Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 17 April 2026
home edukasi & pesantren detail berita
Outlook 2023

Pendidikan Islam Harus Mampu Jawab Tantangan Era Industri 4.0 dan Society 5.0

Muhajirin Selasa, 20 Desember 2022 - 14:25 WIB
Pendidikan Islam Harus Mampu Jawab Tantangan Era Industri 4.0 dan Society 5.0
ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
LANGIT7.ID, Jakarta - Di era revolusi industri 4.0 dan memasuki era society 5.0, pendidikan Islam mendapatkan tantangan yang besar. Di era dimana segala hal serba praktis dan terdigitalisasi, orientasi pendidikan mengarah pada pragmatisme. Akibatnya pendidikan Islam dikhawatirkan hanya jadi angin lalu yang tidak dapat membentuk akhlak dan menjawab kebutuhan peserta didik.

Guru Besar Pendidikan Islam Universitas Negeri Malang ,Prof. Dr. Yusuf Hanafi, tenaga pendidik di lembaga pendidikan Islam tidak bisa lagi menyajikan kajian keagamaan secara dogmatis, tapi harus dengan cara multidisipliner, transdisipliner, dan interdisipliner.

“Pendidikan Islam harus berkontribusi di dalam pencapaian profil lulusan yang memiliki kecakapan hidup abad ke-21,” kata Prof Yusuf dalam webinar Pendidikan Agama Islam: Tantangan dan Respon Pendidikan Islam di Era Society 5.0 dikutip Selasa (20/12/2022).

Hal tersebut sesuai pernyataan Ali bin Abi Thalib dalam sebuah kalam hikmah, ‘Jangan didik anak-anakmu sebagaimana kalian dididik oleh bapak-bapak kalian, karena mereka akan hidup di zamannya, bukan pada zaman kalian’.

Baca Juga: Prof. Sutrisno: Pendidikan Islam Miliki Peran dalam Proses Perbaikan Indonesia

“Orang-orang tua dilahirkan pada era ‘kolonial’, dan anak-anak dilahirkan pada era milenial,” katanya.

Prof Yusuf menyebut ada banyak tantangan baru dengan munculnya fenomena-fenomena baru di era 4.0 dan society 5.0. Hal paling nampak adalah terjadinya revolusi digital. Teknologi yang dikembangkan saat ini semuanya hampir berbasis internet, sehingga muncul internet of things (IoT) dan big data.

Hal tersebut membuat dunia terintegrasi, terjadi konvergensi antara pengetahuan dan teknologi, dan munculnya profesi-profesi baru. Para ahli memperkirakan, 65% profesi yang ada saat ini saat anak-anak masih usia SD akan hilang saat memasuki dunia kerja.

“Tantangan lain adalah ruang belajar belajar yang semakin terbuka dan tanpa batas. Tak kalah penting lahirnya generasi ‘digital asli’ (digital native/Gen Y-Z). Pada sisi yang lain para pendidik, guru, bahkan dosen adalah generasi ‘gagap teknologi’ (digital migrant/Gen X),” ungkap Prof Yusuf.

Baca Juga: Ainun Najib: Indonesia Harus Lebih Serius Didik Anak Bertalenta

Dampak Sosial-Keagamaan Akibat Disrupsi Teknologi & Digital

Lembaga pendidikan Islam harus merespon perkembangan teknologi dan digital. Ada beberapa dampak akibat perkembangan ini. Pertama, terjadinya transvaluasi (pergeseran nilai). Terkikisnya ideologi religius dan budaya lokal, digantikan oleh identitas global yang profan dan material. Kedua, kecenderungan sekuler (secular trend) di dalam masyarakat. Masyarakat berorientasi pada nilai dan tujuan temporal serta non transendental lewat cara-cara yang rasional-pragmatik.

Baca Juga: Keterbatasan Tak Surutkan Semangat Warga Pedalaman Kalimantan Belajar Islam

Ketiga, melemahnya institusi-institusi keagamaan. Institusi keagamaan saat ini cenderung melemah digantikan oleh kegiatan ekonomi dan hiburan.

“Dulu, masih ada sebutan anak langgar atau santri, tapi saat ini masjid dan langgar setelah shalat Isya dikunci, karena memang sudah tidak ada lagi yang mau tidur di sana. Anak-anak lebih suka yang sifatnya hiburan dan memberikan nilai refreshing bagi mereka,” kata Prof Yusuf.

Dampak lain yang dihasilkan dari digitalisasi saat ini adalah melonggarnya kerekatan dan solidaritas sosial. Preferensi masyarakat pada media digital sebagai sarana interaksi sosial.

Sisi Gelap Digitalisasi di Dunia Pendidikan

Revolusi industri 4.0 memang memberikan banyak kemudahan dalam kehidupan. Tetapi, perlu dicatat ada sisi gelap dari digitalisasi yang merambah ke dunia pendidikan.

