LANGIT7.ID-Bagi Paul Pogba, salah satu talenta terbesar dalam sejarah sepak bola Prancis, Islam bukan sekadar identitas yang diwarisi, melainkan hasil dari pencarian spiritual yang panjang. Pogba memutuskan untuk memeluk Islam secara kaffah pada usia dewasa setelah melalui masa-masa penuh pertanyaan tentang esensi kehidupan. Pengalaman menjalankan ibadah puasa Ramadhan untuk pertama kalinya menjadi tonggak sejarah yang ia sebut sebagai proses menenangkan jiwa di tengah hiruk-pikuk industri sepak bola global yang sangat menuntut.
Dalam berbagai kesempatan wawancara, termasuk saat berbincang dalam podcast
Life Times harian
The Times, Pogba mengungkapkan bahwa puasa pertamanya adalah momen yang sangat emosional. Ia mengakui bahwa awalnya ia sempat merasa ragu apakah fisiknya sanggup menahan lapar dan dahaga sementara ia tetap harus berlatih dengan intensitas tinggi di klub. Namun, keraguan itu sirna ketika ia merasakan bahwa puasa justru memberikan kekuatan mental yang luar biasa. Ia merasa lebih fokus, lebih sabar, dan lebih menghargai setiap berkah yang ia terima dalam kariernya.
Salah satu ciri khas Pogba dalam menjalankan Ramadhan adalah kecenderungannya untuk terbang ke Mekkah guna menunaikan ibadah umrah. Foto-foto dirinya yang mengenakan kain ihram dengan latar belakang Kakbah sering kali menghiasi lini masa media sosialnya. Bagi Pogba, berada di Tanah Suci saat sedang berpuasa adalah cara terbaik untuk melakukan refleksi atas segala pencapaian dan kegagalan yang ia alami di lapangan hijau. Ia menilai bahwa suasana di Mekkah membantunya tetap rendah hati meskipun ia menyandang status sebagai pemain bintang dunia.
Sumber dari Al Jazeera dan laman Independent menyebutkan bahwa Pogba merasa Islam telah menjadikannya pribadi yang lebih baik. Puasa perdana tersebut mengajarkannya tentang disiplin dan empati terhadap mereka yang kurang beruntung. Ia menceritakan bagaimana pengalaman tidak makan dan minum sepanjang hari membuatnya lebih bersyukur atas nikmat kesehatan dan kemapanan yang ia miliki. Pengalaman spiritual ini ia anggap jauh lebih berharga daripada trofi apa pun yang pernah ia angkat.
Mantan pemain Manchester United dan Juventus ini juga menekankan pentingnya komunitas selama bulan suci. Meskipun ia merupakan figur publik, Pogba berusaha menjadikan momen ibadah sebagai ruang privat untuk berdialog dengan Sang Pencipta. Ia sering terlihat berbuka puasa bersama rekan-rekan setimnya yang juga Muslim, menunjukkan bahwa solidaritas di atas lapangan dapat diperkuat melalui ketaatan beragama.
Kisah Paul Pogba menunjukkan bahwa bagi seorang atlet elit, agama dapat menjadi jangkar yang menjaga mereka agar tetap membumi. Ramadhan pertama bagi Pogba bukan sekadar tentang menahan lapar, melainkan tentang menemukan jati diri dan kedamaian batin. Hingga kini, ia terus menjadikan bulan suci sebagai waktu untuk mengisi ulang energi spiritualnya demi menghadapi tantangan di masa depan, baik di dalam maupun di luar lapangan.
(mif)