LANGIT7.ID-Di langit malam
Guatemala, sebuah kamera menangkap gambar Bulan yang seolah terbelah dua, dengan bayang-bayang awan membentuk cincin seperti planet Saturnus. Foto itu kemudian dibagikan oleh NASA melalui laman
Astronomy Picture of the Day.
“Bulan menunjukkan fase sabit kecil dengan sebagian besar permukaannya disinari cahaya bumi yang dipantulkan, dikenal sebagai earthshine, sehingga tampak Bulan terbelah dua,” demikian penjelasan NASA seperti dikutip The Sun, Selasa, 24 Maret 2020.
Fenomena itu memancing banyak tafsir. Dari Guatemala, para astronom menegaskan bahwa pemandangan itu hanyalah awan yang “diposisikan sempurna”. Namun bagi umat Islam, gambaran Bulan terbelah adalah gema mukjizat Rasulullah SAW lebih dari seribu tahun lalu.
Baca juga: Kiamat Tak Tiba-Tiba: Menanti Kedatangan Imam MahdiAl-Qur’an sendiri merekam peristiwa itu dengan gamblang:
اِقۡتَـرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الۡقَمَرُ“Saat (hari Kiamat) semakin dekat, bulan pun terbelah.” (Surah Al Qamar: 1)
Ayat ini turun saat kaum Quraisy menantang Nabi Muhammad untuk menunjukkan tanda kenabiannya. Ibnu Mas’ud meriwayatkan:
انْشَقَّ الْقَمَرُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فِرْقَتَيْنِ ، فِرْقَةً فَوْقَ الْجَبَلِ وَفِرْقَةً دُونَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « اشْهَدُوا “Bulan terbelah menjadi dua bagian pada zaman Rasulullah. Satu belahan di atas gunung, satu di bawah, lalu beliau berkata: Saksikanlah.” (HR. Bukhari no. 4864)
Hadis-hadis serupa juga diriwayatkan Anas bin Malik, Abdullah bin Umar, Ibnu Abbas, bahkan seluruh ahli tafsir menyebut peristiwa itu sebagai mukjizat nyata.
Baca juga: Kiamat Tak Lagi Rahasia: Ini Tanda-Tanda dari Langit dan Bumi Bahkan buku Miracles of Al-Qur’an & As-Sunnah yang mengutip pengalaman Dawud Musa Pidcock, mualaf asal Inggris, menyebutkan bahwa penemuan NASA pada 1978 tentang retakan panjang di Bulan ikut menguatkan dugaan bahwa ia pernah terbelah.
Dalam sebuah acara televisi, tiga ilmuwan luar angkasa Amerika menyebut biaya misi Apollo yang sangat besar terbayar oleh temuan “jejak” bahwa Bulan dahulu pernah terbelah lalu menyatu kembali.
Di sisi lain, para ilmuwan kontemporer seperti Tom Watters dari Smithsonian National Air and Space Museum juga mencatat adanya patahan lobate scarp, retakan panjang yang diduga akibat pengerutan kerak Bulan karena pendinginan material di dalamnya.
Namun bagi para sufi, mukjizat ini tak sekadar geologi. Dalam buku Sains dalam Al-Qur’an karya Nadiah Thayyarah, disebutkan pula petunjuk Al-Qur’an bahwa Bulan pernah bersinar, kemudian Allah memadamkannya:
وَجَعَلۡنَا الَّيۡلَ وَالنَّهَارَ اٰيَتَيۡنِ فَمَحَوۡنَاۤ اٰيَةَ الَّيۡلِ وَجَعَلۡنَاۤ اٰيَةَ النَّهَارِ مُبۡصِرَةً“Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang benderang.” (Q.S. Al-Isra’:12)
Baca juga: Kiamat yang Tak Melulu Menakutkan: Tafsir Spiritual yang Menghibur dan Menenangkan Maka foto Bulan terbelah yang muncul di Guatemala itu hanya mengulang sebuah simbol besar: manusia melihat, sebagian terpana oleh keindahan sains, sebagian lagi mengenang mukjizat yang sudah diabadikan kitab suci.
Seperti komentar Ibnul Jauzi dalam Zaadul Masiir, yang menegaskan bahwa kata kerja lampau انشقّ (terbelah) dalam ayat itu menunjukkan peristiwa yang sudah terjadi, bukan yang akan datang.
Di bumi, para astronom tersenyum karena awan dan cahaya bisa membentuk ilusi optik yang memukau. Di hati para mukmin, itu adalah pengingat bahwa di langit pernah terukir tanda-tanda besar kenabian.
Dan di antara dua tafsir itulah manusia berdiri, menyaksikan langit dengan dua mata: sains dan iman.
(mif)