LANGIT7.ID, Jakarta - Selama ini publik hanya mengenal Fatmawati, sebagai sosok yang berjasa dalam menjahit bendera merah putih yang pertama kali dikibarkan saat Indonesia memproklamirkan kemerdekaan, 17 Agustus 1945. Padahal, banyak peran penting yang dilakukan Fatmawati sebelum dan pascakemerdekaaan Indonesia.
Hanya saja, beberapa kegiatan positif yang dilakukan Fatmawati luput dan jarang ditulis dalam sejarah. Fatmawati lahir di Bengkulu, 5 Februari 1923, dari pasangan Hassan Din dan Siti Chadijah. Dalam perjalannya hidupnya, banyak digembleng di keluarga yang taat agama.
Baca Juga: KH Wahid Hasyim, Ulama Cerdas dan Negarawan yang Syahid di Usia MudaAyah Fatmawati merupakan tokoh Muhammdiyah di Bengkulu. Tidak hanya memiliki tempat ibadah (surau dan mushola), namun juga memiliki Sekolah Muhammadiyah dan Fatmawati mendapatkan pengajaran langsung dari ayahnya itu.
Fatmawati pun tumbuh, menjadi gadis pintar mengaji dan aktif berorganisasi serta menjadi tokoh gerakan Muhammadiyah di Bengkulu. Hal inilah awal mula Fatmawati kenal dan dekat yang akhirnya menikah dengan Soekarno.
Sejarawan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Arif Akhyat mengatakan, dari beberapa literatur, Fatmawati kenal dengan Soekarno, saat diasingkan di Bengkulu oleh Kolonial Belada pada 1942. Ketika itu, Fatmawati sedang mengaji dengan ayahnya. Soekarno pun tertarik dengan lantunan suara Fatmawati saat membaca Quran.
Baca Juga: Kasman Singodimedjo dan Pergulatan Perumusan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa"Lantunan suara saat membaca Quran itulah yang membuat Soekarno tertarik kepada Fatmawati," kata Arif.
Soekarno pun akirnya tertarik mengajar di sekolah Muhammdiyah Bengkulu dan Fatmawati menjadi salah satu tokoh gerakan. Fatmawati pun semakin akrab dengan Soekarno serta menikah pada 1943.
Selanjutnya bersama Soekarno hidup di Jakarta. Dalam perkembanganya, Fatmawati dikenalkan dengan banyak tokoh politik dan aktif di beberapa organisasi perempuan, termasuk menjadi anggota BPUPKI, ketua yayasan disabilitas, pengerakan anti buta huruf dan menentang poligami.
"Jadi seorang Fatmawati ini menjadi orang yang sangat penting dalam kehidupan Soekarno saat masa Pendudukan Jepang,” ungkapnya.
Baca Juga: Abdullah Hammoud Jadi Wali Kota Muslim Pertama di Amerika SerikatFatmawati juga memiliki peran dalam proses proklamasi Indonesia. Ketika Soekarno diculik pemuda ke Rengasdengklok, Fatmawati ikut mendampingi dengan membawa anak pertamanya Guntur yang masih balita. Mulai persiapan pembuatan teks dan pembacaan teks proklamasi.
"Konteks ini menjadi penting, bagaimana peran perempuan dalam proses kemerdekaan dan ini belum pernah diketahui," ujarnya.
Peran Fatmawati berlanjut pascakemerdekaan Indonesia hingga menjelang revolusi. Yaitu, bernegoisasi kepada beberapa organisasi perempuan dan membantu mengkolaborasikan politik dengan gerakan kaum hawa. Termasuk menjadi inisiator dalam gerakan sosial, pendikan dan kesehatan.
Gerakan sosial dengan mendirikan Yayasan Anak Cacar, sebagai tempat pemberdayaan disabilitas. Bidang pendidikan dengan mendirikan perguruan Cikini dan pembertanasan buta huruf. Bidang kesehatan dengan berdirinya RS Fatmawati.
Baca Juga: Kehebatan Khalid bin Walid, Tak Mempan Racun Paling Mematikan.
"Itulah sebagai ide dan perjuangan Fatmawati," paparnya..
Fatmawati juga berperan dalam kegiatan keagamaan di Istana. Yaitu saat Presiden Soekarno sering mengundang para kiai ke istana untuk tahlilan, pengajian dan semaaan Al Quran. Sehingga kedekatan para kyai dan tokoh pesantren dengan istana memang kuat.
"Sudah biasa di istana sering digelar pengajian dan semaaan quran dalam empat tahun pertama paska kemerdekaan," ungkapnya.
Maka tidak heran jika Fatmawati sangat akrab dengan bacaan Al Quran dan dia sendiri bisa membaca Quran. Fatmawati pintar baca Quran, tentunya karena sejak kecil digembleng di keluarga yang taat beragama. dan dalam gerakan Muhammdiyah. Apalagi Bengkulu merupakan daerah muslim yang kuat.
Baca Juga: Roehana Koeddoes, Jurnalis Muslimah Pertama yang Jadi Google Doodle Hari IniAyah Fatmawati juga tokoh Muhammadiyah yang memiliki surau dan sekolah. Sekolah Muhammadiya sendiri tahun 1940 menjadi sekolah unggul. Syarat menjadi siswa harus hafal surat-surat pendek atau beberapa juz. Tradisi membaca Quran ini masih melekat dalam kehidupannya. Sehingga Fatmawati menjadi sosok inspiratif dan panutan bangsa, khususnya kaum perempuan.
Fatmawati meninggal di Kuala Lumpur, Malaysia, 14 Mei 1980 dan dimakamkam di TPU Kaet Bvak, Jakarta. Oleh pemerintah diangkat menjadi Pahlawan Nasional lewat Keppres No 118/TK/2000 tertanggal 4 November 2020.
Baca Juga:
Shahana Hanif Wanita Muslim Pertama Terpilih Jadi Anggota Dewan Kota New York
Dosen Muda IPB Raih Penghargaan Young Scientist Award di Bidang Entomologi(asf)