LANGIT7.ID-, California - Senator Negara Bagian, Aisha Wahab, Muslimah keturunan Afghanistan berhasil mengungguli lawannya, Direktur Bay Area Rapid Transit (BART) Melissa Hernandez.
Kemenangan tersebut mengantarkan Wahab melanjutkan sisa masa jabatan mantan anggota DPR Eric Swalwell di Distrik Kongres ke-14 California, yang mengundurkan diri akibat tuduhan pelanggaran seksual.
Wahab maupun Hernandez, sama-sama berasal dari Partai Demokrat. Para pemilih di distrik yang merupakan basis kuat Partai Demokrat tersebut meloloskan mereka karena tidak ada kandidat yang meraih lebih dari 50% suara. Dimana Wahab memperoleh 42% suara dan Hernandez memperoleh 16% suara.
Pemungutan suara pada hari pemilihan berakhir pukul 20.00 hari Selasa (18/8), dan berdasarkan pembaruan terkini dari Kantor Pendaftaran Pemilih Alameda County, Wahab telah mengumpulkan 33.399 suara (51%), sementara Hernandez meraih 32.043 (62%) suara.
Pembaruan hasil pemilihan berikutnya dijadwalkan pada hari Kamis, 20 Agustus 2026.
Baca juga: Kandidat Pro-Palestina Angie Nixon Menang di Pemilu Senat ASWahab merupakan Muslimah pertama yang terpilih menjadi anggota Senat Negara Bagian California. Apabila ia berhasil memenangkan pemilihan, maka ia akan menjabat sisa masa jabatan mantan anggota DPR dari Partai Demokrat, Eric Swalwell, yang telah mengundurkan diri.
Ke depan, Wahab dan Hernandez, akan kembali bersaing pada bulan November untuk memperebutkan masa jabatan penuh selama dua tahun mewakili distrik tersebut.
Persaingan SengitPersaingan antara kedua kandidat dari Partai Demokrat ini berlangsung sangat sengit; pada tahap awal kampanye, Hernandez mengumpulkan dana dan melakukan pengeluaran dengan jumlah lebih dari dua kali lipat dibandingkan Wahab. Namun, hingga akhir Juli, posisi keduanya dalam hal saldo kas kampanye terbilang cukup seimbang. Dilansir cbsnews.com, Kamis (20/8/2026).
Kontestasi ini juga menarik perhatian sejumlah kelompok luar, termasuk beberapa pihak yang berafiliasi dengan American Israel Public Affairs Committee (AIPAC), sebuah organisasi lobi pro-Israel yang berpengaruh.
Menurut catatan Federal Election Commission, United Democracy Project, sebuah "super political action committee" (super-PAC) yang didukung AIPAC, menggelontorkan dana sebesar USD1,2 juta pada bulan Agustus untuk mendukung Hernandez sekaligus menentang Wahab.
Kelompok lain, Bold America, yang telah menerima pendanaan dari United Democracy Project, telah menghabiskan sekira 1,7 juta dolar AS untuk pemilihan ini sejak pemilihan pendahuluan khusus, juga dalam rangka mendukung Hernandez dan menentang Wahab.
Secara keseluruhan, kelompok-kelompok luar telah menghabiskan sekitar USD4,1 juta untuk pemilihan ini sejak pertengahan Juli. Sekitar USD3,7 juta dihabiskan untuk mendukung kampanye Hernandez, dibandingkan dengan jumlah yang sedikit di bawah USD400.000 untuk mendukung kampanye Wahab.
Baca juga: Jenuh Hanya Dua Partai Politik Tiap Pemilu, Warga AS Tuntut PerubahanKonflik AS-Israel dengan Iran juga menjadi topik dalam pemilihan ini, setelah anggota DPR Zoe Lofgren mengaitkan keengganan Wahab untuk segera mengisi kursi yang ditinggalkan Swalwell dengan kegagalan DPR dalam mengesahkan "War Powers Act" (Undang-Undang Kekuasaan Perang).
Dalam sebuah video yang dirilis hari Senin, Lofgren mengatakan bahwa ketika diminta untuk bersatu mendukung satu kandidat dan menghindari kekosongan jabatan yang berkepanjangan, Wahab bertanya kepadanya dan staf, "Apa keuntungan bagi saya?" Lofgren mengatakan ucapan Wahab itu membuatnya mempertanyakan "kelayakan Wahab untuk mengabdi" pada saat DPR sedang berupaya mengesahkan "War Powers Act"-undang-undang yang menurut Lofgren pada akhirnya gagal disahkan karena selisih satu suara saja.
Lofgren menyebut Hernandez sebagai "kandidat yang tangguh."
Dalam sebuah pernyataan kepada CBS News Bay Area, Wahab mengatakan, Distrik ini kosong karena satu alasan: tindakan tercela Eric Swalwell. Sebagai Senator negara bagian dan kandidat Kongres, fokus utama saya adalah berjuang setiap hari demi keluarga pekerja di California, demi perumahan yang terjangkau, dan melawan kelompok ekstremis MAGA pendukung Trump di Gedung Putih.
(*/lsi/anadoluajansi/cbsnews)
(lsi)