Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 15 Januari 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Nurcholish Madjid: Sunnah Tidak Terbatas Hanya pada Hadis

miftah yusufpati Jum'at, 30 Mei 2025 - 16:06 WIB
Nurcholish Madjid: Sunnah Tidak Terbatas Hanya pada Hadis
Prof Dr Nucholish Madjid. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Cendekiawan muslim, Prof Dr Nurcholish Madjid (1939 – 2005) atau populer dipanggil Cak Nur, mengatakan sunnah lebih luas daripada hadis, termasuk yang sahih. Berarti, sunnah tidak terbatas hanya pada hadis.

"Sekalipun pengertian ini cukup jelas, namun masih juga sering menimbulkan kekaburan," kata Cak Nur dalam buku berjudul "Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah" bab "Pergeseran Pengertian Sunnah ke Hadits, Implikasinya dalam Pengembangan Syariah".

Menurutnya, antara sunnah dan hadis memang terbentang garis kontinuitas yang tidak terputus. Namun, mencampuradukkan keduanya tidak dapat dibenarkan.

Cak Nur mengatakan jika disebutkan oleh Nabi bahwa sunnah merupakan pedoman kedua setelah Kitab Suci bagi kaum muslim dalam memahami agama, maka sesungguhnya Nabi hanya menyatakan sesuatu yang amat logis. Yaitu, dalam memahami agama dan melaksanakannya, orang Islam tentu pertama-tama harus melihat apa yang ada dalam Kitab Suci.

Kemudian, yang kedua, harus mencari contoh bagaimana Nabi sendiri memahami dan melaksanakannya. Sebab, Nabi-lah sebagai utusan Tuhan yang secara logis paling paham akan apa yang dipesankan Tuhan kepada manusia melalui beliau, dan juga yang paling tahu bagaimana melaksanakannya. Pengertian lain yang menyalahi hal itu mustahil dapat diterima.

Pemahaman Nabi terhadap pesan atau wahyu Allah, serta teladan beliau dalam melaksanakannya, membentuk "tradisi" atau sunnah kenabian (al-sunnah al-nabawiyyah).

Baca juga: Keutamaan dan Pahala Menjenguk Orang Sakit Berdasar Hadis Nabi Muhammad SAW

Sedangkan hadis merupakan bentuk reportase atau penuturan tentang apa yang disabdakan Nabi atau yang dijalankan dalam praktik tindakan orang lain yang "didiamkan" oleh beliau (yang dapat diartikan sebagai "pembenaran").

Itulah makna asal kata hadis, yang sekarang ini definisinya semakin luas dan komprehensif. Namun demikian, tidak berarti bahwa hadis dengan sendirinya mencakup seluruh sunnah.

Jika sunnah merupakan keseluruhan perilaku Nabi, maka kita dapat mengetahuinya dari sumber-sumber yang selama ini tidak dimasukkan sebagai hadis, seperti kitab-kitab sirah atau biografi Nabi. Sebab, dalam lingkup sunnah sebagai keseluruhan tingkah laku Nabi, harus dimasukkan pula corak dan ragam tindakan beliau, baik sebagai pribadi maupun sebagai pemimpin. Dalam kedudukan beliau sebagai pemimpin inilah kitab-kitab sirah banyak memberi gambaran.

Di antara kitab-kitab sirah, termasuk yang sangat awal ditulis, ialah Sirah Ibn Ishaq yang kemudian disunting oleh Ibn Hisyam (berturut-turut wafat pada tahun 151 dan 219 Hijriah). Meskipun wafat di Baghdad, Ibn Ishaq lahir di Madinah (pada tahun 85 H), dan tumbuh sebagai sarjana terkemuka di kota Nabi. Ia telah mengumpulkan bahan untuk kitab sirah-nya beberapa lama sebelum munculnya usaha-usaha pengumpulan hadis.

Sebelum Ibn Ishaq, telah muncul berbagai karya tulis tentang riwayat peperangan Nabi yang lazim disebut kitab-kitab al-Maghazi. Kitab-kitab itu, bersama dengan kitab-kitab biografi Nabi yang lain, amat penting karena memuat gambaran tentang perjalanan hidup Nabi, khususnya dalam kapasitas beliau sebagai pemimpin. Maka, kitab-kitab itu juga merupakan sumber yang baik untuk memahami sunnah, khususnya jika yang dimaksud bukan hanya tindakan-tindakan Nabi atau sabda beliau yang bersifat terpisah dan ad hoc seperti umumnya tema catatan hadis.

Baca juga: Hadis: Peliharalah Jenggot dan Cukurlah Kumis, Begini Penjelasannya

Dalam sejarah, terbukti bahwa pembacaan biografi Nabi, khususnya yang berkaitan dengan riwayat peperangan beliau yang dikenal sebagai al-Maghazi, berhasil membangkitkan semangat perjuangan Islam karena ilham teladan baik dari beliau.

