LANGIT7.ID - , Jakarta - Setiap manusia tentu pernah merasakan
rasa cinta, baik pada lawan jenis, keluarga, lingkungan atau lainnya. Namun, banyak yang berpandangan rasa cinta hanya terbatas pada kisah
laki-laki dan
perempuan saja.
Pada lawan jenis perwujudan cinta berbentuk pada sebuah hubungan asmara atau istilahnya
berpacaran. Padahal dalam Islam tidak ada istilah pacaran.
Founder Yuk Nikah Syar'i, Ustaz Luky B Rouf mengatakan meski cinta adalah naluri alami dari manusia, namun hal itu ditahan atau dialihkan.
Baca juga: Edukasi Seks dalam Islam Harus Tumbuhkan Cinta Anak pada Allah"Misal seseorang itu jatuh cinta, itu tidak otomatis harus diwujudkan, tetapi bisa dialihkan. Karena perwujudan cinta itu ternyata tidak sesempit pandangan kita selama ini," ujar Ustaz Luky dalam kajian Ketika Cinta Dalam Diam, Selasa (10/1/2022).
Menurut Ustaz Luky, banyak yang mengartikan cinta secara sempit, yaitu hubungan pacaran tadi. Padahal, sejatinya cinta bermakna luas, bisa pada orang tua atau sesama muslim lain.
"Jadi cinta bisa dialihkan. Karena bisa dialihkan maka jangan kita mewujudkan cinta yang salah. Cari pelampiasan atau perwujudan cinta yang kemudian dibenarkan atau dibolehkan. Apa itu? Nah ini yang harus kita cari tahu," katanya.
Rasulullah SAW bersabda,
"Tholabul ‘ilmi faridhotun ‘alaa kulli muslimin wal muslimat minal mahdi ilal lahdi."Artinya, "Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim dan muslimah sejak dari ayunan hingga liang lahat." (H.R. Ibnu Majah №224 dari Anas bin Malik R.A. di shahikan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah: 183 dan Shahihut Targhib: 72).
Baca juga: Cara Didik Anak Cinta Al-Qur'an Berdasarkan Usia"Maka rasul ketika menyampaikan tholabul ilmi, itu perlunya di situ. Supaya kita tahu mana yang benar dan salah. Sama dengan perwujudan cinta, manusia diberikan oleh Allah SWT naluri, kebutuhan jasmani, tetapi kelak ketika perwujudannya itu butuh ilmu," ucap Founder Jodoh Fi Sabilillah itu.
Ustaz Luky berpendapat mengikuti kajian merupakan salah satu bentuk tholabul ilmi agar umat muslim tahu mana yang benar dan salah.
"Buat apa? Buat nanti ketika di yaumul akhir ketika bertemu dengan Allah SWT kita bisa mempertanggungjawabkan," tuturnya.
Karenanya, cinta memang fitrah tetapi tidak harus diwujudkan kepada lawan jenis melainkan bisa dialihkan.
"Jangan terus-terusan naluri cinta itu kemudian dirangsangnya pada naluri kepada lawan jenis. Kalau kita seringnya nonton film romantis maka arahnya akan ke situ," imbuh Ustaz Luky.
Baca juga: Gus Baha: Cinta Kiai Tak Cuma Sowan, Harus Dibuktikan dengan Mengaji"Maka stimulusnya dan pengalihannya penting, sehingga apakah cinta harus diwujudkan? Diwujudkan, tetapi tidak harus dengan pacaran. Atau kalau sebagai seorang muslim garis besarnya adalah tidak harus dengan cara yang salah. Bisa dengan cara yang benar," cetusnya.
(est)