LANGIT7.ID - , Jakarta -
Petisi meminta untuk mengembalikan sistem Work From Home (
WFH) belakangan viral di jagat maya. Terhitung hingga Jumat (6/1/2023) sudah 19.540 ribu orang yang menandatanganinya.
Adapun penyebab adanya petisi yang dibuat oleh Riwaty Sidabutar itu karena masyarakat menganggap Work From Office (
WFO) menyebabkan jalan semakin
macet, polusi makin bertambah dan membuat karyawan tidak produktif.
Dalam petisi tersebut, Riwaty meminta kepada perusahaan untuk mengkai kembali aturan WFO 100 persen.
Baca juga: 18.381 Ribu Orang Tanda Tangan Petisi Kembalikan WFH, Ini Kata PengamatMenanggapi ini, Praktisi HR, Dhea Rizky Ardin mengaku munculnya petisi kembalikan WFH adalah hal yang wajar, terlebih setelah hampir tiga tahun merasakan nyamannya bekerja dari rumah.
Dhea melihat perbedaan cara hidup beberapa tahun belakangan yang dinilai erat kaitannya dengan petisi tersebut.
"Di sini kita melihat ada perbedaan cara hidup dalam waktu 3 tahun belakangan. Dari yang biasa offline kemudian tiba-tiba muncul pandemi sehingga harus online dan semua bekerja di rumah. Terus sudah mulai terbiasa tiba-tiba diminta untuk masuk. Jadi kan ada perubahan yang tiba-tiba dalam waktu kurun 3 tahun," ujar Dhea kepada Langit7, Kamis (5/1/2022).
"Jadi ketika orang sudah terbiasa dengan cara kerja baru yang dianggap enak dan efektif, sehingga orang-orang merasa kenapa tidak dilanjutkan WFHnya karenakan efektif juga," lanjut dia.
Menurut Dhea, kembalinya WHO membuat suasana baru yang mana membuat masyarakat harus menyesuaikan lagi dengan kondisi macet saat pergi ke kantor.
Baca juga: Generasi Milenial Inginkan WFH, Paling Enggak Satu Kali Seminggu"Kalau aku melihat karena itu. Adanya sistem WFO lagi berarti manusia harus menyesuaikan diri lagi dengan kemacetan, suasana kerja, kemudian harus mengatur waktu berangkat dan pulang. Ternyata juga pas dilihat semakin macet jalanan, tidak seperti sebelumnya. Atau mungkin sebelumnya juga seperti itu cuma karena kita lupa aja," katanya.
Karenanya, ia menilai wajar jika masyarakat membuat petisi dan banyak yang menyetujuinya.
"Karena udah enak di rumah aja selama pandemi akhirnya lupa rasanya macet. Bisa jadi seperti itu. Ini juga masa transisi, kayaknya memang wajar ada petisi seperti itu. Karena kita sudah melihat betapa enaknya bekerja di rumah. Jadi mungkin ada beberapa orang yang memperjuangkan kembali WFH," tuturnya.
Namun, apakah WFH sudah tepat menjadi solusi untuk mengurangi kemacetan dan penekan stres?
Dhea mengatakan WFH bukan menjadi solusi utama dalam hal ini. Tapi, sambungnya, WFH bisa menjadi solusi untuk kota-kota besar terutama di wilayah Jabodetabek.
Baca juga: Lagi WFH? Catat 5 Tips Ubah Ruang Makan Jadi Tempat Kerja Nyaman"Namun memang mungkin bisa menjadi solusi untuk mengurangi kemacetan kemudian orang juga stresnya tidak double. Seperti stres di jalan, bangun pagi, terus di kantor. Kalau WFH seenggaknya bisa mengurangi itu," ucapnya.
"Dalam segi work life balance, orang tua terutama itu, bisa sambil menjaga anak. Jadi mungkin ada beberapa yang cocok, tetapi ada beberapa yang tidak cocok juga dengan WFH. Jadi perlu dikaji secara holistik," cetus Dhea.
(est)