LANGIT7.ID, Jakarta- -
Imam Besar Masjid Al-Markaz Al-Islamy Makassar, KH Muammar Muhammad Bakry, menjelaskan, tidak ada satu pun perintah dalam Islam yang memberatkan manusia. Bahkan, dalam keadaan tertentu sebuah perintah bisa dikondisikan sebagai bentuk keringanan dalam menjalankan agama, seperti qashar dalam shalat.
Allah Ta’ala berpesan kepada hamba-Nya dalam Surah Al-Balad ayat 17 untuk saling mencintai dan menyayangi. “Maka, dia juga termasuk orang-orang yang beriman dan saling menasihati untuk bersabar dan saling menasihati.”
Maka itu, Rasulullah SAW juga berpesan agar umat Islam menyebarkan cinta kasih tidak hanya kepada manusia tetapi kepada seluruh makhluk.
“Orang yang menebar cinta, akan dicintai oleh Yang Maha Penyayang, cintailah penduduk bumi dan penduduk langit akan mencintaimu”. (HR.Abu Dawud)
Untuk mewujudkan cinta, Islam memerintahkan untuk berteman. Pemilihan dua kata “silatu” dan “rahim” dalam kata majemuk untuk sebuah makna yang sarat dengan hubungan cinta. Betapa mulianya istilah itu, meminjam nama indah Allah "arrahim".
Allah berfirman dalam sebuah hadits qudsi,
“Aku Arrahman, Aku menciptakan Rahmat dan mengambil dari pembagian nama-Ku, siapa yang berteman akan Aku jalin hubungan dengannya, siapa yang memutuskan persahabatan akan Aku putuskan hubungan dengannya.” (HR.Abu Daud).
Baca juga:
Bolehkan Bayar Zakat Fitrah Secara Digital?“Semuanya hanya karena rahmat Allah. Kita di bumi ini diundang dengan rahmat Allah, kita hidup di bumi ditemani oleh rahmat Allah, semoga kita meninggalkan bumi ini dengan rahmat Allah, dan inilah waktunya kami berharap dengan rahmat Allah kami menikmati kebahagiaan di akhirat,” kata KH Muammar saat menyampaikan Khutbah Jumat di Masjid Istiqlal.
KH Muammar menjelaskan, mencintai memang naluri dan fitrah makhluk terutama manusia. Mencintai orang lain sebenarnya adalah mencintai diri sendiri.
“Seperti seorang mukmin cinta itu seperti satu tubuh, jika yang satu tersakiti maka yang lain merasakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
“Seseorang tidak dapat dikatakan seorang muslim jika ia tidak dapat mendamaikan dan menyejukkan lingkungan di sekitarnya, ia tidak dapat dikatakan beriman jika ia tidak menjaga dan menenangkan selain dirinya, ia tidak dapat dikatakan mukmin, menjadi muhsin jika tidak mampu memperbaiki dan menjaga lingkungan di sekitarnya,” tutur KH Muammar.
Sumber dan pemilik rahmat adalah Huwarrahmanurrahim. Dua sifat yang mendominasi sifat-Nya. Dia adalah ar-Rahman yang tidak memihak kepada semua makhluk-Nya di muka bumi. Dia adalah ar-Rahim yang cinta-Nya di akhirat tidak terbatas.
Islam Sebagai Agama CintaIslam sebagai konsep ideal sebagai referensi agama cinta tidak diragukan lagi. Tidak ada celah untuk mengidentifikasi Islam sebagai agama kekerasan. Akan tetapi, mayoritas orang mengidentikkan Islam dengan pemeluknya.
“Sikap kita sebagai muslim taruhannya, siapa yang mencitrakan Islam dalam tontonan hidup adalah yang dijodohkan. Jangan biarkan diri kita sendiri yang mencederai Islam yang maha pengasih dan menggantinya dengan Islam yang murka,” tutur KH Muammar.
Maka itu, Allah menantang umat Islam untuk menjadi role model dengan dengan sikap netral atau ajaran agama Islam yang wasathiyah. Tantangan itu bisa dilihat dalam Surah al-Baqarah ayat 143:
“Demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan40) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Nabi Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu,..." (QS. Al-Baqarah: 143)
“Marilah kita menggores sebanyak mungkin contoh contoh kerahmatan dan kasih sayang dalam kehidupan kita, agar kita dapat menjadi cermin kepada yang lain,” ungkap KH Muammar. Rasulullah SAW bersabda:
“Tidaklah kelembutan itu ada pada sesuatu, kecuali akan menghiasinya. Dan tidaklah kelembutan itu hilang dari sesuatu, kecuali akan memperburuknya”. (HR. Abu Hurairah)
(ori)