Inilah “eksperimen” Sultan Shalah al-Din al-Ayyubi dalam menghadapi tentara Salib, yang ternyata berhasil gemilang. Dengan "eksperimen" itu, pemimpin Islam dari Mesir yang kemudian terkenal dengan sebutan "Sultan Saladin" mewariskan kepada umat Islam seluruh dunia tradisi Maulid, yaitu upacara memperingati kelahiran Nabi dengan membaca riwayat hidup beliau.

Sunnah Nabi harus pula dipahami sebagai keseluruhan kepribadian dan akhlak beliau. Dalam hal ini, beliau disebutkan dalam Kitab Suci sebagai teladan yang baik (uswah hasanah) bagi kita semua, yaitu "yang benar-benar berharap pada Allah dan Hari Kemudian, serta banyak ingat kepada Allah" (QS. Al-Ahzab [33]:32).

Beliau juga dilukiskan dalam Kitab Suci sebagai seorang yang berakhlak amat mulia (QS. Al-Qalam [68]:4). Dengan demikian, Nabi — dalam hal ini tingkah laku dan kepribadian beliau sebagai seorang yang berakhlak mulia — menjadi pedoman hidup kedua setelah Kitab Suci bagi seluruh kaum beriman.

Tetapi justru karena itu, memahami sunnah Nabi tidak dapat lepas dari memahami Kitab Suci itu sendiri. Sebab sesungguhnya, akhlak Nabi yang mulia itu tidak lain adalah semangat Kitab Suci Al-Qur’an itu sendiri, sebagaimana dilukiskan oleh Aisyah, istri beliau.

Dari Kitab Suci kita mengetahui lebih banyak perkembangan kepribadian Nabi yang menggambarkan pengalaman Nabi — baik yang menyenangkan maupun tidak — yang keseluruhannya menampilkan sosok Nabi yang berkepribadian mulia. Dari pengamatan atas gambaran itu, kita dapat memperoleh ilham tentang peneladanan kepada beliau. Keseluruhan sasaran peneladanan itu tidak lain adalah sunnah Nabi.

Baca juga: Ikut Forum Kerajaan Saudi, Menag Ungkap Rencana Bangun Museum Haji dan Museum Hadis

Sebagai contoh, dua surah yang termasuk paling banyak dibaca dalam salat dapat kita renungkan maknanya di sini QS. Ad-Dhuha (93):1–11:

"Demi waktu duha (pagi) dan demi malam ketika telah sunyi. Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak pula membencimu. Sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan. Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu engkau menjadi puas. Bukankah Dia mendapatimu sebagai anak yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Dia mendapatimu sebagai orang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai orang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta janganlah engkau menghardiknya. Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau menyebut-nyebutnya."

QS. Al-Insyirah (94):1–8: "Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (Muhammad)? Dan Kami telah menghilangkan bebanmu darimu, yang memberatkan punggungmu. Dan Kami tinggikan sebutan (nama)mu bagimu. Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain). Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap."

Para ahli hampir semuanya sepakat bahwa Surah Ad-Dhuha turun kepada Nabi berkenaan dengan peristiwa terputusnya wahyu yang relatif panjang, sehingga menimbulkan ejekan dan sinisme kaum musyrik Makkah bahwa Tuhan telah meninggalkan Nabi dan murka kepadanya.

Dari latar belakang turunnya, surah ini juga menggambarkan suatu dinamika pengalaman Nabi dalam perjuangan beliau, sehingga seperti dikatakan Sayyid Quthub, Allah menghibur beliau dan memberinya dorongan moral bahwa Allah sama sekali tidak meninggalkan beliau dan tidak pula murka.

Baca juga: Keutamaan dan Pahala Menjenguk Orang Sakit Berdasar Hadis Nabi Muhammad SAW

Dimensi Dinamis Sunnah Nabi dalam Al-Qur’an

Allah juga mengingatkan Nabi bahwa masa mendatang lebih penting daripada masa sekarang. Dalam terjemahan kontemporernya, Allah mengingatkan Nabi bahwa perjuangan jangka panjang yang bersifat strategis lebih penting daripada pengalaman jangka pendek yang bersifat taktis.

Oleh karena itu, hendaknya Nabi tidak putus asa atau kecil hati oleh pengalaman kekecewaan jangka pendek. Sebab, perjuangan besar selalu memerlukan waktu untuk mencapai hasil, dan semakin besar nilai suatu perjuangan, semakin panjang pula dimensi waktu yang diperlukannya. Dalam jangka panjang itulah, selama perjuangan diteruskan dengan penuh kesabaran dan harapan, Allah menjanjikan kemenangan yang akan membuat beliau puas dan lega. (Janji Tuhan ini terbukti dan terlaksana kemudian, berupa kemenangan demi kemenangan yang diraih Nabi setelah hijrah ke Madinah. Beliau pun wafat dalam keadaan menang dan sukses luar biasa).

Serentak dengan itu semua, Allah juga mengingatkan masa lalu Nabi yang penuh kesusahan, seperti keadaan beliau yang yatim piatu, bingung tentang apa yang hendak dilakukan, dan miskin. Allah menunjukkan kasih-Nya kepada beliau dengan memberikan kemampuan untuk mengatasi segala kesusahan itu. Berdasarkan latar belakang tersebut, Allah berpesan agar Nabi tidak menghardik anak yatim, tidak membentak peminta-minta, dan selalu ingat dengan penuh syukur akan nikmat serta karunia Tuhan.

