LANGIT7.ID, Sragen - Masjid Raya Al-Falah Sragen jadi perbincangan publik karena memiliki program-program yang unik dan jor-joran melayani jemaah. Masjid yang terletak di Jl. Raya Sukowati, Kuwungsari, Sragen, Jawa Tengah itu sering disebut sebagai adik dari Masjid Jogokariyan di Yogyakarta.
Pengurus Masjid Al-Falah belajar manajemen masjid dari Ketua Dewan Syuro Masjid Jogokariyan, Ustadz Muhammad Jazir. Program-program Masjid Jogokariyan lalu diadopsi, lalu dimodifikasi. Hal itu sukses dilakukan. Masjid Al-Falah berhasil menjadi salah satu masjid percontohan nasional.
Siapapun yang berkunjung ke masjid ini maka akan menemukan keramaian para jemaah. Tidak hanya jemaah shalat, para musafir yang tengah dalam perjalanan jauh pun dipersilahkan untuk istirahat di masjid tersebut. Masjid selalu terbuka 24 jam.
Baca Juga: Gus Baha: Banyak Masjid Megah tapi Sepi Jemaah, Pertanda Kiamat
Anak-anak yang bermain di masjid pun tidak ditegur dengan kasar. Mereka dibiarkan menikmati fasilitas masjid yang telah disediakan. Bagi pengurus Masjid Al-Falah, masjid adalah rumah umat.
Program paling banyak disorot adalah ‘hotel kapsul’. Mereka mempersilahkan para musafir, baik yang shalat maupun yang tidak untuk menginap di masjid. Di sini para musafir diperlakukan bak tamu hotel.
Diizinkan bermalam, disediakan kasur busa, dan diberi makan pula. Semuanya fasilitas itu gratis. Ada 55 buah Kasur. Bahkan, ada beberapa yang berbentuk ala hotel kapsul. Hotel kapsul itu terbuat dari harplek setebal 2 cm berbentuk kotak dengan panjang 2 meter.
Keamanan dan kebersihan masjid pun terjamin. Setiap malam ada satu petugas kebersihan yang bertugas untuk merapikan kasur dan hotel kapsul. Keamanan dijaga petugas keamanan dengan shift siang dan malam, serta ada bantuan kamera CCTV.
Baca Juga: Sekjen DMI: Masjid Harus Inklusif, Bukan Tempat Gesekan Antargolongan
Selain itu, Masjid Al-Falah seolah ‘tak mau kalah’ dengan Masjid Jogokariyan Jogja. Kalau Masjid Jogokariyan memiliki prinsip menghabiskan kasnya untuk umat hingga nol rupiah, maka Masjid Al-Falah lebih ekstrim lagi. Mereka membuat kasnya tidak hanya nol, tapi juga berani minus.
Pengurus Masjid Al Falah terinspirasi dari masjid di Mekkah dan Madinah yang selalu memperhatikan jemaah. Para jemaah tidak boleh kelaparan. Untuk itu, Masjid Al-Falah juga meluncurkan warung makan rakyat. Warung ini selalu menyediakan makanan gratis untuk jemaah dan semua musafir setelah shalat dzuhur, kecuali Senin dan Kamis.
Setiap Senin dan Kamis makanan disediakan setelah shalat maghrib untuk buka puasa. Dalam sebulan, Masjid Al-Falah menghabiskan sekitar 2,5 ton beras dan uang sekitar Rp60 juta untuk konsumsi para jemaah.
Baca Juga: Buya Yahya Kecam Jemaah Terlambat ke Masjid saat Salat Jumat
Masjid Al-Falah selalu berusaha mengamalkan prinsip rahmatan lil-alamin. Ini bisa dilihat dari kegiatan-kegiatan Masjid Al-Falah. Misalnya, setiap Jumat pagi dan Ahad pagi rutin mengadakan Pasar Sayur Bahagia. Warga sekitar yang datang ke masjid diberi ragam sayur untuk memasak di rumah.
Para PKL di sekitar masjid pun diberdayakan dan dibantu. Para jemaah yang kehilangan barang di masjid, akan diganti dengan harga yang setara. Jemaah yang paling rajin shalat subuh diberi hadiah motor. Bahkan, mereka juga siap membantu warga sekitar yang terkendala dalam mengadakan pernikahan.
Uniknya, saat pengurus masjid jor-joran dalam membantu warga sekitar, alam semesta seolah ikut mendukung. Sebelum 2016, dana infaq yang terkumpul hanya sekitar Rp15 juta per bulan. Namun, sekarang setelah mengadopsi saldo nol rupiah, tiap bulan Masjid Al Falah bisa mengumpulkan lebih dari Rp100 juta.
(jqf)