LANGIT7.ID, Jakarta - Islam mensyaratkan makanan yang dikonsumsi seorang muslim haruslah
halal dan
thayyib. Perintah tersebut tertera dalam Surah An-Nahl ayat 114:
فَكُلُوْا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّٰهُ حَلٰلًا طَيِّبًاۖ وَّاشْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ
“Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.” (QS An-Nahl: 114).
Perintah serupa juga termaktub dalam Surah Al-Baqarah ayat 168 dan Surah Al-Maidah ayat 88. Lalu bagaimana kriteria makanan halal dan
thayyib?. Dokter Spesialis Gizi, Kunkun K. Wiramihardja, menjelaskan kriteria makanan yang halal dan
thayyib menurut Al-Qur'an dan ilmu gizi.
Baca Juga: Kenapa Muslim Harus Makan dan Minum Halal? Ini Penjelasannya
Makanan itu disebut halal bila tidak haram, baik dalam zat maupun dalam cara memperolehnya. Makanan haram dalam zat disebutkan adalah babi, bangkai, darah yang mengalir, sembelihan yang disembelih atas nama selain Allah.
Menurut Surah Al-Maidah ayat 3, termasuk makanan haram juga hewan yang mati karena tercekik, jatuh dan ditanduk, diterkam makanan buas, dan sembelihan untuk berhala. Ada pula makanan dan minuman haram jika memabukkan seperti khamr di antaranya alkohol dan narkoba. Ini dijelaskan dalam Surah Al-Maidah ayat 90.
"Makanan haram tersembunyi dalam produksi makanan, minuman, obat, dan kosmetik yang banyak menggunakan bahan tambahan seperti
shortening, enzim, dan gelatin," kata dr Kunkun di kanal Gizi TV, dikutip Sabtu (10/12/2022).
Bahan
shortening dibuat dari lemak hewan dan lemak tumbuhan. Maka, meski hati-hati menggunakan
shortening.
Shortening membuat bahan makanan menjadi padu, lebih mengembang, enak, renyah, dan tahan lama. Banyak dipakai dalam produksi minyak rambut, pasta gigi, cream, cake, biskuit, dan roti.
Enzim terbuat dari sari lambung hewan berfungsi sebagai katalisator reaksi kimia. Antara lain dipakai untuk proses pembuatan keju dari susu. Adapun gelatin dibuat dari tulang rawan hewan seperti sapi, ikan, dan babi yang biasa dipakai pada pembuatan es krim, sari buah, minuman ringan, salep luka bakar, dan kapsul obat.
Baca Juga: Ini Alasan di Balik Perintah Jauhi Makan Makanan dan Harta Haram
"
Shortening, enzim, dan gelatin mungkin dibuat dari babi atau binatang yang ketika menyembelihnya tidak disebutkan nama Allah. Adalah kewajiban umat Islam bersama BPOM MUI untuk menelusuri apakah makanan, minuman, obat, dan kosmetik modern ada yang haram atau tidak," ujar dr Kunkun.
dr Kunkun menjelaskan, makanan haram dalam cara memperolehnya adalah makanan yang diperoleh dengan uang hasil mencuri, merampok atau hasil korupsi. Uang hasil kejahatan itu dipakai untuk membeli makanan dan minuman.
"Dampak mengonsumsi makanan haram adalah selain daripada dosa juga menyebabkan doa orang tersebut tidak dikabulkan oleh Allah Ta’ala. Demikian disebutkan dalam hadits riwayat Bukhari-Muslim dari Abu Hurairah," ungkapnya.
Kriteria Makanan Thayyib (Baik) Dr Kunkun menguraikan, menurut ilmu gizi, makanan yang baik adalah makanannya enak rasanya, segar, dan tidak menimbulkan penyakit. Selain itu, ia harus mengandung semua zat gizi, yaitu karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral, dan air dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan, tidak lebih dan tidak pula kurang.
Dalam Al-Qur’an bahasan tentang jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi bisa dilihat dalam Surah Abasa ayat 24-28, Surah Yasin ayat 72, Surah Al-A’raf ayat 31, dan Thaha ayat 81.
Baca Juga: Tak Semua Makanan Mengandung Alkohol Haram Dikonsumsi, Simak Penjelasan Pakar
Dr Kunkun menegaskan hal yang mesti diperhatikan yaitu komposisi bahan makanan. Maksudnya komposisi makanan harus sesuai dengan apa yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Ternyata apa yang disebutkan Al-Qur’an sesuai dengan ilmu gizi.
