LANGIT7.ID, Jakarta - Salah satu sosok yang menjadi teladan dalam mengasuh anak adalah
Nabi Ibrahim Alaihissalam dan Ibunda Hajar. Keduanya berhasil mendidik anak menjadi anak yang tangguh. Tangguh berarti anak bahagia dan taat kepada orang tua karena landasan cinta dan kagum, bukan karena takut.
Pakar Pengasuhan Anak, Irwan Rinaldi Hakim, mengungkapkan, pola pengasuhan yang diterapkan Nabi Ibrahim dan Ibunda Hajar bisa dicontoh mendidik anak di era modern. Nabi Ibrahim terlebih dahulu menguatkan hubungan dengan Allah lalu mendidik Nabi Ismail untuk beriman dan bertakwa kepada-Nya.
“Nabi Ibrahim adalah salah satu contoh luar biasa di dalam menghebatkan anak-anaknya, baik secara pertumbuhan maupun secara perkembangan. Kalau Ibunda Hajar kita sudah paham bagaimana Bunda Hajar di dalam pengasuhan dan pendidikan Nabi Ismail,” kata pria yang akrab disapa Ayah Irwan itu dalam webinar Peran Keluarga Menjaga Kesehatan Mental Anak yang diadakan Inalead, dikutip Sabtu (7/1/2023).
Baca Juga: Tugas Berat Nabi Ibrahim Mentauhidkan Anak-Anak dan Keturunannya
Dalam mendidik anak, setidaknya ada tiga poin penting yang harus dikuatkan oleh orang tua. Di antaranya:
1. Keberkahan Hubungan dengan AllahMeraih keberkahan hubungan dengan Allah merupakan modal utama orang tua dalam mendidik anak. Keutuhan dan keberkahan rumah tangga sangat bergantung pada keterhubungan dan ketersambungan suami, istri, dan anak kepada Allah.
“Ayah yang bersandar hanya kepada Allah, Allah sebaik-baik pelindung. Ayah bersegera tidak suka menunda, bersegera menggapai hidayah. Ayah yang tidak pernah putus asa yaitu ayah yang optimis dan berikhtiar,” kata Ayah Irwan.
Sementara, istri taat kepada suami karena suami taat kepada Allah. Sikap itu akan melahirkan pikiran selalu berbaik sangka kepada Allah. Maka itu, sangat penting bagi orang tua memeriksa keberkahan hubungan dengan Allah.
“Keberkahan dari hubungan dengan Allah, pantaskah kita menerima amanah? Amanah itu sudah tentu berhubungan dengan anak,” ujarnya.
Baca Juga: Meniru Nabi Ibrahim Sebagai Sosok Ayah dan Pendidik Hebat
Dia mencontohkan, orang tua bisa mengevaluasi diri apakah sudah pantas mengasuh anak saat berusia 0-7 tahun, 7-15 tahun, dan seterusnya. Evaluasi hubungan dengan Allah sangat penting untuk menghebatkan anak-anak.
“Maka, kita harus memantaskan diri kita, supaya Allah memberikan keberkahan dalam kita mengasuh dan mendidik anak-anak kita. Kadang-kadang kita lupa memantaskan diri kita, misal punya anak 0-7 tahun dalam menjaga dan menyehatkan mental anak. Seberapa besar kita melibatkan Allah dalam pengasuhan?” ungkap ujarnya.
2. Keberkahan PernikahanDalam mengasuh anak, keberkahan pernikahan harus diperiksa. Keberkahan pernikahan ini menyangkut hubungan suami istri. Suami dan istri harus punya
roadmap jelas dalam menjalankan bahtera rumah tangga.
Roadmap itu harus disepakati sejak awal pernikahan. Tanpa
roadmap, membangun rumah tangga akan susah. Saat ada gelombang naik dan turun, bahtera rumah tangga mudah kehilangan arah.
“Seperti apa kondisi pernikahan? Karena bagaimana menghebatkan kesehatan mental anak, sudah barang tentu harus melihat mata airnya, yaitu pernikahan. Banyak kesehatan mental anak rusak karena kondisi pernikahan yang tidak berjalan dengan baik,” kata Ayah Irwan.
Baca Juga: Subhanallah, Ini Cara Rasulullah Bercengkrama dengan Keluarga
Roadmap pernikahan ini dibagi menjadi per lima tahun. Lima tahun pertama fokus membangun keutuhan rumah tangga. Ini hanya berkaitan dengan hubungan suami dan istri saja. Lalu diperlukan pula roadmap jika memiliki anak.
“Tahap bagaimana persiapan saat anak datang. Persiapan secara psikologis. Jangan sampai anak datang tidak siap. Banyak tidak siap bahwa tidak lagi sebagai seorang suami dan istri, tapi sudah berganti menjadi ayah dan ibu,” ujar Ayah Irwan.
3. Keberkahan PengasuhanKeberkahan pengasuhan bertujuan agar keluarga kuat dalam keadaan, situasi, dan kondisi apapun. Ada tiga hal yang perlu diperhatikan terkait keberkahan pengasuhan ini.
Pertama, prinsip pengasuhan. Suami dan istri harus menyamakan prinsip pengasuhan terlebih dahlu sebelum punya anak. Prinsip pengasuhan harus sama. Tidak boleh berbeda. Masalah akan muncul jika prinsip pengasuhan tersebut berbeda.
Prinsip pengasuhan ini berkaitan dengan prinsip-prinsip dasar kehidupan, seperti akidah, akhlak, dan sebagainya. Ini perlu disepakati agar perjalanan mendidik anak bisa lancar. Terpenting, bagaimana membangun karakter anak yang dekat kepada Allah.
Baca Juga: Tips Parenting Muslim, Perbaiki Hubungan supaya Dekat dengan Anak
Kedua, pola pengasuhan. Pola pengasuhan juga harus disepakati. Misal, membangunkan anak dengan pola yang sama. Contoh kecil seperti itu harus disepakati. Belum lagi pola mendisiplinkan anak dan lain sebagainya.
Ketiga,
roadmap pengasuhan.
Roadmap pengasuhan berbeda-beda sesuai jenjang umur anak. Mengasuh anak laki-laki dan perempuan juga berbeda. Maka itu, suami dan istri harus membikin
roadmap mengasuh anak laki-laki seperti apa dan anak perempuan seperti apa.
Misalnya, saat anak laki-laki berumur 17-18 tahun ayah wajib mengajarkan kelaki-lakian kepada anak. Sehingga, pada saat berumur 4-15 tahun ayah sudah mensimulasikan kelaki-lakian kepada anak laki-laki.
“Keberkahan pengasuhan. Ada tiga hal yang harus diperhatikan, bagaimana prinsip pengasuhan? Pola pengasuhan, dan roadmap pengasuhan? Apakah di rumah sudah berlaku ini?” ungkap Ayah Irwan.
(jqf)