LANGIT7.ID-Bagi Ingrid Mattson, seorang profesor studi Islam terkemuka asal Kanada, pengalaman menjalankan ibadah puasa Ramadan untuk pertama kalinya merupakan sebuah titik balik intelektual dan spiritual yang mendalam. Mattson, yang tumbuh dalam lingkungan Katolik sebelum memeluk Islam pada tahun 1987, menemukan bahwa Ramadan memberikan jawaban atas pencariannya terhadap struktur hidup yang lebih bermakna dan teratur.
Dalam berbagai catatan refleksi dan wawancara mengenai perjalanan rohaninya, Mattson mengisahkan bahwa saat pertama kali menjalankan puasa, ia merasa terpukau oleh bagaimana waktu salat dan jadwal sahur serta berbuka menciptakan ritme harian yang sangat disiplin. Sebagai seorang akademisi yang terbiasa dengan dunia pemikiran, ia melihat bahwa Islam tidak hanya menawarkan konsep teoretis, tetapi juga kerangka kerja praktis melalui ibadah puasa untuk mengatur jadwal hidup manusia.
Mattson menceritakan bahwa pengalaman puasa perdananya di Amerika Utara memberikan tantangan fisik yang nyata. Namun, ia justru menemukan kekuatan dalam keteraturan tersebut. Baginya, bangun di waktu sahur saat dunia masih tenang memberikan ruang refleksi yang tidak ditemukan dalam ritme hidup sekuler. Ia merasa puasa membantunya memprioritaskan hal-hal yang esensial dan menyingkirkan distraksi yang selama ini mengganggu fokus batinnya.
Berdasarkan laporan biografi dan artikel refleksi yang dimuat dalam media
Huffington Post serta wawancara dalam program dokumenter mengenai mualaf di Amerika Utara, Mattson menekankan bahwa puasa Ramadan adalah sebuah latihan kepemimpinan diri. Ia berpendapat bahwa seseorang yang mampu memimpin dirinya untuk menahan rasa lapar dan haus demi ketaatan kepada Tuhan, maka ia akan memiliki integritas yang kuat dalam menghadapi tantangan sosial lainnya.
Struktur hidup yang ditemukan Mattson melalui puasa ini juga berkaitan erat dengan rasa solidaritas. Ia merasa terhubung dengan jutaan umat Islam lainnya melalui tindakan yang sama pada waktu yang sama. Keteraturan waktu salat lima waktu yang berkelindan dengan puasa menjadikannya merasa memiliki jangkar yang kokoh di tengah ketidakpastian dunia modern.
Pengalaman Ramadan pertama ini kemudian menjadi fondasi bagi Mattson dalam meniti karier akademisnya hingga ia menjadi perempuan pertama yang memimpin Islamic Society of North America (ISNA). Ia tetap konsisten menyuarakan bahwa ibadah dalam Islam, khususnya puasa, adalah media untuk membentuk karakter manusia yang disiplin, teratur, dan penuh empati.
Sumber utama narasi ini disarikan dari esai refleksi Ingrid Mattson berjudul
Finding the Prophet in the Mosque, artikel opini di Huffington Post Religion, serta wawancara mendalam yang didokumentasikan oleh komunitas Muslim Kanada mengenai sejarah masuknya Islam para cendekiawan di Amerika Utara.
(mif)