LANGIT7.ID, Jakarta - Islam wasathiyah adalah pandangan keagamaan yang berada dalam posisi moderat, tidak ekstrem kiri atau ekstrem kanan. Karenanya, Islam wasathiyah haruslah terbebas dari egoisme golongan atau madzhab.
Wakil Ketua Komisi Dakwah MUI, Habib Nabiel Al-Musawa menjelaskan,
Islam wasathiyah menjadikan seorang dai menempatkan sebuah perkara secara proporsional. Mereka mampu menempatkan mana yang masalah fundamental (ushul) dan mana masalah cabang (furu’).
“Sebagai dai, maka bisa memahami mana yang ushul dan mana yang furu’ sehingga tidak mudah terpecah belah, ” ujarnya.
Baca juga: 7 Adab Menuntut Ilmu, Ustaz Abdul Somad: Niat Paling UtamaHabib Nabiel menguraikan sepuluh karakteristik Islam wasathiyah, yakni Tawasuth (mengambil jalan tengah), Tawazun (berkeseimbangan), I’tidal (Lurus dan Tegas), Tasamuh (toleransi), dan Musawah (tidak ada pihak yang merasa lebih tinggi).
Prinsip Islam wasathiyah yang lain adalah Syura’ (musyarawah), Ishlah (reformasi), Awlawiyah (mendahulukan yang prioritas), Tathawwur (dinamis, kreatif, inovatif), dan Tahaddhur (berkeadaban).
“Dakwah Islam Wasathiyah dapat membangun negeri yang baldatun toyyibatun wa robbun ghofur karena hilangnya sifat egois, ” ujar Pimpinan Majelis Rasulullah ini di hadapan peserta Standardidasi Da’i MUI ke-17 di Wisma Mandiri, Jakarta, awal pekan ini.
Wahbah al-Zuhaili dalam tafsir al-Munir menegaskan bahwa kata al-wasath adalah sesuatu yang berada di tengah-tengah atau
مَرْكَزُ الدَّائِرَةِ, kemudian makna tersebut digunakan juga untuk sifat atau perbuatan yang terpuji, seperti pemberani adalah pertengahan di antara dua ujung.
Baca juga: Nasihat UAH: Jangan Malu Bertaubat, Yuk Kembali ke Jalan Allah “Dan demikianlah Kami menjadikan kalian umat yang pertengahan”, artinya “dan “demikianlah Kami memberi hidayah kepada kalian semua pada jalan yang lurus, yaitu agama Islam. Kami memindahkan kalian menuju kiblatnya Nabi Ibrahim as dan Kami memilihkannya untuk kalian.
(sof)