Irfan Hakim mengaku tak bisa lepas dari Persis. Pria kelahiran Bandung, 15 Oktober 1975 itu tumbuh di tengah keluarga Persis. Sang ayah almarhum Rosyid Sukarya dan Ibu Hj Juariah merupakan aktivis Persis.
Ia mengungkapan bahwa dirinya sudah lama mengenal sosok Prof Atif. Amin menilai Prof Atip memegang teguh prinsip hidup dan komitmen terhadap nilai-nilai Islam dan ke-Persis-an.
Ustaz Ginanjar menuturkan, hal darurat lainnya seperti seorang mualaf yang meninggal namun pihak keluarganya menguburkan secara adat agama mereka yang menggunakan peti.
Komitmennya yang kuat dalam gerakan dakwah dan organisasi keislaman, keluasan wawasan dan ilmu, serta keluwesannya dalam pergaulan dengan berbagai organisasi pergerakan Islam menyebabkan ia banyak diminta gabung dengan berbagai organisasi dan lembaga dakwah.
Wakil Ketua Umum PP Persatuan Islam (Persis), Dr KH Jeje Zaenuddin, menilai, salah satu kendala besar masyarakat Indonesia sulit menyatukan cita-cita bersama lantaran masih ada dikotomi kaum islamis dan nasionalis.
Wakil Ketua Umum PP Persatuan Islam (Persis), Dr. KH. Jeje Zaenuddin, mengatakan, konsep Islam di dalam Al-Quran memiliki dua dimensi. Ada Islam dengan makna dinullah (agama Allah) dan Islam dengan makna sunnatullah.
Wakil Ketua Umum PP Persis, Dr KH Jeje Zaenuddin, mengungkapkan, seorang muslim wajib menjaga lingkungan. Itu menjadi satu implementasi dari dua dimensi konsep berislam.
Pendiri bangsa sudah sepakat menggabungkan antara keagamaan dan kenegaraan. Penyatuan dua poin itu jadi kunci terciptanya persatuan Indonesia. Wakil Ketua Umum PP Persis, Dr KH Jeje Zaenuddin, menyebut dikotomi yang memisahkan kaum nasionalis dan Islamis harus dihapus.
Ada faktor internal dan eksternal perkembangan Islamofobia di tanah air. Pengaruh ini tak terlepas dari masalah mahzab, ideologi dan budaya di Indonesia.
Negara harus hadir untuk menjawab Islamofobia di masyarakat. Sebab Indonesia merupakan negara mayoritas muslim, namun malah khawatir akan kebangkitan Islam.
Persatuan umat Islam di Indonesia menjadi cita-cita banyak pihak. Namun hingga kini hal itu sulit terwujud akibat perpecahan. Wakil Ketua Umum PP Persatuan Islam (PERSIS) , Dr KH Jeje Zaenuddin, menyebut perpecahan umat Islam di Indonesia terus terjadi akibat warisan dari penjajah Belanda.
Berdasarkan kalender hijriyah, PERSIS sudah memasuki 102 tahun dan 99 tahun dalam kalender masehi. September mendatang, PERSIS akan menggelar Muktamar ke-16 di Bandung.