LANGIT7.ID, Jakarta - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siradj meminta pengurus NU berhati-hati dalam mengeluarkan fatwa keagamaan. Ia mendorong para pengurus mengkaji kembali kitab-kitab
turats (kitab agama klasik) yang menjadi dasar keilmuan Islam.
"Jangan sembarangan mengeluarkan fatwa kalau belum tahu masalah. Lihat dulu
masdar-nya (objek kajian) dan
maraji-nya (sumber rujukan). Kembali ke
kutubu turats," kata Kiai Said saat melantik Pengurus Cabang NU Sukoharjo, Jawa tengah, Rabu (17/11/2021) dikutip keterangan pers.
Menurut dia, ukuran paling sederhana penguasaan masalah keagamaan adalah paham terhadap kitab kuning. Ia menekankan pentingnya penguasaan kitab kuning kepada seluruh pimpinan dan pengurus NU.
Baca Juga: Ini Pesan Menag Yaqut di Hari Toleransi Internasional"Syuriyah di tingkat cabang, tingkat wilayah, apalagi tingkat PB, harus bisa baca kitab kuning," ujarnya.
Pelantikan Pimpinan Cabang NU (PCNU) Sukoharjo berlangsung di SMK NU, Desa Serut, Kecamatan Nguter. Konferensi Cabang ke-VII NU Sukoharjo pada Mei lalu mengamanahkan KH Abdullah Faishol sebagai Rais Syuriyah dan H Khomsun Nur Arif sebagai Ketua Tanfidziyah.
Baca Juga: Hebat, Para Ulama Ini Tak Hanya Kiai tapi juga ProfesorPada pengurus baru ini, Kiai Said berpesan agar kader dan pengurus NU Sukoharjo menjaga semangat keagamaan dengan baik. Kemudian, menjaga ruh moderasi yang menjadi cara dakwah NU selama ini.
Kiai Said menyatakan, bagi NU nasionalisme adalah bagian dari iman. Semangat kebangsaan harus beriringan dengan spirit keagamaan.
Baca Juga: Tafsir As Saba Ayat 14: Jin Saja Tidak Tahu Hal-hal GaibKetiga, menjaga ruhul insaniyah. Semangat kemanusiaan. Mereka yang non muslim, yang berbeda suku, bahasa, dan budaya, tetap adalah saudara dalam kemanusiaan. "Mari agama kita ambil ruhnya. Bukan hanya legalnya saja," kata Kiai Said menandaskan.
Baca Juga: Lembaga Dakwah PBNU Ajak Dai Gencarkan Bahaya Miras(zhd)