Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 04 Mei 2026
home masjid detail berita

Bangunan Batu, Jiwa yang Terlupa: Kritik Al-Qardhawi atas Umat yang Salah Menimbang Amal

miftah yusufpati Ahad, 15 Juni 2025 - 05:45 WIB
Bangunan Batu, Jiwa yang Terlupa: Kritik Al-Qardhawi atas Umat yang Salah Menimbang Amal
Kita sedang sibuk membangun batu, tapi lupa membentuk manusia. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di tengah gegap gempita pembangunan masjid megah dan perburuan pahala lewat ibadah sunnah, Syaikh Yusuf al-Qardhawi menyodorkan sebuah cermin retak untuk umat Islam: kita sedang sibuk membangun batu, tapi lupa membentuk manusia.

Dalam bukunya Fiqh Prioritas: Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah (Robbani Press, 1996), ulama asal Mesir itu menumpahkan keresahan panjang. Umat, kata al-Qardhawi, terjebak dalam kekacauan timbangan amal. Yang utama disingkirkan, yang sekunder diagung-agungkan. Mereka menyumbang miliaran rupiah untuk membangun masjid di kota yang masjidnya sudah berjajar. Tapi ketika diminta menyumbang untuk dakwah, pendidikan, atau menerbitkan buku-buku Islam, mereka mendadak tuli.

“Lebih percaya membangun batu ketimbang membangun manusia,” tulisnya tajam.

Tak hanya di bidang filantropi. Penyimpangan itu menjalar ke dimensi ibadah. Ribuan orang kaya rela menghabiskan biaya besar untuk haji berulang atau umrah Ramadhan. Padahal kewajiban haji hanya sekali. Sementara jutaan Muslim di Palestina, Bosnia, Bangladesh, dan Afrika menggigil dalam kekurangan. Dakwah kekurangan dai. Percetakan Islam kehabisan dana. Tapi umat lebih suka mengejar pahala privat ketimbang kewajiban kolektif.

Baca juga: Hukum Lukisan dan Ukiran Menurut Syaikh Al-Qardhawi

Yusuf al-Qardhawi menyebut semua ini sebagai akibat dari minimnya fiqh—pemahaman mendalam—dalam menimbang prioritas amal. “Mereka menyibukkan diri dengan perbuatan yang tidak kuat (marjuh) dan menganggapnya sebagai amalan yang kuat (rajih),” katanya. Bahkan yang ikhlas sekalipun, tanpa ilmu, bisa salah meletakkan skala amal.

Pernyataan al-Qardhawi bukan semata kritik sosial. Ia mendasarkan argumennya pada Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 19–21. Allah menegaskan bahwa memberi minum jamaah haji dan mengurus Masjidil Haram tidak sebanding dengan jihad dan perjuangan di jalan Allah. “Mereka tidak sama di sisi Allah,” tegas ayat itu.

Prioritas yang Tertukar

Bagi al-Qardhawi, penyakit umat ini terjadi karena “mata uang” amal tidak dipahami secara benar. Setiap amal memiliki “harga” dan nilai menurut syariat. Tapi ketika umat tidak memiliki “ilmu akuntansi akhirat”, mereka keliru menilai. Amal sunnah ditumpuk, sementara kewajiban sosial dan dakwah terbengkalai.

“Kita menyaksikan keikhlasan yang keliru arah,” tulisnya.

Situasi ini membuat agama tampak kehilangan ruh peradaban. Yang menonjol adalah ritualisme kosong dan simbolisme, bukan substansi. Agama kehilangan peran solutif karena terlalu sibuk pada formalisme ibadah dan abai pada perjuangan sosial-politik. Al-Qardhawi menggugat: bagaimana mungkin umat bisa bangkit jika dana terbesar justru lari ke hal-hal yang tidak mendesak?

Dalam lanskap dunia Islam hari ini, teguran ini terasa kian relevan. Lihat saja geliat umat saat membangun menara masjid 10 lantai, tapi mengabaikan kualitas guru ngaji. Lihat juga geliat haji plus, umrah tiga kali setahun, tapi sekolah-sekolah Islam kehabisan operasional. Tafsir fiqh prioritas menjadi cermin keras bagi umat: jangan sampai amal menjadi seperti kosmetik yang mempercantik wajah tapi menyembunyikan luka dalam.

Baca juga: Arak Dipakai untuk Berobat, Bolehkah? Begini Penjelasan Syaikh AL-Qardhawi

Kembali ke Ilmu

Solusi al-Qardhawi kembali pada ilmu. Bukan sekadar semangat, bukan hanya niat baik, tapi ilmu yang menimbang secara proporsional. Baginya, fiqh bukan hanya memahami halal-haram, tapi juga mengerti mana yang fardhu, mana yang sunnah; mana yang utama, mana yang sekunder; mana yang diperlukan umat sekarang, dan mana yang bisa ditunda.

Di sinilah pentingnya mencetak kader ulama yang tidak hanya saleh, tapi juga peka zaman. Dakwah yang tidak hanya memakmurkan mimbar, tapi juga menyusun strategi perubahan sosial. Fiqh prioritas adalah fiqh peradaban—memandang amal dari sudut urgensi dan dampak, bukan dari kebiasaan atau tradisi semata.

“Agama bisa hilang di tangan orang yang berlebihan dan orang yang kurang pengetahuan,” tulis al-Qardhawi. Dan kehilangan itu, kata dia, bukan karena kekurangan semangat. Tapi karena kekurangan arah.

Baca juga: Syaikh Al-Qardhawi Kritisi Pengikut Manhaj Salaf yang Justru Menyalahi ijtihad Mereka

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 04 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:13
Maghrib
17:49
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)