Di awal abad ke-20, Islam di Hindia Belanda tak lagi sekadar urusan doa dan tarekat. Sarekat Islam menjelma kekuatan sosial baru yang membuat resah pejabat kolonial, misionaris, dan para orientalis Belanda.
Dari ruang pengajian dan percetakan kecil, muncul gelombang reformasi Islam di Hindia Belanda: dari tarekat menuju serikat, dari sayyid menuju syekhlahirnya kesadaran modern dan kebangsaan.
Surat kabar Al-Imam hanya hidup dua tahun, tapi gaungnya membelah sejarah Islam di Asia Tenggaradari zikir di zawiyah ke debat di ruang publik, dari Sufisme ke Salafisme.
Di awal abad ke-20, Bandung geger oleh tuduhan iblis bersorban. Hasan Mustafa, ulama karismatik murid Snouck Hurgronje, dituding menyesatkan umatpadahal ia hanya mencoba berdamai dengan modernitas.
Di Indramayu akhir abad ke-19, seorang santri bernama Kartawidjaja menukar Al-Quran dengan Injil. Dari pesantren ke gereja, kisahnya mencerminkan benturan iman, modernitas, dan kuasa kolonial Belanda.
Di Batavia akhir abad ke-19, dua tokoh bersilang jalan: Snouck Hurgronje, orientalis Belanda, dan Sayyid Utsman, ulama Hadrami. Bersama, mereka jadi mufti bayangan yang menafsirkan Islam demi kuasa kolonial.
Dari zikir yang mengguncang lantai di Aceh hingga doa sunyi di Lombok, kisah kolonial Belanda dan Islam Nusantara tersisa sebagai potret paradoks: pengetahuan yang lahir dari hasrat untuk menaklukkan.
Dari arsip Leiden hingga benteng Batavia, pengetahuan Eropa tentang Islam tumbuh tanpa empati. Naskah dikaji, bahasa dipelajari, tapi ruh Nusantara tetap asing di mata penjajahnya.
Dari lontar yang disangka teks Jepang hingga kamus yang salah tafsir, Belanda berabad-abad gagal memahami Islam di Nusantara. Michael Laffan menulis: kuasa mereka besar, tapi jiwanya tak tersentuh.
Dalam surat-suratnya di De Locomotief, Snouck Hurgronje tampil bukan hanya sebagai ilmuwan, melainkan sebagai wedana kolonial yang menulis dari atas menara kekuasaan.
Tahun 1889, Snouck Hurgronje tiba di Batavia membawa dua wajah: orientalis dan haji. Di balik risetnya tentang Islam Jawa, tersembunyi kisah kolaborasi, pengawasan, dan persinggungan iman.
Di Batavia tahun 1886, dua cendekia duduk bersekutu di bawah bayang kolonial: Snouck Hurgronje dan Sayyid Utsman. Dari meja kerja mereka lahir proyek besar: membentuk Islam yang jinak di Hindia.
Pada 1886, Snouck Hurgronje menulis dengan amarah dan ambisi: memahami Islam agar bisa mengendalikannya. Dari Leiden ke Mekah hingga Batavia, ilmunya menjelma senjata kolonial membentuk Islam yang dapat diatur.