LANGIT7.ID, Semarang - Mahasiswa nonmuslim dan asing yang ada di Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang dengan sukarela mengikuti mata kuliah Ahlusunnah Wal Jamaah.
Padahal kampus hanya mewajibkan bagi yang beragama Islam, akan tetapi non muslim, rupanya mengikuti kuliah.
Hal itu disampaikan oleh Rektor Unwahas Semarang Prof KH Mudzakir Ali, saat menjadi narasumber dalam sarasehan “Pemberdayaan Potensi Daerah dan Percepatan Moderasi Beragama untuk Indonesia Tangguh dan Tumbuh” yang digelar oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jawa Tengah di Aula IAIN Salatiga, Rabu (29/9).
“Mahasiswa nonmuslim dan asing yang mengambil mata kuliah Aswaja menilai mata kuliah ini sebagai ilmu yang perlu diketahui,” ujarnya di lansir NU Online Jateng.
Baca juga: Mahasiswa IPB Kembangkan Biodiesel dari Minyak Jelantah, Bantu Kesejahteraan Nelayan KecilMudzakir mengatakan, mahasiswa nonmuslim dan asing tersebut tertarik dengan aswaja yang diamalkan mayoritas umat Islam di Indonesia. Aswaja menginspirasi tumbuhnya semangat toleran, dan moderasi dalam beragama sehingga tercipta suasana damai, tenteram dan saling menghargai di tengah beragamnya perbedaan.
“Keragaman itu meliputi berbagai aspek, mulai dari suku, bangsa, bahasa dan keyakinan yang kalau kondisi itu tidak dimenej dengan baik menjadi sumber pemicu konflik yang sulit dikendalikan. Aswaja menginspirasi perbedaan menjadi sebuah kekuatan, bukan pertentangan,” ucapnya.
Termasuk juga terkait pernedaan agama yang dimenej dengan ilmu, menjadiupaya untuk membangun masyarakat kampus toleran tidak menemui hambatan. Upaya mewujudkan moderasi beragama dapat dijalankan dengan lancar.
Baca juga: Kisah Andani dan Andari, Saudara Kembar yang Tak Pernah Pisah Sekolah Sampai SarjanaKetua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jateng KH Taslim Syahlan menyampaikan, moderasi beragama bisa dibangun melalui komprehensifitas pemahaman pemeluk agamanya, partisipasi masyarakat dan dukungan pemerintah.
“Sarasehan ini bagian dari road show mobilisasi potensi lokal untuk menyangga percepatan moderasi beragama di Jateng,” katanya.
Sementara itu, perwakilan Kemenag Jateng Fajar Adi Nugroho yang hadir dalamsarasehan itu mengatakan kondusivitas masyarakat yang terwujud selama ini berkat tingginya partisipasi seluruh masyarakat Jateng, yang selalu merindukan suasana kondusif.
“Terutama dari kalangan para pemuka agama yang berperan aktif menggelorakan semagat membangun moderasi beragama, ini sejalan dengan prioritas Gus Menag,” kata Fajar.
(zul)