LANGIT7.ID-, Jakarta- - Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah, Prof Yahya Zainul Ma'arif (Buya Yahya), menyebut
Muharram merupakan bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT dan dibedakan dengan bulan-bulan lain.
Ada keutamaan khusus pada bulan ini, sebagaimana sabda Rasulullah SAW sebaik-baik puasa setelah bulan Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram. Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ
"Sebaik-baik puasa setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah – Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163, dari Abu Hurairah).
"Jadi kalau ingin berpuasa di bulan Muharram bagus, karena telah disebutkan puasa yang utama setelah bulan Ramadhan, silakan berpuasa," kata Buya Yahya dalam kajian daring di Al Bahjah TV, Jumat (21/7/2023).
Baca juga:
Tahun Baru Hijriyah, Momen Perubahan Umat IslamMakna pada hadits tersebut adalah melaksanakan puasa secara umum dibolehkan di sepanjang bulan Muharram. Akan tetapi, ada hari istimewa untuk berpuasa pada bulan ini yakni tanggal 9 dan 10 Muharram.
"Akan tetapi di bulan Muharram ada hari istimewa yaitu tanggal 10 Muharram disebut Asyura, sabda Nabi SAW yang berharap umat muslim yang melaksanakan Puasa Asyura atau berpuasa di tanggal 10 Muharram akan diampuni dosa masa lalunya," urai Buya Yahya.
Puasa Asyura merupakan puasa yang dikhususkan hanya ada di bulan Muharram. Jika umat muslim ingin berpuasa sejak tanggal 1 dan seterusnya sah-sah saja dan justru sunnah dianjurkan. Perintah Puasa Asyura mulanya kegundahan dari para sahabat yang menyebutkan hari Asyura adalah hari yang diagungkan kaum yahudi dan nasrani untuk bersyukur atas selamatnya Nabi Musa AS.
Apabil tidak sempat berpuasa di tanggal 9 Muharram, maka selain puasa di 10 Muharram juga tambah di hari selanjutnya pada tanggal 11 Muharram supaya berbeda dengan umat Yahudi. Perbedaan yang ditonjolkan bukan untuk permusuhan melainkan untuk membentuk mental dan kebiasaan tidak meniru kaum lain di luar Islam.
"Nabi SAW merasa lebih berhak untuk Puasa Asyura, maka untuk membedakan dengan kaum lainnya Nabi SAW menganjurkan untuk juga puasa di hari sebelumnya yang disebut Puasa Tasu'a pada 9 Muharram," terang Buya Yahya.
Mengutip buku "Panduan Lengkap Puasa Wajib & Sunnah" karya Muhammad Ghazali, dalam satu riwayat Rasulullah SAW pernah bercita-cita untuk melakukan puasa sunnah sejak 9 Muharram. Dalam hadits, Rasulullah SAW bersabda:
"Kalau saya lanjut umur sampai tahun yang akan datang, niscaya saya akan berpuasa Tasu'a (9 Muharram)." (HR Muslim)
Ibnu Abbas berkata, Nabi Muhammad SAW datang ke Madinah. Dilihatnya orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Maka nabi bertanya, "Ada apa ini?" Jawab mereka, "Hari baik, saat Allah membebaskan Nabi Musa dan Bani Israil dari musuh mereka, hingga membuat Musa berpuasa karenanya."
Maka Nabi Muhammad SAW bersabda, "Saya lebih hormat terhadap Musa dari kamu." Lalu beliau berpuasa pada hari itu dan menyuruh orang untuk berpuasa.
Dalam riwayat lainnya diceritakan bahwa Abdullah Ibn Umar RA berkata, "Bahwa orang-orang jahiliyah dahulu selalu berpuasa pada hari ASyura. Dan bahwa Nabi Muhammad SAW dan kaum muslimin juga berpuasa pada hari itu sebelum diwajibkan puasa Ramadhan."

(ori)