"Nah kalau tadi berbicara makanan, berarti minuman. jangan lupa minuman kita jangan kurang dari 2 liter setiap hari, sebab akan membahayakan ginjal kalau kurang," ujar dr Kunkun.
ثُمَّ شَقَقْنَا الْاَرْضَ شَقًّاۙ
"Kemudian kami belah bumi dengan sebaik-baiknya." (QS. Abasa: 26).
dr Kunkun menjelaskan, yang dimaksud dengan dibelah dalam ayat di atas bukan dikampak atau digergaji. Tetapi, dicangkul dengan sebaik-baiknya, karena akan ditanami dengan tanaman tanaman yang menjadi makanan manusia.
فَاَنْۢبَتْنَا فِيْهَا حَبًّاۙ
"Lalu di sana kami tumbuhkan biji-bijian." (QS. Abasa: 27).
Baca Juga: Teruji Ilmiah, 6 Makanan dan Herbal Ini Tajamkan Daya Ingat Hafiz Quran
Biji-bijian itu terdiri dari padi-padian dan kacang-kacangan. Termasuk padi-padian adalah beras, jagung, dan gandum. Padi pilihan yang susah dicerna itu baik untuk mereka yang mau kurus, adalah bila bentuk masaknya masih menyerupai mentahnya, seperti nasi masih menyerupai beras.
"Bila sudah berbentuk tepung seperti terigu yang asalnya dari biji-bijian gandum itu kalau dimasak maka makanan tersebut mudah dicerna, dari cocok untuk menaikkan berat badan. atau makanan dari tepung, baik itu tepung terigu maupun tepung beras," ujar dr Kunkun.
وَّعِنَبًا وَّقَضْبًاۙ
"Dan anggur dan sayur-sayuran." (QS. Abasa: 28).
Kacang-kacangan yang dimaksud adalah kacang-kacangan yang merupakan sumber protein nabati, contohnya kedelai, tahu, tempe, kecap, kacang merah, dan kacang tanah. Sementara, kacang panjang dan kacang buncis tidak termasuk kacang-kacangan sumber protein, karena itu termasuk sayur.
Dalam Abasa Ayat 28, kita harus makan anggur dan sayur-sayuran. Anggur adalah buah yang berair banyak. Kadar air dalam suatu buah adalah ciri dari buah tersebut mengandung energi yang rendah. Setara dengan anggur adalah semangka, jeruk, belimbing, melon, pir, tomat, dan pepaya.
"Selanjutnya, di dalam ayat tersebut disebutkan harus ada aneka sayuran, makanan yang harus dikonsumsi dalam Alquran selain disebutkan dalam surat Al basah 27-28 juga harus ada sumber protein hewani yang disebutkan Surah Yasin 72," ujar dr Kunkun.
Baca Juga: Waspadai Daging Haram, Ini Konsep Makanan Halal sesuai Syariat
Sumber protein hewani lainnya disebutkan dalam Surah An-Nahl ayat 14 yaitu ikan, ini setara dengan daging. Dalam surat An-Nahl ayat 5 dan Al-Mu’min 79, sumber protein hewani bisa dari ternak, termasuk ternak adalah ayam, bebek, dan telur masing-masing.
dr Kunkun menyimpulkan, makanan yang lengkap mengandung semua zat gizi yang harus dikonsumsi setiap hari adalah tertulis dan surat Abasa 27-28, surat Yasin 72, yaitu sumber karbohidrat, pai-padia, sumber protein nabati kacang-kacangan, sumber vitamin dan mineral Sayuran dan buahan, dan sumber protein hewani itu daging, ikan dan telur.
"Kandungan gizi dalam makanan sehari-hari selengkap dan jumlahnya sesuai dengan kebutuhan, tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang. Bila asupan gizi lebih atau kurang dari kebutuhan, timbul masalah gizi," kata dr Kunkun.
Dia mencontohkan, masalah gizi lebih adalah obesitas dan diabetes. Contoh gizi kurang kurang energi, protein, kurang vitamin A, dan anemia defisiensi. Dia mengingatkan, masalah gizi ini banyak sekarang Indonesia.
"Selanjutnya peringatan Allah, bahwa mengonsumsi makanan tidak boleh berlebihan dan tidak boleh melebar. Batas tertera dalam surat al-A'raf 31 dan Surah Thaha ayat 31," ungkap dr Kunkun.
(jqf)