Penguasaan kompetensi digital dapat diartikan sebagai kombinasi dari sikap, pengetahuan, keterampilan, kesadaran dan nilai-nilai ketika memanfaatkan teknologi dan alat digital.
Kesadaran menjadi poin utama dalam merespon perkembangan era digital saat ini. Karenanya, semua pihak penting untuk membangun kurikulum digital di masa sekarang ini.
Langit7.id dalam rangka Hari Santri Nasional, menganggap kemandirian pesantren serta digitalisasi perlu didorong lebih kuat. Maka akan digelar Webinar Mimbar Langit7 pada Rabu, 27 Oktober 2021 ini pukul 09.00-11.00 WIB dengan tema Pesantren Goes Digital Sebuah Keharusan
Apa yang harus dilakukan pesantren dan kalangan santri menyikapi revolusi industri 4.0 dan society 5.0?. Rektor Institut Agama Islam Al Falah Assunniyah (Inaifas) Kencong Jember, Gus Rijal Mumazziq Z, M.HI, menilai ada tiga hal yang perlu dilakukan oleh pesantren.
Ketua Rabithah Ma'ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU), KH Abdul Ghaffar Rozin, menilai para santri harus mampu melakukan transformasi digital di lingkungan pesantren.
Peran pemuda muslim dibutuhkan untuk menyelamatkan generasi muda dari akses internet negatif. Para generasi muda harus bekerja keras memenuhi ruang maya dengan konten-konten positif.
Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Abdul Muti, mengatakan, digitalisasi sebagai pertanda era digital tidak bisa dihindari. Namun harus disikapi dengan bijak agar membawa dampak positif.
Bagaimana caranya agar anak tidak kecanduan gadget? Pakar Parenting Islam, Ustadz Bendri Jaisyurrahman, menyebut ada 3 skill yang wajib dimiliki oleh setiap ayah agar anak tidak kecanduan gadget.
Merujuk data Bank Indonesia, pada kuartal II 2021, nilai transaksi e-commerce sepanjang semester I tahun 2021 mencapai Rp186,75 triliun atau tumbuh sebesar 63,36%.
Kearifan lokal diperlukan untuk mengelola sumber daya alam atau manusia tanpa meninggalkan budaya. Hal itu dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi secara luas.