LANGIT7.ID - - Setiap tanggal 8 Maret masyarakat dunia memperingatinya sebagai
Hari Perempuan Internasional. Hari ini ditetapkan untuk merayakan pencapaian sosial, ekonomi, budaya, dan politik perempuan.
Perayaan tahun 2023 mengangkat tema DigitALL: Inovasi dan teknologi untuk
kesetaraan gender.
Dalam Islam, wanita memiliki hak dan tanggung jawab yang sama dengan pria dalam semua aspek kehidupan. Kaum perempuan berhak mendapat pencapaian di bidang pendidikan, pekerjaan, dan
kegiatan keagamaan.
Baca juga: Tips Jadi Istri Idaman Seperti Khadijah, Penyejuk Hati SuamiSalah satu contoh kemandirian wanita dalam Islam adalah kisah hidup
Khadijah binti Khuwailid, istri pertama Nabi Muhammad SAW. Khadijah adalah seorang pedagang yang sukses dan memiliki pengaruh besar di Mekkah pada masa itu.
Ia membangun bisnis dengan kecerdasannya sendiri dan menghasilkan keuntungan yang besar dari perdagangan kain, rempah-rempah, dan barang-barang lainnya. Khadijah juga memberikan bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan dan membuka lapangan pekerjaan.
Ummul Mukmin Khadijah adalah seorang perempuan agung yang merupakan simbol kesucian, kehormatan, dan ketakwaan dalam dunia Islam. Dialah orang yang kali pertama mengimani ajaran Islam yang dibawa oleh
Rasulullah, suaminya.
Kisah Sayyidah Khadijah mengandung pelajaran bahwa perempuan berhak mengembangkan keterampilan mereka dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan ekonomi.
Baca juga: Kisah: Tatkala Cinta Muhammad SAW Bertepuk Sebelah TanganIni memberikan perempuan kesempatan untuk menjadi mandiri secara finansial dan mengambil keputusan tentang penggunaan dan pengelolaan harta mereka.
Dikutip Buku Perempuan yang Menggetarkan Surga, Khadijah lahir pada 68 tahun sebelum Hijriah, 15 tahun sebelum Tahun Gajah, atau 15 tahun sebelum kelahiran Nabi Muhammad di Kota Mekkah. Ummul Mukmin berasal dari keluarga yang terpandang.
Ia hidup dalam suasana yang terpuji dan nasab yang mulia, sama seperti Rasulullah. Khadijah memiliki nama lengkap Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin ‘Abdul ‘Uzza bin Qushay Al-Quraisyiyah Al-Asadiyah r.a.
Khuwailid bin Asad, ayahnya, adalah seorang tokoh pembesar Quraisy yang terkenal kaya dan dermawan. Ayahnya bekerja sebagai seorang pebisnis yang memperdagangkan barang ke Syam, Mesir, dan Yaman.
Sejak kecil, Khadijah belajar bisnis dari ayahnya dan tumbuh menjadi seorang pedagang yang terampil. Ia kemudian menikahi sepupu jauhnya, Nabi Muhammad SAW, yang saat itu juga menjadi mitra bisnis dagangnya.
Baca juga: Sejarah Bulan Safar, Momen Pernikahan Rasulullah dengan KhadijahKhoirul Amru Harahap dalam bukunya Rahasia Sukses Bisnis Khadijah Istri Nabi SAW mengatakan, kesuksesan Khadijah adalah pandai mengelola modal, baik materi maupun nonmateri. Dalam mengelola modal, Khadijah menanamnya dalam bentuk investasi yang produktif.
Sehingga investasi dalam usaha perdagangan yang dilakukannya mengalami pertumbuhan yang pesat. Sedangkan modal non materi yang dimiliki adalah jiwa kewirausahaannya yang tinggi.
Khadijah mampu mengelola usahanya dengan ulet dan mampu memilih SDM yang direkrut sebagai pegawai dalam usahanya dan memilih mitra dagang dengan tepat. Salah satunya adalah ketika ia cermat melihat karakter Rasulullah.
Setelah menikah, Khadijah terus mengembangkan bisnisnya dan memperluas jaringannya hingga ke berbagai wilayah di Timur Tengah. Ia juga memiliki karyawan yang bekerja untuknya dan menghasilkan keuntungan yang besar dari perdagangan kain, rempah-rempah, dan barang-barang lainnya.
Baca juga: Tips Sukses Berbisnis dari Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid(est)