Ketua Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga DKI Jakarta, Fery Farhati Ganis mengatakan untuk memenuhi kebutuhan anak ada beberapa nilai yang harus dimiliki oleh para orang tua.
Banyak orang-orang lupa bahwa Nabi Muhammad SAW itu menjadi ayah bagi kaum muslimin di zamannya. Seperti menyapa anak kecil yang sedang sedih, kemudian ia juga menyapa anak perempuan yang sedih karena tidak memiliki ayah dan lainnya.
Beda halnya dengan 30 tahun lalu, ketika orang tua lahir teknologi masih menjadi hal yang asing. Derasnya arus informasi pun membuat orang tua bingung, pola asuh seperti apa yang tepat untuk anak-anaknya.
Mengancam dan menakuti-nakuti anak adalah pola asuh yang banyak ditemui dalam keseharian. Biasanya cara ini digunakan orang tua saat anak tidak mematuhi atau menuruti perintah.
Tidak ada definisi baku dalam menjabarkan pola asuh yang baik. Setiap orang tua memiliki caranya sendiri. Namun, bagi orang tua Muslim, khususnya seorang ibu, hal ini menjadi dua kali lipat lebih sulit karena harus menyesuaikan perkembangan modern dengan ajaran Islam.
Pola asuh dengan kekerasan, baik itu verbal maupun non verbal atau konflik orang tua di depan anak, disadari atau tidak dapat menimbulkan kecemasan dan trauma mendalam pada anak.
Helicopter Parenting atau pengasuhan helikopter menjadi istilah yang ramai jadi perbincangan belakangan ini. Pemahaman dari helicopter parenting sendiri merupakan pola asuh dimana orang tua terlalu berlebihan memberi perhatian.
Dalam mengasuh anak, tiap orang tua memiliki caranya masing-masing. Namun tak semua orang tua bisa menerapkan pola pengasuhan yang baik. Berikut hal-hal yang harus diperhatikan dalam memperbaiki pola pengasuhan.
Pakar Pengasuhan Anak Irwan Rinaldi menyebut anak akan rentan mengalami stress jika orang tua tidak menerapkan pola asuh yang tepat. Ada 3 pola pengasuhan terhadap anak.