LANGIT7.ID, Jakarta - Khadim Madrasah An-Nuriyah di Kairo Mesir, Syekh Ahmad Mustafa, mengupas empat intisari kandungan Al-Qur'an atau Maqasidul
Qur'an. Hal itu disampaikan saat menjadi narasumber Seminar Internasional yang digelar FSH UIN Alauddin Makassar bekerjasama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan.
Empat Maqasidul Qur'an itu adalah tauhid, kematian, kebangkitan, dan keadilan atau
al-‘adallah. Empat konsep ini menjadi hal penting dalam Al Qur'an. Maqasid Qur’an itu bisa dilihat dari lembaran Al Qur’an yang dimulai dari surah yang ada di dalamnya.
Kemudian, melihat jumlah ayat yang ada dalam Al-Qur’an bahkan titik dan huruf Qur’an. Semua itu adalah maqasid. Maka itu, ajaran utama pada Al-Qur’an ada pada seluruh rangkaian dari Al-Qur'an itu sendiri.
Baca Juga: Jaga Kesehatan Mental Sesuai Al-Qur'an dan Hadis: Kembalikan Urusan pada AllahDalam Al-Qur’an ada istilah kulliyat dan misliyat. Al-Qur’an juga diibarkan sebuah ranting. Ranting itu tidak dianggap cukup jika hanya disebut sebagian saja. Tetapi, di balik ranting itu ada biji-bijian. Biji-bijian ini yang akan kembali menjadi pohon.
“Jadi Al Qur’an itu diibaratkan sebagai sebuah pohon yang memiliki ranting dan biji-bijian atau buah, dan buah itu pulalah yang akan menjadi pohon kembali,” kata Syekh Ahmad Mustafa, dikutip laman resmi MUI, diktuip Selasa (14/2/2023).
Selain itu, Al Qur’an juga memiliki maqasid-maqasid tersebut, terkhusus terhadap
Al Muhasabatu Aladdin. Hal itu dapat dijelaskan dengan memelihara akal, memelihara hati, dan memelihara jiwa.
Baca Juga: Legislator: Perlu Kehati-hatian Respons Kasus Pembakaran Al-Qur'an“Jika semua hal itu dapat terpelihara dengan baik, maka itulah maqasid Qur’an,” kata Syekh Ahmad Mustafa.
Sementara, Sekretaris Umum MUI Sulsel, Ustaz Prof Muammar Bakry, mengatakan, konsep maqasid ibarat seperti konsep berjihad. Jika seseorang yang terdesak dan dipaksa berkata kufur, maka dia bisa mengucapkan kata kufur tersebut. Dengan catatan hati tetap
mutmainnah bil iman atau tenang dengan keimanan
.Hal itu karena jiwa lebih utama berada di posisi daruriyah. Sementara, agama untuk kepentingan
lifzi. Namun, saat agama dan jiwa sama-sama dalam posisi daruriyah, maka akan kembali kepada agama yang lebih diutamakan.
Baca Juga: Gus Muhaimin Minta Umat Islam Tak Terprovokasi Kasus Pembakaran Al-Quran“Diwajibkan kita berjihad atau berperang untuk kepentingan agama, sekalipun mungkin jiwa kita akan korban, oleh karena kepentingan agama hauh lebih utama daripada kepentingan jiwa. Allah ingin melakukan ihsan kepada manusia di hari akhirat,” kata Ustaz Muammar saat mencontohkan makna maqasid.
(jqf)