Berkenaan dengan Surah Al-Syarh, para ahli mengatakan bahwa wahyu tersebut turun kepada Nabi masih dalam kaitannya dengan Surah Ad-Dhuha, bahkan merupakan kelanjutannya. Dalam surah ini, Allah menegaskan bagaimana Dia telah membuat Nabi sebagai seorang yang lapang dada (*munsyarih al-shadr*), dan menjadikan semua beban terasa ringan bagi beliau. Allah juga mengingatkan bahwa Dia telah mengangkat nama Nabi dan menjadikannya terhormat, berkat perjuangan dan kebajikan yang ditegakkannya.

Baca juga: Alam Barzakh: Kisah Nabi Muhammad Berbicara dengan Mayat Kafir yang Telah Dikubur

Kemudian, Allah menegaskan bahwa setiap kesulitan pasti disertai dengan kemudahan; bahwa amal usaha tentu mengandung kesulitan, namun hasil perjuangan itu di kemudian hari akan membawa kebahagiaan. Oleh karena itu, setiap kesempatan harus digunakan untuk kerja keras, sambil senantiasa mengarahkan diri kepada Allah dengan penuh harapan.

Seperti telah diutarakan, dari kedua surah pendek yang banyak dibaca dalam salat itu dapat disimpulkan gambaran dinamika kepribadian Nabi yang berkaitan dengan pengalaman hidup dan perjuangan beliau. Jika kita renungkan lebih mendalam, maka sesungguhnya dinamika pengalaman hidup Nabi tersebut bersifat universal—dalam arti, dapat terjadi dan dialami oleh siapa saja dari kalangan manusia yang memiliki tekad dan komitmen terhadap cita-cita luhur.

Oleh karena itu, sikap-sikap yang telah ditunjukkan oleh Nabi sebagaimana tersimpul dari kedua surah tersebut akan melengkapi kaum beriman dengan contoh nyata dalam menghadapi problema kehidupan. Dari situ kita memahami sebuah sunnah Nabi, dan dari situ pula kita mengerti suatu aspek makna firman Allah bahwa pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik (uswah hasanah) bagi kaum beriman.

Akhlak serta kepribadian yang menjadi sunnah Nabi, dan yang dapat disimpulkan dari kedua surah itu, antara lain adalah:

1. Sikap senantiasa berpengharapan kepada Allah
2. Kesadaran akan pentingnya perjuangan jangka panjang
3. Keyakinan terhadap kemenangan akhir
4. Ingat akan latar belakang diri di masa lalu dan bagaimana semua kesulitan dapat diatasi
5. Rasa kasih sayang kepada sesama manusia yang kurang beruntung
6. Senantiasa bersyukur kepada Allah atas segala nikmat dan karunia-Nya
7. Bersikap lapang dada
8. Memikul beban tanggung jawab dengan penuh kerelaan
9. Tidak kecil hati karena kesulitan, sebab yakin akan masa depan yang lebih baik
10. Menggunakan setiap waktu luang untuk kerja-kerja produktif
11. Tetap berorientasi kepada Allah, sebagai asal dan tujuan dari segala sesuatu

Baca juga: John L. Esposito: Apa yang Dibawa Nabi Muhammad Lebih dari Sekadar Sintesis

Firman Allah yang memberikan gambaran tentang dinamika kepribadian Nabi sebagai uswah hasanah dalam Al-Qur’an cukup banyak. Pengkajian terhadap ayat-ayat tersebut akan memberi gambaran yang utuh tentang siapa Nabi dan bagaimana garis besar sepak terjang beliau, baik sebagai pribadi maupun sebagai utusan Ilahi. Kita dapat mendeteksi dinamika kepribadian Nabi dari firman-firman yang ditujukan khusus kepada beliau, seperti yang diindikasikan oleh penggunaan kata ganti nama “engkau” dalam format dialog antara Tuhan dan Rasul-Nya.

Dengan demikian, sunnah Nabi—khususnya dalam segi-segi yang dinamis dan mendasar—dapat lebih banyak diketahui dari Kitab Suci daripada dari kumpulan kitab hadis. Meskipun banyak laporan dalam kitab-kitab hadis yang juga memberi gambaran tentang tingkah laku atau kepribadian Nabi, namun umumnya bersifat ad hoc, terkait erat dengan tuntutan khusus ruang dan waktu. Sementara itu, yang ada dalam Al-Qur’an, meskipun dituturkan dalam konteks ruang, waktu, atau pengalaman khusus Nabi, tetap menyimpan ajaran moral yang bersifat dinamis, sehingga mudah diangkat ke tingkat generalitas yang tinggi dan memiliki nilai universal.

Karena itu, sunnah Nabi sesungguhnya tidak terbatas hanya pada hadis, meskipun hadis (yang sahih) memang termasuk bagian dari sunnah.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 15 Januari 2026
Imsak
04:17
Shubuh
04:27
Dhuhur
12:05
Ashar
15:30
Maghrib
18:18
Isya
19:33
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan