memiliki risiko berbahaya terhadap pertukaran oksigen.
Baca juga: Mengenal Henti Jantung, Penyebab Puluhan Orang Tewas di Itaewon"Kita tahu ada
compression asphyxia. Ketika seseorang desak-desakan, napas menjadi kurang lega, dada orang mungkin terhimpit. Akibatnya, tubuh
kurang oksigen hingga diperparah dengan situasi yang memicu adrenalin dan ketegangan, karbon dioksida makin tinggi," ucap dr Vito dalam unggahan di akun Instagram pribadinya, @doktervito, Senin (31/10/2022).
Menurut dr Vito, kondisi tersebut menyebabkan pembuluh darah kuncup. Akibatnya oksigen tidak tersalurkan dengan baik ke jantung.
"Oksigen tidak tersalurkan dengan baik, karena fungsi jantung sebagai pompa pembuluh darah juga kurang oksigen. Bayangkan saja, pompanya darah kurang oksigen. Inilah yang menyebabkan henti jantung," tuturnya.
dr. Vito mengatakan, henti jantung atau
Hypoxia sangat berbahaya karena detak menjadi lebih lambat. Bahkan, bisa saja detak jantung berhenti.
Baca juga: Sebanyak 26 WNA Tewas dalam Tragedi Halloween di Itaewon"Bagaimana cara menolongnya? Yaitu dengan CPR (
cardiopulmonary resuscitation). Upaya CPR ini dilakukan untuk membantu jantung yang terhenti dalam memompa darah ke seluruh tubuh. Semakin cepat CPR dilakukan, semakin tinggi angka keberhasilannya dalam membantu pasien selamat," ungkapnya.
Menurut dr. Vito, CPR meningkatkan kemungkinan seseorang yang mengalami henti jantung menjadi selamat sebanyak 17-44%.
(est)