LANGIT7.ID, Jakarta - Peradaban selalu mengalami pasang-surut. Ada peradaban yang naik, ada pula yang turun. Hari ini,
peradaban Islam sedang surut sementara peradaban lain tengah bangkit. Bukan saja dalam catatan sejarah, tapi saat ini sudah ada contoh riil yang bisa dijadikan contoh.
“Ada contoh rill di depan mata, yang bisa ditengok dengan jelas, bahwa ada sebuah peradaban yang dulu menjadi peradaban dominan, sekarang mengalami proses penurunan,” kata Dosen di Universitas Islam Indonesia (UII), Suwarsono Muhammad, dalam diskusi publik bertajuk Masa Depan Peradaban Islam: Kapitalisme Religius dan Kosmopolitanisme yang digelar UII, dikutip Jumat (16/12/2022).
Menurut Suwarsono, peradaban dominan yang saat ini mengalami penurunan adalah peradaban Barat. Sejak krisis Amerika pada 2007-2008, Barat mengalami penurunan dan kini dihantam lagi dengan dampak pandemi Covid-19.
Di sisi lain, peradaban China yang bangkit tanpa melalui waktu yang cukup lama diraih dengan damai melalui doktrin
peaceful rice (PR). China bangkit dari peradaban yang terpinggirkan usai runtuh dan kini menjadi calon penguasa peradaban dunia.
Baca Juga: Din Syamsuddin Sebut Wasathiyah Islam Solusi Kerusakan Peradaban Manusia
“Kebangkitan itu bisa menjadikan China adikuasa tunggal baru, atau bahkan menjadikan dunia global hendak kembali ke moda bipolar, yang acapkali disebut sebagai Chimerica. China bangkit dengan waktu yang relatif cepat, kapan mulai? Tahun 70-an ketika Chou En-lai menjadi Perdana Menteri China. Tidak ada peradaban yang mampu bangkit secepat itu?” ujar Suwarsono.
Dengan kontes seperti itu, apakah peradaban Islam juga turun atau bangkit? Menurut Suwarsono, banyak yang memperkirakan peradaban Islam akan bangkit pada abad ke-15 Hijriah. Tapi, sekarang abad ke-15 segera berlalu tapi belum ada tanda-tanda besar yang menunjukkan hal itu.
Dia menjelaskan, umat Islam bisa bangkit kalau bisa melakukan revolusi besar pada mindset-nya sendiri. Selama ini, umat Islam melakukan gerakan anti-sistem atau melakukan perlawanan terhadap kemapanan.
"Itu tidak pernah berhasil. Secara politik mungkin berhasil, tapi singkat, ketika menjadi negara-negara merdeka pada tahun 1940 sampai 1950-an. Tapi hanya berhenti sampai di situ. Menang secara politik, tapi tidak berhasil membangun kesejahteraan dan kemakmuran, dan mundur lagi sampai sekarang,” ujar Suwarsono.
Baca Juga: Grand Syaikh Azhar: Khilafah Ajaran Islam, Bentuk Negara Sesuai Perkembangan Zaman
Di sisi lain, umat Islam tidak memiliki pemikir atau
think tank yang bersatu merumuskan kebangkitan peradaban Islam. Tak seperti China yang memiliki sekelompok cendekiawan think tank perumus pergerakan China dalam perubahan posisi hegemoni di dunia. Di Amerika juga begitu. Ketika Amerika mundur, ada banyak cendekiawan yang menjadi
think tank.
“Nah, dalam peradaban Islam,
think tank kurang dimanfaatkan. Jadi, semestinya sekelas kita harus punya, bagaimana menjadikan peradaban Islam bangkit kembali. Harus dialog, dan sekarang kita ini menjauh antara satu
think tank dengan think tank lain, alau
think tank itu ada,” ujar Suwarsono.
Kapitalisme Religius, Wajah Peradaban Islam Masa Depan?Salah satu jalan menuju kejayaan peradaban Islam yang perlu didiskusikan , menurut Suwarsono adalah melalui jalur kapitalisme.
“Kapitalisme itu bukan hanya milik Eropa. Sebelum kapitalisme industri Barat pada abad ke-17 M saat ini, ada kapitalisme lain yang berkembang di Asia yang berlangsung pada abad ke-13, abad ke-14, abad ke-15. Tidak lain dan tidak bukan adalah kapitalisme perdagangan. Siapa aktornya? China, Islam, dan India. Jadi, kapitalisme ada di mana-mana,” kata Suwarsono.
Ada beberapa strategi yang bisa dilakukan untuk membangkitkan peradaban Islam. strategi itu adalah konsentrasi membangun basis-basis ekonomi. Orang Islam juga harus berani bekerja yang tidak populer.
Baca Juga: Mengenal Kitab Karya Ulama Nusantara yang Jadi Rujukan Internasional
“Pastikan yang akan dilakukan, lakukanlah secara damai, dan hiduplah berdampingan dengan peradaban negara lain. Jika sudah kaya, harus tetap religius, salah satu bentuknya adalah makin rajin bersedekah,” ungkap Suwarsono.
Suwarsono menyebut posisi terburuk peradaban Islam telah berlangsung cukup lama bahkan terus berlangsung hingga kini. Pernyataan posisi itu lebih mudah dirasakan dan dipahami jika diletakkan dalam konteks perbandingan dengan posisi beberapa peradaban lain.
“Khususnya peradaban dominan dunia dan peradaban lain yang sedang berada dalam posisi pasang naik, yakni Barat dan China,” ujar Suwarsono.
Saat ini, Suwarsono menyebut penurunan peradaban Islam sudah dekat dengan titik nadir. Sebab belum ditemukan tanda-tanda signifikan yang menunjukkan ada perputaran arah pergerakan. Belum kembali pada posisi pasang naik atau sekadar berhenti pada titik rendah tertentu.
Pergerakan peradaban Islam terlihat terus menurun dengan tingkat akselerasi yang tinggi. Sepertinya, kata Suwarsono, tidak tersisa energi bahkan sekadar untuk memperlambat kejatuhan.
“Jika tidak segera dijumpai tanda-tanda kebangkitan bukan tidak mungkin, inilah periode terakhir dari serangkaian krisis yang telah berlangsung dan mengarah pada kehancuran total. Sungguh, sebuah tragedi yang memilukan dan tidak diinginkan,” ujar Suwarsono.
(jqf)