LANGIT7.ID, Jakarta -
Pujian memang terkadang mengasyikkan bagi sebagian orang, namun ternyata pada hakikatnya pujian adalah melenakan. Pujian adalah ujian.Oleh: Abdul Rahman HabsyiTidak dimungkiri setiap manusia terkadang ingin mendapatkan pujian atas kebaikan yang dilakukannya atau kesuksesan yang diraihnya.
Dan setiap manusia juga terdapat keinginan untuk memuji seseorang. Namun perlu diingat tak selamanya pujian itu menguntungkan.
Senang mendapat pujian dan disanjung merupakan fitrah manusia. Dengan pujian, seseorang merasa keberadaannya penting dan bermanfaat bagi orang lain, sekaligus dapat menjadi motivasi agar menjadi lebih baik lagi.
Dalam Kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha'illah As-Sakandari dikatakan: "Ketahuilah bahwa manusia biasa memujimu karena itulah yang mereka lihat secara lahir darimu. Seharusnya, engkau menjadikan dirimu itu cambuk dari pujian tersebut. Karena itu ingatlah, orang yang paling bodoh itu adalah yang dirinya itu merasa yakin akan pujian manusia kepadanya, padahal ia sendiri yakin akan kekurangan dirinya.”
Baca Juga: Hikmah Rahmani: Memaafkan akan Perbaiki Keadaan dan Permudah Masa DepanPujian itu seperti madu dan racun, terasa manis namun di dalamnya mengandung racun yang akan menyebabkan orang yang dipujinya memiliki penyakit hati.
Seperti apa yang dikatakan oleh Imam Ghazali pujian itu adalah racun mematikan yang berbalut madu.
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ أَلِهِ وَ سَلَّمَ :
إذا اُثنيَ علَيكَ في وَجهِكَ فَقُل : اللّهُمّ اجعَلْني خَيراً ممّا يَظُنّونَ ، واغفِرْ لي ما لا يَعلَمونَ ، ولاتُؤاخِذْني بما يَقولونَ .
تحف العقول : ۱۲ .
Rasulullah Bersabda: "Jika dipuji di hadapanmu maka ucapkanlah : "Ya Allah jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka sangkakan, ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui, Dan janganlah Engkau hukumku atas apa yang mereka katakan". (HR Baihaqi).
Barakallah fiikum.Baca Juga: Perseteruan Pesulap Merah dan Samsudin, Antara Dakwah dan Syirik(zhd)