Pemerhati sosial budaya dan kajian Islam, Sodikin Masrukin SAg, melihat hal ini dari perspektif kaum Sufi dalam menyikapi perilaku KDRT secara jernih, dilihat dari sisi positif.
Jika pengertian sabar adalah menahan diri terhadap apa yang tidak disukai. Maka, seseorang dapat dikatakan sebagai orang bersabar manakala ia mampu bersikap seperti ini, tepat di saat ujian itu menghantam.
Ustaz Lufthi menuturkan, perkara sabar tertulis dalam Al-Qur'an yang seharusnya sabar itu menjadi obat penyakit hati. Pada dasarnya, Allah menurunkan ketentuan dan mustahil tidak bisa diamalkan oleh hamba-Nya.
Ustaz Khalid menuturkan, keadaan yang kedua yakni dalam meninggalkan kemaksiatan. Tak sedikit orang yang terjerumus dalam kemaksiatan, baik kemaksiatan besar ataupun kecil.
Umat Islam tidak boleh mengeluh terhadap problema dan ujian yang hadir dalam rumah tangga. Sebab, ujian hidup ini merupakan jalan untuk mendapatkan kebahagiaan.
Taufik menjelaskan bahwa kematian adalah rahasia Allah yang tidak diketahui oleh seorangpun dari hamba-Nya. Hal tersebut merupakan bagian dari takdir yang pasti dialami manusia.
Sebagai makhluk hidup, manusia tentu pernah mengalami musibah, baik kehilangan sesuatu, kecelakaan, atau bahkan kematian. Dengan sabar, dia akan terhindar dari menyalahkan Allah dan mencari solusi terbaik dengan tidak tergesa-gesa.
Pengasuh Lembaga Pengembangan Da'wah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah, Yahya Zainul Arifin berkata sabar bukan berarti tanpa usaha dan berusaha bukan berarti tidak sabar. Menurut Buya Yahya, sabar tanpa usaha adalah putus asa.
Spiritualitas bertujuan sebagai terapi bagi penyakit jiwa. Oleh karena itu, spiritual keagamaan merupakan kebutuhan dasar manusia menuju kebenaran yang hakiki.
Tingkatan pertama orang sabar yakni tidak mengeluh saat tertimpa musibah. Saat ada masalah fokuslah pada solusi, karena dengan hanya mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah.
Kesulitan dalam hidup bukan hal baru bagi manusia, ia akan selalu hadir selagi kita masih bernafas. Lalu, bagaimana kita mengatasi masalah tersebut tanpa membiarkannya berlarut-larut?