LANGIT7.ID, Jakarta - Ada tips bangun
rumah tangga harmonis yang bisa diterapkan keluarga muslim. Pasangan suami istri diharapkan bisa menahan ego masing-masing agar terus rukun.
Pendakwah
Buya Yahya mengatakan, rumah tangga harmonis akan tercipta ketika suami dan istri bisa saling mengontrol ego. Apalagi ada rasa pengertian atas keinginan dan kebutuhan.
"Kewajiban istri kepada suaminya lebih besar dibandingkan kepada orangtuanya, sehingga istri mesti mendahulukan
kebutuhan keluarga yang dipimpin suaminya," ujar dia dikutip dari Al-Bahjah TV, Senin (12/12/2022).
Namun, hal ini bukan berarti istri tak boleh berbakti kepada orangtuanya. Bakti kepada orangtua bagi istri masih tetap harus dilakukan, hanya saja bukan lagi prioritas utama.
Baca Juga: Cara Islami Membangun Rumah Tangga, Niatkan karena Allah Ta'ala"Untuk pria, suami yang hebat adalah yang memfasilitasi istri untuk mengabdi kepada orangtuanya. Tapi istri juga mesti memahami bahwa suami sebagai imamnya adalah prioritas utama," katanya.
Menurut dia, rumah tangga yang dibangun dengan pengertian, akan terhindar dari masalah. Artinya, bakti istri kepada suami dan suami yang mengizinkan istri untuk berbakti kepada orangtuanya adalah dua perilaku istimewa.
Adapun permasalahan seringkali terjadi karena kurangnya pemahaman fikih dalam rumah tangga. Salah satunya kecemburuan istri yang muncul saat suami mengirimkan uang sebagai nafkah kepada ibunya.
"Dalam fikih, suami boleh mengirimkan sejumlah uang untuk ibunya, bahkan tanpa sepengetahuan istri sekalipun," ujarnya.
Sementara bagi istri, lanjut Pengasuh LPD dan Pondok Pesantren Al Bahjah ini, dia boleh memberikan uang hasil usahanya sendiri kepada orangtuanya tanpa seizin suami.
Namun menjadi tidak boleh bila uang tersebut merupakan nafkah dari suami untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
"Kecuali suami memang mengizinkan bahwa uang nafkah dan kebutuhan rumah tangga itu boleh diberikan sebagian untuk keperluan orang tua istri," katanya.
Pendakwah Ustadz Adi Hidayat (UAH) mengungkapkan, untuk membangun rumah tangga sakinah, ma waddah, dan rahmah, pasangan suami istri (pasutri) mesti meniatkan pernikahannya sebagai jalan mendekatkan diri dengan Allah.
"Menikah bukan hanya memadu cinta, tapi kekompakan pasutri untuk menjaga amanah yang Allah SWT berikan agar sama-sama bisa meningkatkan ibadah," ujar dia.
Adapun rumus pernikahan yang diberikan Nabi Muhammad SAW adalah meningkatkan takwa. Sebab takwa akan melanggengkan pernikahan di dunia hingga ke akhirat.
Allah berfirman dalam Al-Quran, "Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang." (QS Ar-Rum: 21).
Makna tanda-tanda kebesaran-Nya itu, lanjut UAH, bisa didapatkan dengan mendekatkan diri kepada Allah, sehingga akhirnya mendapatkan pasangan untuk menikah.
"Jadi kalau ingin dipercepat pengabulan doanya oleh Allah, niatkan untuk ibadah," ujarnya.
(bal)