Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 02 Mei 2026
home masjid detail berita

Bidah dalam Akidah: Antara Ijtihad dan Penyimpangan

miftah yusufpati Kamis, 11 September 2025 - 04:15 WIB
Bidah dalam Akidah: Antara Ijtihad dan Penyimpangan
Pada akhirnya, diskursus bidah dalam aqidah bukan sekadar soal hukum haram atau halal. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di sebuah majelis kajian malam Jumat, suasana hening ketika seorang ustaz menekankan pentingnya menjauhi bid’ah. Kata itu meluncur tegas dari bibirnya, seolah menjadi peringatan keras: jangan sampai ibadah yang diniatkan sebagai ketaatan justru menjelma kesesatan.

Istilah bid’ah memang bukan hal baru dalam wacana keislaman. Ia merujuk pada sesuatu yang diada-adakan dalam urusan agama—baik berupa keyakinan maupun praktik. Namun, berbeda dengan kemaksiatan biasa yang dilakukan dengan sadar menyalahi larangan, bid’ah justru kerap dipandang sebagai bentuk ibadah. “Inilah yang paling membahayakan,” tulis Syaikh Yusuf al-Qardhawi dalam Fiqh Prioritas (Robbani Press, 1996).

Bid’ah yang paling berbahaya, menurut Ibn Qayyim al-Jauziyyah, adalah bid’ah dalam aqidah (*al-bid’ah al-i’tiqadiyyah*). Ia lahir ketika seseorang berbicara tentang Allah tanpa dasar ilmu. Al-Qur’an memberi peringatan tegas:

“Katakanlah: Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa… serta mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui” (QS. al-A’raf: 33).

Praktik ini bisa berupa menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal tanpa dalil, atau merancang ritual ibadah yang tidak pernah diajarkan Nabi. Ibn Taimiyah bahkan menyebut, kawin-mawin antara bid’ah dan kekafiran melahirkan kerugian di dunia dan akhirat.

Baca juga: Kudeta dalam Timbangan Syariat: Dari Fikih hingga Tank di Jalanan

Antara Berat dan Ringan

Tentu tidak semua bid’ah berada dalam satu tingkatan. Al-Qardhawi membagi spektrum bid’ah dari yang berat hingga yang ringan. Bid’ah berat bisa menyeret pelakunya kepada kekufuran—misalnya kelompok ekstrem seperti Nushairiyah atau Ismailiyah yang dituding Imam Ghazali menolak secara lahiriah dan kufur secara batiniah.

Namun ada pula bid’ah yang “hanya” menjatuhkan pelakunya pada kefasikan dalam aqidah. Kelompok Khawarij misalnya, dikenal rajin shalat dan berpuasa, tapi dianggap sesat karena akal mereka menolak kebenaran. Nabi sendiri pernah bersabda bahwa ibadah para Khawarij membuat kaum Muslim lain merasa remeh dengan ibadahnya sendiri.

Di sisi lain, terdapat bid’ah ringan yang lahir dari kesalahan ijtihad atau keliru menggunakan dalil. Ini disamakan dengan dosa kecil. Bahkan sebagian perkara yang kerap diperdebatkan—seperti tawassul dengan Nabi atau orang saleh—oleh Imam Hasan al-Banna disebut sebagai masalah cabang (furu’iyah), bukan pokok aqidah.

Perbedaan pandangan inilah yang membuat bid’ah selalu menjadi wacana dinamis. Ada yang menganggap disiplin dalam ibadah sebagai bentuk bid’ah, ada pula yang menilainya sebagai bagian dari manajemen spiritual.

Tempo mencatat, dalam sejarah Islam, tuduhan bid’ah kerap berfungsi ganda: menjaga kemurnian ajaran sekaligus menjadi alat legitimasi kelompok. Bagi sebagian ulama, bid’ah memang lebih berbahaya daripada maksiat. Sebab, pelakunya tidak merasa perlu bertobat—bahkan mengajak orang lain untuk mengikuti jalan yang sama.

Baca juga: Wacana Hukuman Mati bagi Koruptor: Telaah Fikih dan Maqasid al-Syari’ah

Pada akhirnya, diskursus bid’ah dalam aqidah bukan sekadar soal hukum haram atau halal. Ia adalah refleksi pergulatan umat Islam dalam menjaga otentisitas ajaran di tengah keragaman tafsir dan praksis keagamaan. Dan seperti ditulis al-Qardhawi, memahami tingkatan bid’ah adalah bagian dari fiqh prioritas—agar umat tak terjebak menganggap semua hal baru sebagai sesat, tapi juga tidak longgar hingga menoleransi penyimpangan aqidah.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 02 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:49
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)