Al-Quran menggambarkan manusia bukan sekadar hasil proses biologis, melainkan hasil keterlibatan Ilahi. Quraish Shihab memaknai penciptaan dan evolusi manusia dalam jalinan sains dan wahyu.
Surat Al-Ashr bukan hanya seruan agar manusia tidak merugi, melainkan peta jalan menuju penyelamatandimulai dari iman, berlanjut pada amal, lalu diikat dengan kebenaran dan kesabaran.
Waktu adalah modal utama manusia. Ia netraltidak sial, tidak mujur. Tapi begitu berlalu tanpa isi, ia berubah menjadi wadah kerugian total. Dalam tafsirnya atas surat *Al-Ashr*, Quraish menulis: waktu tidak bersalah, manusialah yang lalai.
Bulan yang tumbuh dari sabit menjadi purnama, lalu kembali hilang di langit, bukan hanya keindahan malam. Dalam pandangan Al-Quran, ia adalah pelajaran tentang hidup.
Dalam pandangan Al-Quran, waktu bukan sekadar angka di jam dinding atau kalender digital. Ia adalah saksi abadi usaha manusiaciptaan Tuhan yang terus berjalan tanpa bisa diulang, tempat setiap amal tercatat tanpa cela.
Bagi Quraish Shihab, jihad tak lagi sekadar mengangkat senjata. Ia adalah perjuangan menjaga kemanusiaan, menegakkan keadilan, dan memelihara martabat hidup di tengah dunia yang terus berubah.
Dalam tafsirnya, Quraish Shihab mengingatkan: jihad tak selalu di medan perang. Musuh terbesar manusia justru bersemayam di dalam dirisetan, nafsu, dan ambisi yang menyesatkan.
Di tengah hiruk dunia yang menyanjung ambisi, tafsir Quraish Shihab mengingatkan: jihad sejati bukan perang dan pamrih, melainkan perjuangan sunyi menundukkan nafsu, menegakkan nurani, dan menebar kebaikan.
Di tengah menguatnya polarisasi tafsir dan simbol keagamaan, Dr. M. Quraish Shihab mengajak umat kembali pada hakikat ukhuwah: bukan menyeragamkan pendapat, melainkan memuliakan perbedaan dengan ilmu dan kasih.
Prof. Quraish Shihab menegaskan, perbedaan bukan alasan berpecah, tapi ruang untuk berlomba dalam kebaikan. Ukhuwah sejati lahir dari empati, keadilan, dan pengakuan atas kehendak Ilahi.
Dari kesemakhlukan hingga keimanan, Islam menanamkan jaringan ukhuwah yang luas dan dalam. Quraish Shihab membacanya sebagai peta moral bagi umat yang kian terbelah.