LANGIT7.ID, Jakarta - Edukasi seks Islami perlu dilakukan oleh orang tua terhadap anak bukan ketika anak menginjak baligh. Tapi justru harus dilakukan sejak anak di usia bawah lima tahun (Balita). Tujuan edukasi seks Islami adalah membentuk anak yang bisa bertindak di jalan diridhai Allah terkait kehidupan seksualitasnya.
Tindakan itu pun dijalani dengan penuh tanggung jawab, sehingga kehidupan seksualitas anak bisa sehat dan berkah serta jauh dari berbagai jenis penyimpangan. Di antara jenis penyimpangan itu adalah LGBT.
CEO Penerbit Sakeena, Ihsanun Kamil Pratama, mengatakan, orang tua yang memiliki balita sangat penting materi dasar tentang edukasi seks Islami. Itu merupakan bekal agar anak bisa dekat dengan Allah Ta’ala.
Baca Juga: Edukasi Seks dalam Islam Harus Tumbuhkan Cinta Anak pada Allah
Berikut ini enam edukasi seks Islam yang harus dilakukan orang tua secara rutin dan berkesinambungan setiap hari:
1. Memberikan Kelayakan BerpakaianMemberikan kelayakan berpakaian berarti menghargai dan mendidik anak balita menjadi seutuhnya manusia. Hal yang membedakan manusia dari hewan adalah budi yang luhur. Itu disimbolisasikan dengan pakaian.
“Karena islam adalah agama yang menjamin kemuliaan bagi penganutnya yang taat, maka Allah memberikan bimbingan bagi hamba-Nya tentang batasan aurat. Ternyata, satu-satunya pihak yang kita sama sekali tidak ada batasan aurat, hanya pasangan halal kita saja,” kata Canun Kamil dalam kuliah daring yang diikuti Langit7 beberapa waktu lalu.
Dalam hal ini, orang tua harus mencontohkan pakaian syar’i kepada anak-anak. Itu karena anak merupakan peniru terbaik kedua orang tuanya. Jika orang tua sering berpakaian seksi di depan anak, meski di dalam rumah, itu bisa terekam dalam otak mereka.
“Perhatikan bagaimana pemberian pakaian untuk anak-anak kita. Meski mungkin ada rasa, ‘lucu juga yah anak pakai rok mini’. Tetapi, jika itu kontraproduktif dengan pengenalan aurat, maka kita berikan saja pakaian yang proper, yang menutup aurat seperti apa.
Baca Juga: Berikut Tahapan Awal Edukasi Seks Islami untuk Anak
Dengan memperhatikan kelayakan berpakaian, anak akan mengenal aurat dan mengetahui bagian tubuh mana yang harus dilindungi. Dengan begitu, anak bisa menghormati auratnya dan aurat orang lain.
“Maka mari kita bantu dengan menjadi teladan terkait kelayakan berpakaian ini,” ujar Canun Kamil.
2. Mengajarkan Kelayakan BersikapOrang tua harus mendidik kelayakan bersikap kepada anak. Orang tua harus mengenalkan maskulinitas kepada pria dan feminim kepada perempuan. Orang tua tidak boleh menyikapi anak perempuan seolah laki-laki. Begitupun sebaliknya.
“Apakah berarti anak perempuan tidak boleh mandiri? jangan salah. Mandiri itu penting untuk lelaki dan perempuan, tetapi tidak sama dengan menjadikan tomboy. Mengajarkan kesantunan dan kelembutan bersikap itu penting buat lelaki, tetapi bukan jadi bersikap seperti melambai-lambai,” ujar Canun Kamil.
Santun dan bersikap lembut berbeda dengan melambai. Bukan berarti anak lelaki tidak boleh menangis. Tapi, mengajarkan maskulinitas berarti mengajarkan seorang lelaki perlu berjuang dan bertanggung jawab.
“Karena yang perlu kita ingat, sebetulnya dalam Islam, anak lelaki itu jika sudah baligh, maka bukanlah lagi kewajiban orang tuanya untuk membiayai kehidupannya. Kalaupun masih diberikan, sifatnya bukan lagi kewajiban, tapi sedekah,” ujar Canun Kamil.
Baca Juga: Sebelum Kenalkan Pendidikan Seks, Ubah Pola Pikir Orang Tua Lebih Dulu
Anak laki-laki perlu pelan-pelan dibimbing tentang kelaki-lakiannya, karena lelaki itu pemimpin bagi wanita. Anak perempuan juga harus dididik memiliki naluri keperempuanannya. Otak lelaki dan perempuan berbeda, karena gennya jelas berbeda. Gen itu yang nanti juga memunculkan jenis dan jumlah hormon berbeda antara lelaki dan perempuan.
