LANGIT7.ID, Jakarta - Islam mengajarkan kepada pemeluknya wajib saling menghormati perbedaan demi menjaga persaudaraan antarummat atau akrab disapa
ukhuwah islamiyah. Pasalnya, membesar-besarkan perbedaan merupakan pangkal dari perpecahan yang ujungnya akan membuat ummat Islam mudah dipecah belah.
Hal tersebut senada dengan yang disampaikan Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), Profesor Dr Kiai Haji (KH)
Hamid Fahmi Zarkasyi. Menurutnya, rapuhnya ummat Islam di Tanah Air karena gagal membangun ukhuwah islamiyah yang paripurna.
Baca Juga: Anak Jembatan Menuju Surga, Childfree Perusak Pondasi BangsaPadahal, kata dia, sama-sama disadari bahwa perbedaan merupakan alat ataupun penyebab perpecahan. Sementara, Islam mewajibkan untuk berukhuwah Islamiyah, yang justru perintah tersebut kerap dilupakan ketika menghadapi perbedaan di tengah-tengah
ummat Islam.
"Kalau kita merasa muslim, kita mesti bermuhasabah dulu, apakah benar kita ini sudah mukmin? karena ada orang Islam yang keislamannya belum sampai pada keimanan," kata Prof Hamid dalam webinar yang digelar MIUMI, Kamis (2/9/2021) malam WIB.
Sementara, jika berbicara ukhuwah islamiyah, maka sama halnya berbicara tingkat keimanan seseorang. Hal tersebut ditegaskan dalam Surat Al-Ankabut ayat 2-3. Orang yang menyandang status berislam belum tentu sampai pada tingkat mukmin.
Hal tersebut, kata dia, yang perlu disadari terlebih dahulu. Mengingat, jika mendapati perbedaan di tengah ummat, perbedaan harus diletakkan pada pondasi keimanan agar tidak terjadi konflik. Orang yang beriman pasti tidak menghendaki perpecahan karena berpegang teguh untuk selalu menyayangi dan mencintai saudaranya.
Baca Juga: Ulama Turki Sebut Palestina Garis Merah Ummat Islam"Kalau masih tidak bisa berkhuwah dengan sesama mukmin, berarti ada masalah pada tingkat keimanan. Kita melihat atau mengembalikan problem sosial keummatan kita kepada Al-Qur’an," ujarnya.
Prof Hamid menyitir sebuah hadis yang menyebutkan, orang beriman laksana satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka yang lain turut merasakan dan peduli akan rasa sakit tersebut. Dari perspektif tersebut, kata dia, ukhuwah Islamiyah bisa diukur.
"Sekarang, apakah ummat merasa saat sekelompok ummat Islam disakiti orang lain? Kita peduli atau tidak. Itu adalah standar ukuran dari ukhuwah Islam," ungkapnya.
Maka, syarat utama memperat ukhuwah Islamiyah, yakni iman. Orang beriman pasti mengimplementasikan ukhuwah Islamiyah dalam kehidupan sehari-hari. Setiap perbedaan bisa dijembatani sehingga tidak menyebabkan konflik antarummat
Islam.
Baca Juga:
Tantangan Perguruan Tinggi Islam, Studi Keagamaan Kalah Pamor dari Ilmu Umum
Childfree Trending Topik, Bagaimana Pandangan Islam?(asf)