LANGIT7.ID-Bagi Nicolas Anelka, pesepak bola legendaris yang pernah membela klub-klub raksasa seperti Real Madrid, Chelsea, dan Arsenal, memeluk Islam adalah keputusan paling fundamental dalam hidupnya. Keputusan yang diambilnya pada usia enam belas tahun di Uni Emirat Arab tersebut membawa konsekuensi spiritual yang mendalam, termasuk saat ia harus menjalani ibadah puasa Ramadhan untuk pertama kalinya. Bagi pria kelahiran Versailles, Prancis ini, Ramadhan pertama adalah sebuah perkenalan dengan kedamaian yang selama ini tidak ia temukan di bawah gemerlap lampu stadion.
Pengalaman puasa perdana Anelka menjadi catatan menarik mengenai bagaimana seorang atlet elit beradaptasi dengan ritme ibadah. Dalam berbagai kesempatan wawancara, termasuk dengan majalah
FourFourTwo dan
Al Arabiya, Anelka menekankan bahwa ia tidak merasa terbebani oleh kewajiban puasa meskipun harus tetap berlatih dan bertanding. Ia justru menilai bahwa Ramadhan memberinya kekuatan mental yang lebih besar. Baginya, puasa perdana tersebut adalah momen privat untuk melakukan evaluasi diri dan memperbaiki hubungannya dengan Tuhan tanpa perlu publikasi besar-besaran.
Anelka mengenang bahwa pada awalnya banyak orang di sekitarnya yang khawatir mengenai dampak fisik puasa terhadap performanya di lapangan. Namun, ia membuktikan bahwa keyakinan batin mampu melampaui keterbatasan fisik. Pada pengalaman pertamanya, ia merasa bahwa tubuhnya justru menjadi lebih ringan dan pikirannya lebih fokus. Ia memandang puasa sebagai metode disiplin diri yang sangat efektif untuk mengontrol emosi dan ego, dua hal yang sering kali menjadi tantangan besar bagi pemain bintang di liga-liga top Eropa.
Salah satu aspek yang paling ditekankan Anelka dari Ramadhan pertamanya adalah nilai privasi. Ia dikenal sebagai sosok yang tertutup mengenai kehidupan pribadinya, dan ia membawa prinsip tersebut ke dalam ibadahnya. Ia tidak ingin ibadahnya menjadi tontonan atau bahan pembicaraan media. Baginya, esensi dari bulan suci adalah hubungan vertikal yang sangat intim antara hamba dan Pencipta. Keheningan saat sahur dan kedamaian saat berbuka memberikan ruang bagi Anelka untuk merenung dan mensyukuri pencapaian hidupnya dari sudut pandang yang berbeda.
Pemain yang kerap dijuluki Le Sulk oleh media Inggris karena pembawaannya yang dingin ini justru menemukan kehangatan dalam Islam. Ramadhan pertama mengajarinya tentang arti kebersamaan dan kerendahan hati. Ia menyadari bahwa di hadapan Tuhan, semua manusia adalah setara, tidak peduli seberapa besar gaji atau popularitas yang mereka miliki. Pengalaman ini terus ia bawa hingga akhir karier profesionalnya, di mana ia tetap konsisten menjalankan puasa meskipun bermain di kompetisi yang sangat menuntut fisik.
Kisah Nicolas Anelka ini menjadi inspirasi bagi banyak mualaf di Prancis dan dunia tentang bagaimana menjaga integritas iman di tengah gaya hidup glamor. Ia membuktikan bahwa Islam memberikan struktur hidup yang lebih teratur dan tujuan yang lebih jelas. Bagi Anelka, setiap kali Ramadhan tiba, ia selalu teringat pada momen perdana saat ia mulai menata ulang puing-puing spiritualitasnya dan membangun fondasi iman yang kokoh hingga saat ini.
(mif)