Pertama, banyak pihak yang merasa sudah hilangnya dimensi barokah. Itu karena dalam pembelajaran secara daring melalui media digital tidak ada lagi talaqqil ilmi atau tatap muka antara guru dan peserta didik.

Kedua, terjadi kelangkaan ilmu yang bermanfaat (‘ilman nafi’an) karena sumber ilmu tidak jelas dan tidak kredibel. Informasi-informasi ilmu pengetahuan dengan mudah didapatkan melalui media digital seperti kanal youtube, google, dan platform digital lain.

Baca Juga: Tips Ainun Najib Hindarkan Anak dari Dampak Negatif Gadget

“Sebagai ujung dari sisi gelap ini terjadi krisis akhlak. Salah satu contoh dari krisis akhlak ini adalah praktik plagiasi, copy-paste, dan kecanduan teknologi,” tutur Prof Yusuf.

Belajar dari tantangan ini, maka pendidikan Islam harus berkontribusi secara metodologis dengan ilmu-ilmu lain. Lembaga pendidikan Islam harus menggabungkan dalam rumpung bidang keilmuan yakni ilmu keagamaan (ulumuddin), ilmu-ilmu kealaman (natural sciences), ilmu-ilmu sosial (social sciences), dan ilmu-ilmu humaniora (humanities).

“Kita harus menggunakan paradigma interconnected entities dengan menggunakan pendekatan multi, trans, dan interdisipliner ketika melakukan pengkajian agama. Ini sesungguhnya yang seringkali dituding liberal,” ujar Prof Yusuf.

Atas dasar itu, lembaga pendidikan Islam harus memunculkan ilmu antropologi agama, sosiologi agama, hingga psikologi agama. Ilmu-ilmu itu merupakan bentuk pengayaan pendekatan dan metode di dalam pengkajian ilmu agama. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan liberalisasi ajaran Islam di dunia pendidikan.

Menurut Prof Yusuf, hal itu menjadi keniscayaan untuk dilakukan, karena jika tidak, pendidikan tetap pada model kajian teologis, normatif, dan monodisipliner. Maka, peserta didik menjadi generasi yang berwawasan sempit dan dangkal. Dampaknya mereka akan menjadi eksklusif.

Baca Juga: Kisah Ainun Najib, Santri Desa Jadi Data Scientist Mendunia

“Jika diramu, model pendidikan seperti akan berujung pada transendensi pemikiran keagamaan. Perlu dihindari bersama,” ujar Prof Yusuf.

Selain itu, pendidikan Islam harus berkontribusi dalam pencapaian learning outcomes yakni kecakapan hidup abad ke-21. Kecapakan abad ke-21 diwakili oleh The 4C yakni critical thinking yang berorientasi pada problem solving, menumbuhkan creativity (kreativitas), menumbuhkan collaboration (kolaborasi), dan membangun communication (komunikasi).

Arah Pengembangan Pendidikan Islam

Pendidikan Islam pada era society 5.0 harus mengalami transformasi. Ini sejalan dengan pendapat Ali bin Abi Thalib bahwa kita tidak boleh mendidik generasi milenial dengan sistem pendidikan kolonial.

Maka pendidikan Islam pada era society 5.0 harus menyasar tiga hal sekaligus. Pertama, aspek sikap (humanistic knowledge/to value). Peserta didik harus belajar mengenal diri sendiri dan belajar untuk hidup bersama. Ini adalah sikap spiritual sekaligus sikap sosial yang harus dimiliki peserta didik.

Kedua, aspek pengetahuan (foundational knowledge/to know). Peserta didik harus memahami dan menguasai konsep-konsep teoritis.

Baca Juga: Trauma Syariat Muncul dari Generasi Muda Lemah Iman

Ketiga, peserta didik harus mampu melakukan sesuatu (meta knowledge/to act). Peserta didik harus mampu melakukan sesuatu yang berguna dan bermanfaat bagi kehidupan. Mereka harus belajar berkarya sekaligus bekerja.

Selain itu, orientasi pendidikan Islam pada era society 5.0 harus ditekankan pada edukasi sosial. Dalam hal ini ada tiga aspek yang harus dicapai. Pertama, membangun kesalehan individual-vertikal (hablum minallah) sekaligus kesalehan sosial-horizontal (hablum minan-nas). Kedua, menanamkan moderasi beragama yang berfokus respect for self sekaligus respect for the others.

“Ketiga, peka terhadap realitas sosial dan kebutuhan global, sekaligus mengedepankan dimensi ajaran Islam yang inklusif, toleran, dan multicultural,” kata Prof Yusuf mengungkapkan.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 17 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:04
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)