Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 18 April 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Waspadai 2 Masalah Psikologis Santri di Pondok Pesantren

Muhajirin Kamis, 16 Februari 2023 - 13:52 WIB
Waspadai 2 Masalah Psikologis Santri di Pondok Pesantren
ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
LANGIT7.ID, Jakarta - Trainer Griya Parenting Indonesia, Bunda Ani Christina, mwngimbau orang tua mewaspasai dua masalah psikologis yang bisa dialami santri di pondok pesantren yakni psikosomatis dan self harm.

Fenomena psikomatis mencakup keluhan fisik yang sebenarnya dipicu masalah psikologis. Sementara, self harm adalah perilaku menyakiti diri sendiri saat sedang mengalami masalah emosional.

Kedua fenomena ini sering terjadi di kalangan santri di pondok pesantren dan membutuhkan penanganan yang tepat. Itu agar tidak berdampak buruk pada kesehatan mental mereka.

Baca Juga: Alasan Psikologis Santri Kerap Kabur dari Pondok Pesantren

1. Fenomena Psikosomatis

Fenomena psikosomatis di pesantren merupakan masalah yang perlu mendapat perhatian serius dari semua pihak terkait. Dengan peran aktif pengajar dan orang tua, diharapkan santri dapat merasa lebih nyaman dan aman di pesantren sehingga bisa berkembang secara optimal.

Dia menceritakan, fenomena psikosomatis sering ditemukan di unit kesehatan pesantren. Sebanyak 50% santri yang datang ke unit kesehatan mengalami masalah mental meski ditunjukkan dengan gejala fisik seperti sakit kepala dan sakit perut.

“Awalnya, gejala-gejala fisik. Kami pernah menangani santri yang selalu sakit mag menjelang magrib. Usut punya usut, dia teringat rumahnya pada masa-masa itu. Ternyata pula saat dikomunikasikan, bahwa orangtua selalu teringat anaknya di pesantren sampai menangis,” ujar Bunda Ani dalam webinar yang digelar Griya Parenting Indonesia, dikutip Rabu (15/2/2023).

Baca Juga: Santri Nakal, Adakah Kaitan dengan Kesehatan Mental?

Maka itu, bukan hanya masalah fisik yang harus diatasi, namun juga masalah psikologis santri. Penyakit fisik hanya masalah jangka pendek yang bisa disembuhkan dengan obat-obatan.

Namun perlu ada penanganan jangka panjang berupa penanganan psikologis. Menangani masalah psikologis santri adalah hal penting dan jangka panjang yang harus diselesaikan.

Para pihak terkait harus lebih peka terhadap perubahan perilaku santri. Jika santri mengalami perubahan perilaku yang signifikan, seperti sering merasa sedih atau murung, pengasuh harus segera bertindak untuk membantu santri menyelesaikan masalah psikologisnya.

Baca Juga: Ponpes Al-Kahfi Somalangu, Pesantren Tertua di Indonesia yang Masih Eksis

“Jadinya, yang kita sembuhkan bukan hanya maagnya. Mungkin obat maag hanya menyembuhkan dalam jangka pendek, tetapi yang harus ditangani adalah psikologis anak. Hal ini secara jangka panjang yang harus diselesaikan,” ujar Bunda Ani.

2. Self Harm

Fenomena self-harm atau menyakiti diri sendiri kini semakin banyak terjadi di kalangan anak-anak pesantren. Banyak dari mereka yang merasakan tekanan, sehingga mencari cara untuk mengurasi rasa sakit emosional dengan cara yang salah, yakni dengan menyakiti diri sendiri.

Dalam beberapa tahun, Bunda Ani mengaku mendapati kasus self-harm di kalangan santri. Fenomena itu bisa terjadi pada santri yang baru masuk masuk pesantren atau yang sudah lama tinggal di sana.

Baca Juga: Nurul Jadid, Ponpes yang Punya Lembaga Ujian Kemampuan Bahasa Mandarin

Beberapa kasus self-harm yang paling umum terjadi adalah merusak kuku, membentur-benturkan kepala, bahkan menggunakan senjata tajam untuk melukai diri sendiri. Ini menunjukkan santri memerlukan bantuan dan perhatian yang lebih dalam mengatasi masalah kesehatan mental mereka.

“Kasus paling Parah yang pernah saya tangani itu, ada anak yang menyakiti dirinya sendiri menggunakan senjata tajam,” ujar Bunda Ani.

Orang tua dan pengasuh harus mengambil tindakan cepat dan tepat ketika mengetahui anak mengalami self harm. Sebelum itu terjadi, perlu dilakukan pengamatan pada perilaku anak. Apakah anak terlihat sering murung, menarik diri dari pergaulan, atau menunjukkan tanda-tanda depresi dan kecemasan.

Baca Juga: Peneliti Jerman Kagumi Sistem Pendidikan Pondok Pesantren

Jika hal itu terjadi, maka perlu pendampingan dan konseling secara intensif. Dalam hal ini, pesantren harus lebih proaktif dalam menangani masalah tersebut dengan cara meningkatkan fasilitas kesehatan mental di dalam lingkup pesantren.

“Kita sering kecolongan. Sudah ada kejadian, baru tahu dan bingung harus berbuat apa. Kurangnya layanan psikologis di pesantren membuat fenomena ini tidak ditangani sebagaimana mestinya,” ujar Bunda Ani.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 18 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)