Dalam pandangan KH Ali Yafie, perubahan hukum dalam Al-Quran bukan tanda kontradiksi, melainkan proses pendidikan ilahicara Tuhan menumbuhkan umat menuju kedewasaan spiritual.
Bagi Yusuf Qardhawi, syariat bukan bekuan mazhab, tapi jalan yang terus hidup. Ia menolak fanatisme hukum lama dan menyeru umat berijtihad sesuai zamantanpa kehilangan ruh keadilan dan kemaslahatan.
Di balik Perang Padri, kolonialisme tak hanya menaklukkan tanah, tapi juga tafsir iman. Michael Laffan menyingkap bagaimana ulama dan pendeta menjadi simbol benturan antara dakwah dan kekuasaan.
Muhammadiyah menolak jadi organisasi fikih semata. Dengan semangat tajdid, gerakan ini menafsir Islam sebagai kekuatan budaya dan ilmu yang menumbuhkan peradaban.
Karya Quthb bukan sekadar tafsir, tapi panduan perjuangan. Ia menuntut aqidah ditegakkan sebelum hukum, dan menolak kompromi dengan modernitas yang dianggap jahiliyah.
Uang dalam pandangan Islam bukan segalanya. Ia harus berputar, bukan ditimbun. Modal hanyalah alat, sedangkan manusia dan alam tetap jadi pusat kehidupan.
Islam sejak awal menegaskan hak perempuan atas pendidikan. Dari hadis Aisyah hingga kaidah ushul fiqih, ihsan terbesar bagi anak perempuan adalah ilmu yang menyelamatkan generasi.
Al-Quran menyebut Ahl al-Kitab dengan nuansa beragam: ada yang memusuhi, ada yang lurus. Tafsir Quraish Shihab menekankan: jangan generalisasi. Kritik keras tak berlaku untuk semua.
Kufur besar kekal di neraka, kufur kecil tidak. Tapi membedakannya bukan sekadar istilahia menentukan nasib akhirat dan mencegah tafsir sesat. Berikut ini penjelasannya.
Ayat Ar-rijalu qawwamuna alan nisa sering dikutip untuk menegaskan dominasi suami. Tapi benarkah ia memenjarakan perempuan? Tafsir klasik justru menyebutnya beban tanggung jawab, bukan privilese.
Pendaratan manusia di bulan digadang-gadang bukti sains dalam Al-Quran. Al-Utsaimin menegaskan: memaksakan tafsir ilmiah justru berisiko menodai kesucian wahyu.
Istiwa Allah di atas Arasy memicu perdebatan tak berujung: tafsir lahiriah atau hakikat ghaib? Dari Imam Malik hingga Ibnu Taimiyah, akal dan wahyu terus diuji.