Di bawah kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan, pasukan Muslim untuk pertama kali menantang dominasi Bizantium di laut. Dalam gelombang yang memerah, lahirlah era baru: Islam sebagai kekuatan maritim.
Ketika kekuasaan Islam melebar ke pesisir Afrika, ancaman dari laut kian nyata. Di tengah warisan kebijakan Umar dan desakan Muawiyah, Utsman bin Affan mengambil keputusan strategis yang mengubah sejarah maritim Islam.
Kisah silang kuasa antara Amr bin As dan Abdullah bin Sa'd membuka tabir politik awal Islam: tentang ambisi, kecurigaan, dan keputusan seorang khalifah yang mengubah peta kekuasaan Mesir dan Afrika Utara.
Di Naqyus, duel satu lawan satu mengubah arah pertempuran. Haumal tumbang sebagai syahid, namun keberaniannya menyalakan kembali api kemenangan pasukan Islam yang mengepung Romawi di Iskandariah.
Ketika pasukan Romawi menerjang Mesir Hilir, Amr bin Ash memilih taktik tak lazim: membiarkan musuh menampakkan keburukannya. Keputusan itu mengubah arah perlawanan Arab di bawah Khalifah Utsman.
Pada awal pemerintahan Utsman bin Affan (664 M), 300 kapal Romawi mendarat diam-diam di Iskandariah. Serangan ini mengguncang Mesir dan menjadi ujian besar bagi kekhalifahan muda.
Konstans II menyiapkan 300 kapal untuk merebut kembali Mesir dari tangan Muslim. Armada itu mendarat tanpa terdeteksi di Iskandariah. Inilah salah satu operasi militer paling berani pada abad ke-7.
Keputusan politik di Mesir, ketegangan elite Arab, dan kelengahan administratif membuka celah. Dari Iskandariah, orang-orang Romawi menulis ke Konstantinopel, memanggil kembali bayang-bayang Bizantium.
Di balik gejolak Azerbaijan dan Armenia pada awal kekhalifahan Utsman bin Affan, bayang-bayang ambisi Persia Sasanid dan Rumawi Timur ikut menyalakan bara. Dua imperium tua itu berusaha merebut ulang pengaruh yang hilang.
Di medan kampanye Kaukasus, perselisihan tajam pecah antara pasukan Kufah dan Syam soal rampasan perang. Gesekan itu membuka tabir persaingan laten dua komunitas Arab yang kelak memicu badai politik besar.
Di perbatasan Syam dan Persia, Armenia menjadi simpul terakhir kekuasaan Bizantium yang resah. Setelah Umar wafat, wilayah itu kembali gelisah. Utsman harus memastikan Syam tak terbuka untuk ancaman dari utara.
Begitu dilantik, Utsman bin Affan memilih meneruskan kebijakan Abu Bakar dan Umar. Di tengah gejolak daerah dan ancaman luar, sang khalifah ketiga lebih hati-hati ketimbang inovatif.
Di awal pemerintahannya, Utsman bin Affan menghadapi ancaman beruntun dari Persia dan Romawi. Kebijakan luar negerinya terpaksa mengikuti garis keras pendahulunya demi menjaga kedaulatan.