LANGIT7.ID, Yogyakarta -
Pendidikan Indonesia masih cukup tertinggal dari negara-negara lain di dunia. Menurut data dari
World Population Review pada tahun 2021, pendidikan Indonesia berada di peringkat ke-54 dari 78 negara di dunia.
Dari kualitas siswa berdasarkan PISA (
Programme for International Student Assessment) tahun 2018. Kemampuan matematika siswa Indonesia berada di peringkat 75 dari 81 negara dunia, dengan skor 379. Dan di kategori sains, Indonesia berada pada urutan 71 di peringkat 9 dari bawah dengan rata-rata skor 396.
Menurut
Data Scientist asal Gresik yang berdomisili di Singapura,
Ainun Najib, menilai sistem pendidikan di Indonesia perlu ditingkatkan untuk mendukung minat dan bakat siswa. Terutama dalam meningkatkan bakat anak-anak bertalenta.
Baca Juga: Guru Besar ITS: Tak Sebatas Sekolah Formal, Keluarga Harus Jadi Satuan Pendidikan
Ainun membandingkan Indonesia dengan Vietnam. Investasi di bidang pendidikan untuk siswa-siswi dengan kepintaran di atas rata-rata sudah diterapkan sejak 1960-an di Vietnam. Dan di setiap provinsi ada sekolah khusus untuk anak-anak jenius. Kebijakan seperti itu belum ada di Indonesia.
Namun, bukan berarti sistem pendidikan di Indonesia kurang bagus. Hanya saja belum dikondisikan dengan baik. Sekolah talenta militer sudah ada sejak dulu, namun yang belum ada adalah sekolah-sekolah khusus untuk anak-anak yang unggul di berbagai bidang. Ainun berharap kurikulum Merdeka Belajar yang digagas Kemdikbud-Ristek bisa menjadi pintu masuk kebijakan semacam itu.
“Indonesia menurut saya sudah mulai dijalani dengan benar, merdeka belajar. Itu perlu kita dukung, visinya mas menteri, itu sebetulnya terkait
network reality. Salah satu ciri
network reality itu, karena yang terjadi adalah sintesis, kombinasi talenta lintas sektor,” kata Ainun saat ditemui
langit7.id di Yogyakarta, Selasa (13/12/2022).
Menurut Ainun, sistem pendidikan di Tanah Air harus menyesuaikan dengan perkembangan global saat ini. Harus ada kombinasi di antara semua pakar. Dia mencontohkan, pakar teknologi dan pakar olahraga saat bertemu bisa menciptakan
Video Assistance Referee (VAR) lengkap dengan sensor sehingga offside bisa akurat.
Baca Juga: Antara Realitas dan Idealisme, Bagaimana Seharusnya Sekolah Mendidik Siswa?
Ainun menyebut kombinasi ini belum terlihat dalam sistem pendidikan Indonesia. Sistem yang digunakan masih terpaku pada sistem lama, asal mentransfer pengetahuan saja. Anak-anak harus dididik berdasarkan minat dan bakat agar bisa bersaing secara global.
“Memerdekakan itu malah lebih baik. Tidak menghambat munculnya koneksi-koneksi yang baru, network-network yang baru,” kata alumnus
Nanyang Technological University (NTU) Singapore itu.
Di sisi lain, pendidikan Indonesia belum fokus mengajarkan kunci untuk mengakses ilmu pengetahuan yang tersebar di seluruh dunia. Kunci itu kata Ainun adalah bahasa Inggris dan ilmu-ilmu alat yang menjadi kunci untuk memahami berbagai pelajaran dalam bahasa Inggris.
Ironisnya, Ainun menyebut masih ada fenomena bahasa Inggris dilarang diajarkan di sejumlah sekolah dasar. Padahal, saat anak menguasai pelajaran bahasa Inggris, maka dia sudah punya alat untuk mengakses ilmu-ilmu yang lain.
Sistem pendidikan Indonesia saat ini, menurut Ainun, belum bisa memberikan fasilitas terbaik untuk anak-anak jenius. Itu pula yang menjadi alasan Ainun belum ingin pulang ke Tanah Air. Pendidikan anak bagi dia adalah hal utama. Dia ingin memberikan pendidikan terbaik untuk anak-anaknya.
Baca Juga: Kisah Ainun Najib, Santri Desa Jadi Data Scientist Mendunia
“Untuk anak-anak itu saya perlunya sekarang, saya tidak bisa nunggu. Egois tapi demi anak-anak. Kebetulan, anak saya yang paling tua butuh platform yang lebih tinggi. Saya khawatir di Indonesia, platform setinggi itu sangat langka. Agak egois, tapi setidaknya di Singapura masih lebih baik,” kata Ainun.
Meski begitu, Ainun mengaku bersyukur karena saat ini bahasa Inggris sudah mulai diajarkan di sekolah-sekolah. Bahkan, sudah banyak sekolah yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Dia berharap Kurikulum Merdeka Belajar bisa menjadi pintu pendidikan berkualitas di Indonesia.
“Karena bahasa kurang menguasai, komunikasi kurang, jadi kurang pede juga. Sesederhana itu yang membuat kita ketinggalan. Alhamdulillah, sekarang sudah mulai, bahkan sekolah-sekolah yang pengantarnya bahasa Inggris juga sudah mulai banyak,” ujar Ainun.
(jqf)