LANGIT7.ID, Jakarta - Seorang muslim atau muslimah dituntut untuk berpakaian yang Islami dan tidak terpengaruh dengan budaya-budaya luar yang akan merusak akhlak manusia. Tidak mustahil dengan pakaian orang akan terjerumus kepada jurang kehancuran.
Pakaian dapat berfungsi sebagai penutup aurat (kemaluan), juga dapat berfungsi sebagai hiasan dan dapat berfungsi sebagai
libasu at-Taqwa, pakaian yang menjadi ciri ketaqwaan. Untuk itu, maka setiap muslim terutama muslimah hendaklah mengetahui etika berpakaian menurut Islam.
Di antara etika berpakaian dalam beberapa hadits adalah dilarangnya melabuhkan pakaian hingga melebihi batas mata kaki atau disebut isbal. Bahkan Rasulullah memberikan ancaman yang keras kepada orang yang isbal disertai dengan kesombongan.
Baca Juga: Hati-hati, 10 Hal Ini Dapat Merusak dan Membatalkan ShalatNabi shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda:
ما أسفل من الكعبين من الإزار ففي النار
“Kain yang panjangnya di bawah mata kaki tempatnya adalah neraka” (HR. Bukhari Nomor 5787).
Namun dalam hadis lain riwayat Bukhari dari Abdullah bin Umar dikatakan: "Barang siapa yang memanjangkan pakaiannya karena sombong
(khuyala’), Allah tidak akan melihatnya kelak pada hari kiamat. Abu Bakar lantas berkata,”Seseorang memanjangkan bajuku agar rileks, apakah ini termasuk?” Rasulullah menjawab,”Engkau (Abu Bakar) tidak melakukannya karena kesombongan.”Sufyan bin Abi Sahl: dari Mughirah bin Syu’bah Radhiallahu’anhu beliau berkata:
رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم أخذ بحجزة سفيان بن أبي سهل فقال يا سفيان لا تسبل إزارك فإن الله لا يحب المسبلين
“Aku melihat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mendatangi kamar Sufyan bin Abi Sahl, lalu beliau berkata: ‘Wahai Sufyan, janganlah engkau isbal. Karena Allah tidak mencintai orang-orang yang musbil’” (HR. Ibnu Maajah nomor 2892, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibni Majah).
Baca Juga: Sabar dalam Berdakwah, Berkaca dari Keputusasaan Nabi YunusIsbal terbagi menjadi dua, dilakukan karena sombong dan tidak sombong. Sombong adalah sifat yang selalu merasa diri lebih baik dari orang lain serta memandang rendah orang tersebut.
Dalam beberapa penjelasan, isbal dilakukan karena sombong mengingat zaman dahulu kain sangat langka, sehingga banyak yang menggunakannya secara berlebihan sebagai bentuk kesombongan. Sementara, dilakukan karena tidak sombong yakni, dengan alasan ingin menutupi kekurangan pada tubuhnya.
Imam Ahmad mencatat sebuah riwayat dalam Musnad-nya (4 / 390) :
( حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مَيْسَرَةَ ، عَنْ عَمْرِو ابْنِ الشَّرِيدِ ، عَنْ أَبِيهِ أَوْ : عَنْ يَعْقُوبَ بْنِ عَاصِمٍ ، أَنَّهُ سَمِعَ الشَّرِيدَ يَقُولُ : أَبْصَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا يَجُرُّ إِزَارَهُ ، فَأَسْرَعَ إِلَيْهِ أَوْ : هَرْوَلَ ، فَقَالَ : ” ارْفَعْ إِزَارَكَ ، وَاتَّقِ اللَّهَ ” ، قَالَ : إِنِّي أَحْنَفُ ، تَصْطَكُّ رُكْبَتَايَ ، فَقَالَ : ” ارْفَعْ إِزَارَكَ ، فَإِنَّ كُلَّ خَلْقِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ حَسَنٌ ” ، فَمَا رُئِيَ ذَلِكَ الرَّجُلُ بَعْدُ إِلَّا إِزَارُهُ يُصِيبُ أَنْصَافَ سَاقَيْهِ ، أَوْ : إِلَى أَنْصَافِ سَاقَيْهِ
Sufyan bin ‘Uyainah menuturkan kepadaku, dari Ibrahim bin Maisarah, dari ‘Amr bin Asy Syarid, dari ayahnya, atau dari Ya’qub bin ‘Ashim, bahwa ia mendengar Asy Syarid berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, mendatangi seorang pria yang berjalan dengan kainnya terseret sampai ke tanah kemudian bersabda:
“Angkat pakaianmu, dan bertaqwalah kepada Allah“. Lelaki itu berkata: “kaki saya bengkok, lutut saya tidak stabil ketika berjalan”. Nabi bersabda: “angkat pakaianmu, sesungguhnya semua ciptaan Allah Azza Wa Jalla itu baik”.
Baca Juga: Pemerintah Terima Vaksin Moderna Donasi Pemerintah JermanLembaga Fatwa Dar al-Ifta Mesir menekankan bahwa isbal yang dilarang adalah yang mengandung unsur kesombongan, keangkuhan, dan glamoritas.Jika tidak terdapat unsur tersebut maka tidaklah haram, apalagi adat atau tradisi pada era sekarang tidak selalu busana di bawah mata kaki memiliki keterkaitan dengan kesombongan.
Kesimpulannya, isbal selama dilakukan tidak atas dasar sombong, maka tidak apa-apa dan tidak termasuk hadits Nabi yang menyatakan di neraka. Sebab, illat (motif) yang menyebabkan orang tersebut tergelincir ke dalam neraka bukan karena isbal melainkan sombongnya atau
khuyala.
Baca Juga: Hiasi Rumah dengan Ibadah, Yuk Isi dengan Shalat-shalat Sunnah(zhd)