LANGIT7.ID, Jakarta - Menumpuknya dosa, perlahan membuat jiwa sakit jika tak kunjung mendapat obat, ia lama-kelamaan akan sekarat. Tak ada yang lagi berguna jika kemudian berujung kematian.
Pendiri Ma'had Tahfidz Ubay bin Ka'ab, Ustaz Ahmad Yaman dalam salah satu renungan paginya menuturkan, bisa jadi hal tersebut menajdi sebuah pengingat besar. Jangan-jangan manusia menganggap sebuah dosa menjadi suatu hal yang biasa.
"Meninggalkan shalat seolah dianggap sebagai rutinitas, biasa saja; membantah orang tua seperti pekerjaan harian, tidak ada lagi sesal, mungkin justru terbesit bangga; berbuat zina kadung dianggap tanda cinta, alasannya banyak yang melakukannya," kata Ustaz Yaman melalui akun resminya, Ahad (7/11/2021) pagi.
Baca Juga: Imam Besar Istiqlal: Penegakan Hukum Bagian dari Meneladani Rasul"Pria menyukai pria dan wanita berhasrat pada sesama dianggap gaya hidup, seolah memperjuangkannya adalah salah satu nilai kepahlawanan. Kita hidup di dunia yang mulai menganggap dosa sebagai sebuah hal yang biasa, dianggap biasa karena mungkin tak ada lagi terminologi dosa dalam kehidupan," sambungnya.
Ironisnya, lanjut Ustaz Yaman, hal yang dilakukan dianggap bebas nilai, tidak boleh terkekang aturan-aturan agama. Pertanyaan mendasarnya, apakah hal seperti ini yang ingin diperjuangkan, apa jadinya jika manusia hidup tanpa aturan, kerusakan akan merajalela. Bukankah ini yang benar menjadi kekhawatiran para malaikat saat makhluk lemah bernama manusia ditunjuk menjadi khalifah.
Baca Juga: Larangan Membicarakan Aib Orang yang Sudah Meninggal"Fitrah jiwa ingin berada dalam ketentraman, bagaimana jadinya jika merampas, merampok, memperkosa dibiarkan dengan alasan bebas nilai? Maka tunggu saja kerusakan besar yang akan segera menyapa," ucapnya.
Lalu apakah manusia benar-benar harus bebas dari dosa? Tentu saja tidak, hanya Rasulullah Saw manusia yang terjaga dari kealpaan. Allah Swt menyiapkan ujian dan tentu saja menyiapkan ganjaran. Allah Swt juga menyiapkan mekanisme agar kita bisa mencuci segudang kealpaan yang kita lakukan di masa silam.
Baca Juga: Doa Agar Wafat Dalam Keadaan Husnul KhatimahLantas, bagaimanakah kasih sayang Allah terhadap hambanya yang serius ingin memperbaiki diri? Allah berfirman dalam Alquran surat az-Zumar Ayat 53 dan 54:
قُلْ يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُوَأَنِيبُوٓا۟ إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا۟ لَهُۥ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ ٱلْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ
Latin: Qul yā 'ibādiyallażīna asrafụ 'alā anfusihim lā taqnaṭụ mir raḥmatillāh, innallāha yagfiruż-żunụba jamī'ā, innahụ huwal-gafụrur-raḥīm. Wa anībū ilā rabbikum wa aslimụ lahụ ming qabli ay ya`tiyakumul-'ażābu ṡumma lā tunṣarụn
Arti: Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Maka kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kalian tidak dapat (lagi) pertolongan.
Baca Juga: Orang Cerdas Selalu Beriorientasi pada Kehidupan Setelah Kematian"Lihatlah bagaimana Allah justru mengundang orang-orang yang berbuat dosa untuk datang kepadanya, Allah membuka pintu pintu seluas-luasnya bagi orang yang ingin kembali. Hal ini berbeda 180 derajat, jika kita berbuat kesalahan kepada manusia, bertemu dengan orang tersebut saja kita merasa malu, tapi apa jadinya jika kita berbuat kesalahan justru disambut dengan hangat oleh orang tersebut," ujarnya.
Begitulah Allah subhanahu wa ta'ala memperlakukan hambaNya. Tak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri. "Toh, setiap kita yang tampak alim pun pasti tak luput dari setiap dosa-dosa yang terus mengintai. Datanglah kepada Allah dan pasti Allah akan menerima taubat kita," ucap Ustaz Yaman.
Sebagaimana Allah berfirman dalam surat Al Furqan ayat 25:
وَيَوْمَ تَشَقَّقُ ٱلسَّمَآءُ بِٱلْغَمَٰمِ وَنُزِّلَ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ تَنزِيلًا
Latin: Wa yauma tasyaqqaqus-samā`u bil-gamāmi wa nuzzilal-malā`ikatu.
Arti: Dan (ingatlah) hari (ketika) langit pecah belah mengeluarkan kabut putih dan diturunkanlah malaikat bergelombang-gelombang.
Baca Juga: Adab Menguap dalam Islam, Agar Tidak Jadi Teman Setan(zhd)