LANGIT7.ID - , Jakarta - Isu kekerasan dalam rumah tangga atau
KDRT bukan hal baru, ini kerap terdengar pada beberapa
rumah tangga. Salah satunya yang ramai menjadi perbincangan adalah pasangan selebritas
Lesti Kejora yang mengalami KDRT dari sang suami,
Rizky Billar.
Kasus keduanya sempat memanas lantaran Lesti melaporkan Rizky ke polisi. Namun, saat sudah ditetapkan sebagai tersangka, Lesti malah memutuskan untuk memaafkan ayah dari Muhammad Leslar Al Fatih Billar itu.
Jalan damai yang dipilih Lesti pun mendapat kecaman dari masyarakat yang semula mendukungnya. Kasus ini pun kemudian membuka pembahasan mendalam akan KDRT dari berbagai perspektif, salah satunya dari kaum
Sufi.Baca juga: Lesti Kejora Maafkan Rizky Billar, Bisakah Pelaku KDRT Jera?Ka'ab Al Ahbar pernah menyampaikan, "Suami yang sabar menghadapi istri galak, Allah akan memberinya ganjaran senilai pahala yang dianugerahkan Allah kepada
Nabi Ayub AS. Dan istri yang sabar atas perlakuan kasar suaminya ia akan mendapatkan ganjaran senilai pahala yang telah diberikan Allah kepada Asiyah Binti Muzahim (istri Fir'aun)."
Pemerhati sosial budaya dan
kajian Islam, Sodikin Masrukin SAg, melihat hal ini dari perspektif kaum Sufi dalam menyikapi perilaku KDRT secara jernih, dilihat dari sisi positif.
"Jadi, tidak serta-merta kemudian melihat dari sisi negatif. Disebutkan bahwa seorang istri yang sabar terhadap kekerasan fisik maupun kekerasan verbal yang dilakukan oleh suami maka ia akan mendapatkan pahala sebagaimana istri Firaun. Begitupun suami yang sabar pahala yang diterima setara dengan Nabi Ayub AS," ujar Sodikin dalam YouTube Jernih Hati TV, dikutip Selasa (8/11/2022).
Sodikin melanjutkan, Imam Al Ghazali juga menyampaikan hal yang serupa seperti kaum Sufi.
Baca juga: Anak Terlanjur Saksikan KDRT, Begini Cara Orang Tua AtasinyaDia berkata "Bersabar menghadapi pasangan hidup, akan mampu melatih mengendalikan hawa nafsu, meredam amarah, mendidik moral dan akhlak. Orang-orang yang hanya menyendiri atau selalu membersamai orang-orang saleh, sifat-sifat buruk di dalam dirinya tidak akan terdidik dan keburukan keburukan akhlaknya tidak akan pernah terbuka."
Dalam pandangan Imam Al Ghazali ini menjelaskan jika KDRT disikapi dengan sabar, maka itu sebagai bagian dari latihan hati dan diri untuk meredam kemarahan.
"Ini penting, ternyata ada perspektif lain," katanya
Meski demikian, Sodikin tidak menganggap salah jika ada orang yang mengambil langkah hukum untuk mempersoalkan KDRT yang dialami. Sebab, hal tersebut merupakan pilihan setiap individu.
"Dalam kasus Lesti Kejora, ketika dia memilih sabar dan memaafkan suami serta memilih kembali membangun rumah tangga, itu juga pilihan yang harus dihargai," tutur Sodikin.
"Silahkan mengambil sikap tanpa dipengaruhi oleh siapapun. Ini murni sikap rohani kita, tapi yang harus kita sadari ada sikap lain juga yang bisa dipertimbangkan. Jika persoalan itu kemudian berlanjut dan hingga pada titik perceraian misalnya, maka ingat perceraian memang dihalalkan oleh Allah, tetapi sekaligus dibenci oleh Allah," pungkasnya.
Baca juga: Hindari KDRT dengan 5 Cara Ini, Jaga Emosi Tetap Stabil(est)