“Perbedaan hormonal itu yang juga menyebabkan naluri antara lelaki dan perempuan itu berbeda. Karena itu, perempuan ada naluri keibuan yang perlu untuk dijaga, seperti naluri untuk merawat sesuatu. Dan ketika perempuan baligh, perempuan tetap dalam tanggungan kedua orang tuanya, terutama ayahnya,” ungkap Canun Kamil.
3. Mengajarkan Toilet Training
Orang tua harus mengajarkan anak agar bisa dengan baik lulus
toilet training. Ini karena berhubungan dengan daerah-daerah sensitif anak. Anak perlu menjaga daerah sensitif itu secara mandiri. Ini harus direnungi oleh setiap orang tua.
“Bagaimana jika kita tidak bisa lagi menemani anak-anak kita, jika maut mendatangi kita, sedangkan anak kita masih belum bisa mandiri dikarenakan kita tidak melatih
toilet training?” kata Canun Kamil.
Orang tua harus melatih anak-anak toilet training demi kebaikan dan kepentingan mereka. Orang tua bisa menjamin bisa menemani anak sampai dewasa. Umur tidak ada yang tau. Maka, orang tua harus menyiapkan kemandirian diri sejak dini.
Baca Juga: Tiga Tips Ajarkan Anak Agar Terhindar dari Kekerasan Seksual
“Yuk, kita latih anak-anak kita. Itu demi kebaikan mereka, demi kepentingan mereka. Karena memandirikan anak berarti menyiapkan anak lepas dan bisa hidup tidak tergantung kedua orang tuanya,” ujar Canun Kamil.
4. Mendidik Mandiri Menjaga TubuhMandiri menjaga tubuh berkaitan dengan interaksi anak dengan orang lain. Orang tua harus mengenalkan kepada anak tentang bagian tubuh yang wajib dijaga. Misal daerah sensitif pria dan wanita yang tidak boleh diperlihatkan kepada orang lain.
“Ini berhubungan dengan interaksi anak kita dengan pihak lain. Kita perlu mengenalkan bahwa ada area yang nggak boleh sembarang orang menyentuh tubuh terutama bagian sensitif,” ujar Canun Kamil.
5. Memberikan Kelayakan Informasi kepada Anak-anakOrang tua berkewajiban memberikan kelayakan informasi kepada anak-anak. Maksudnya, era sekarang yang segala jenis informasi bertebaran di mana-mana. Tentu ada informasi yang sebetulnya sangat tidak layak untuk dikonsumsi anak-anak.
“Bahkan kalau saat ini Anda mengkhawatirkan LGBT, info-info melenceng ini sekarang sudah dikenalkan bahkan melalui buku anak,” kata Canun Kamil.
Saat ini, bahkan, LGBT banyak diperkenalkan melalui buku pelajaran. Maka, memberikan kelayakan informasi kurang lebih sama dengan mempersilahkan penggunaan gadget ke anak dengan pengawasan yang sesuai. Penggunaan gadget secara proporsional.
Baca Juga: Begini Cara Ajarkan Bahaya Penyimpangan LGBT pada Anak
“Bahkan bukan sekadar LGBT, ya, pornografi pun perlu menjadi perhatian. Karena tidak sedikit anak mendapatkan info tentang pornografi justru dari gadget orang tuanya. Ada sebagian orang tua yang niatnya adalah agar hubungan suami istri semakin mesra, justru menggunakan media blue film agar sama-sama panas,” ujar Canun Kamil.
Hal ini tentu bukan sesuatu yang bijak, karena melihat aurat seseorang yang bukan hak sama sekali. Maka, memberantas pornografi bagi anak-anak dimulai dari memberantas pornografi dari gadget yang dimiliki.
“Ingat selalu, ya, para Ayah bunda sekalian bahwa bagaimana penggunaan gadget kita itu tentu akan diminta pertanggungjawabannya kelak,” ungkap Canun Kamil.
6. Memisahkan Tempat Tidur dengan Orang TuaHal ini bisa dilakukan berbarengan dengan proses menyapih. Ketika menyapih, tandanya anak sudah tidak ada urusan lagi untuk tidur sekamar dengan kedua orang tua. Maka, dengan dilakukan secara bertahap, pemisahan tempat tidur sudah perlu dilakukan.
“Apalagi kamar orang tua adalah tempat orang tua mengekspresikan privasinya,” ujar Canun Kamil.
Hal itu termaktub dalam Al-Quran Surah An Nur ayat 58- 59. Secara umum, pemisahan tempat tidur bisa seperti ini. Jika kakak adik berjenis kelamin sama, boleh satu kamar, tetapi beda kasur.
“Dengan catatan, disampaikan bagaimana penggunaan kamar dan penjagaan aurat, terutama ketika habis mandi atau ingin ganti baju. Jika kakak adik berjenis kelamin beda, maka pisahkan kamarnya,” ungkap Canun Kamil.
(jqf)