LANGIT7.ID - , Jakarta -
Peradaban Islam pernah menjadi pusat wacana keilmuan. Namun saat ini,
umat Islam berada dalam posisi yang memprihatinkan. Keilmuan umat Islam pun semakin melemah.
Ketua PCIM Amerika Serikat Muhammad Rofiq Muzakkir menyebut setidaknya ada lima kelemahan kesarjanaan Islam kontemporer. Rofiq mengutip paparan dari Jasser Auda dalam buku yang berjudul
Re-envisioning Islamic Scholarship: Maqasid Methodology as a New Approach.Baca juga: Din Syamsuddin: Perilaku Berkemajuan Jalan kebangkitan Peradaban IslamBerikut lima kelemahan kesarjanaan Islam kontemporer:
1. Penggunaan Taqlid
Rofiq mengeritik penggunaan imitasi atau
taqlid oleh para sarjana Islam kontemporer. Imitasi ini membuat para sarjana tidak berani berbeda pendapat dengan para pendahulu dan tidak memperhatikan etika perbedaan pendapat.
Hal itu juga menyebabkan kesarjanaan Islam kontemporer mengabaikan normativitas wahyu sebagai kriteria kebenaran ilmu, serta kehilangan paradigma kritis terhadap
sejarah Islam.
2. Terjebak dalam Tajz'i
Para sarjana Islam kontemporer terlalu terjebak dalam parsialisme atau
tajz'i, yaitu batasan keilmuan yang terlalu sempit dan over-specialisme. Mereka terlalu fokus pada satu bidang keilmuan saja, sehingga tidak mampu melihat krisis secara holistik.
Hal ini juga diperparah oleh budaya digital yang membuat mereka hanya terfokus pada informasi yang terfragmentasi dan terlalu disederhanakan.
“Fenomena ini mengurangi rentang fokus pada suatu gagasan dan pemikiran. Akibatnya, banyak remaja muslim yang tidak mampu membaca buku yang berbobot dengan intensitas waktu yang lebih panjang,” kata Rofiq di laman Muhammadiyah, Kamis (16/3/2023).
Baca juga: Refleksi Isra Miraj, Kejayaan Peradaban Islam Harus Dikembalikan
3. Ada Kecenderungan Tabrir
Terdapat kecenderungan
apologisme atau
tabrir pada para sarjana Islam kontemporer. Mereka memang meyakini bahwa Islam memiliki pandangan hidup yang komprehensif, tetapi terkadang hanya menampilkan ketundukan pada realitas kontemporer tanpa visi Islami yang kuat.
“Hal itu mengakibatkan mereka hanya memberikan sentuhan Islami pada bagian permukaan dan tidak subtansial,” kata Rofiq.
4. Sering Gunakan Sumber Pengetahuan Kontradiktif
Para sarjana Islam kontemporer seringkali menggunakan sumber-sumber pengetahuan yang kontradiktif. Mereka menggabugkan sumber-sumber pengetahuan yang berasal dari pandangan dunia yang berbeda atau
epistemological schizophrenia.“Hal itu membuat mereka sulit untuk mencapai pemahaman yang holistik dan konsisten,” tutur Rofiq.
Baca juga: Wapres Dukung Pembangunan Pusat Pendidikan di Titik Nol Peradaban Islam Nusantara
5. Cenderung Tafkik pada Disiplin Ilmu Islam Kontemporer
Rofiq mengeritik kecenderungan dekonstruksionisme atau tafkik pada disiplin ilmu Islam kontemporer.
Dekonstruksionisme lebih banyak didasarkan pada cara pandang
post-modernisme, yang mengembangkan pemikiran anti-otoritas dan kemapanan.
“Hal ini membuat proyek filosofis dekonstruksionis mengarah pada delegitimasi dan desentralisasi, bahkan hingga menghilangkan otoritas Firman Tuhan itu sendiri,” ujar Rofiq.
Untuk mengatas kelemahan itu, Rofiq mengajak sarjana Islam kontemporer untuk kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber ilmu pengetahuan tertinggi.
Ketiadaan rujukan langsung kepada Al-Qur’an dan Sunnah yang dilakukan sebagian besar sarjana Islam kontemporer sebagai standar dan dasar kritik adalah hal yang ironis.
Baca juga: KH Said Aqil Siradj: Islam Berpeluang Besar Bangkit dari Indonesia“Dengan memposisikan karya-karya intelektual Islam terdahulu sebagai partner diskusi, para sarjana dapat menghidupkan kembali tradisi intelektual Islam dengan memposisikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber ilmu pengetahuan tertinggi,” tutur Rofiq.
(est)