LANGIT7.ID - KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau akrab disapa Gus Baha mengaku bangga menjadi lulusan pesantren. Ia merupakan ulama Nahdlatul Ulama (NU) yang menjadi ahli tafsir Al Qur’an murni hasil didikan pesantren. Ia tak mengenyam pendidikan di luar negeri, hanya dari satu pesantren ke pesantren, dari satu ulama ke ulama lain, namun kini jadi ulama tafsir yang selalu dinantikan tausiyahnya.
Suatu ketika saat mengisi ceramah, Gus Baha menceritakan kebanggaannya menjadi orang pesantren. Di kampus, ia mengaku sering bertemu dengan dosen sekelas profesor dan doktor. Namun, mereka umumnya adalah orang-orang galau dan gelisah.
“Lucunya mereka memposisikan saya sebagai penasihat, karena memang ilmu pesantren itu unik, ilmu yang bisa menjawab problem apa saja,” kata Gus Baha dalam tayangan ulang di kanal youtube Dawuh Yai, dikutip Rabu (15/12/2021).
Baca Juga: Hebat, Para Ulama Ini Tak Hanya Kiai tapi juga Profesor
Banyak guru besar sering curhat ke Gus Baha perihal anak-anak mereka. Pernah suatu ketika ia bertemu dengan salah seorang profesor yang mengaku bangga hanya karena anaknya tak terjerat narkoba. Bisa dibayangkan kehidupan remaja anak profesor tersebut.
Hal itu berbanding terbalik dengan ayah profesor tersebut yang hanya orang kampung dan lugu. Meski begitu, ayah yang lugu tersebut mampu mendidik anaknya menjadi guru besar.
“Artinya, dia sadar bahwa kearifan lokal yang diwariskan para kiai itu menjadikan anak-anaknya sebagai profesor dan dokter. Tapi ilmu kedoktorannya, orang menjadikan anaknya rangking itu susahnya bukan main, karena tidak ada kearifan,” kata Gus Baha.
Para ayah yang lugu itu mampu menjaga kearifan para kiai-kiai pesantren dalam mendidik anak. Hal itu diterapkan di rumah, sehingga mampu mengorbitkan anak-anaknya sampai ke universitas-universitas ternama di dunia. Berbeda dengan anak yang tak hidup dalam nilai-nilai kepesantrenan, tak terjerat narkoba pun sudah prestasi tinggi.
Gus Baha menjelaskan, rahasia pesantren mampu bertahan dan menjawab semua tantangan zaman adalah warisan karakteristik pendidikan Islam yang sudah turun temurun sejak era Rasulullah. Pendidikan Islam mampu melahirkan ilmuwan matematika sekelas Al-Khawarizmi, ada pula Ibnu Sina di bidang kedokteran, hingga Ibnu Haitham dalam hal optik.
Baca Juga: Pesantren Jadi Institusi Pendidikan Paling Komplit dan Siap Jawab Tantangan Zaman
“Sehingga sekarang katanya teknologi ada di barat, di eropa, sebenarnya mereka itu kagum sama Islam, karena mereka mengakui bahwa di antara ilmu itu dari Islam, seperti di zaman Al-Khawarizmi, Al-Jabar, Ibnu Sina, Ibnu Rusydi, dan lain sebagainya,” katanya.
Dia mencontohkan masalah teori likuifaksi. Bencana ini pernah terjadi di Palu, Sulawesi Tengah pada 2018 silam. Teori likuifaksi sudah ada dalam Al-Qur’an. “Coba tanyakan soal teori likuifaksi, teori bukan sejarah. Kalau sejarah ada Qarun. Saya ditanya begitu,” kata Gus Baha.
Dia lalu menjawab dengan ayat; “Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?” (QS Al-Mulk: 16).
“Bumi itu bisa meleleh, terus saya kasih argumentasi. Mungkin saya akan disebut justifikasi ilmiah dengan mencari pembenaran secara syariah, tapi tanyakan ahli geologi yang non-muslim, makna ayat itu akan tetap seperti,” ucap Gus Baha.
(jqf)