Tahun 1889, Snouck Hurgronje tiba di Batavia membawa dua wajah: orientalis dan haji. Di balik risetnya tentang Islam Jawa, tersembunyi kisah kolaborasi, pengawasan, dan persinggungan iman.
Di Batavia tahun 1886, dua cendekia duduk bersekutu di bawah bayang kolonial: Snouck Hurgronje dan Sayyid Utsman. Dari meja kerja mereka lahir proyek besar: membentuk Islam yang jinak di Hindia.
Pada 1886, Snouck Hurgronje menulis dengan amarah dan ambisi: memahami Islam agar bisa mengendalikannya. Dari Leiden ke Mekah hingga Batavia, ilmunya menjelma senjata kolonial membentuk Islam yang dapat diatur.
Islam Nusantara bukan kisah damai tanpa riak. Michael Laffan melihatnya sebagai gunung api yang sesekali meletuslahir dari silang budaya, jaringan ulama global, dan tekanan kolonial.
Dua misionaris abad ke-19 datang ke Brunei mencari gereja penyeimbang bagi Islam. Tapi yang mereka temukan justru kekuatan spiritual yang tak bisa dijinakkan oleh logika kolonial.
Di balik sekolah-sekolah kolonial, tersimpan misi yang halus: menguasai lewat bahasa. Dari Surakarta ke Leiden, Islam dipelajari bukan untuk dipahami, tapi untuk diatur.
Sebuah fatwa dari Mekah tahun 1883 mengguncang dunia tarekat. Di balik perintah memusnahkan ajaran Sulayman Afandi, tersembunyi perebutan otoritas, percetakan, dan lahirnya Islam Jawi modern.
Dari batu litograf di pelabuhan Singapura abad ke-19, ajaran sufi bertransformasi menjadi teks tercetak. Di tangan para ulama Jawi, mesin cetak menjelma menjadi alat dakwah dan tanda lahirnya modernitas Islam.
Dari Syattariyyah hingga Naqsyabandiyyah, dari Kiai Lengkong sampai Mas Rahmatabad ke-19 menjadi panggung tarik-menarik antara Islam global dan laku mistik lokal yang membentuk wajah keislaman Jawa.
Kini, tiga abad setelah itu, pertanyaan yang sama masih menggema: sejauh mana Islam di Nusantara masih menampung roh keterbukaan dan kebudayaan yang dulu menyambutnya?
Sufisme bukan sekadar jalan batin di Jawa abad ke-18. Ia menjelma kekuatan politik yang memicu pengasingan, pemberontakan, dan kejatuhan Pakubuwana II ke pelukan Belanda.
Menempuh jalan dari Gowa, Banten, hingga Cape Town, Syekh Yusuf menganyam ilmu, tarekat, dan perlawanan. Warisannya membuktikan: spiritualitas bisa menjadi senjata melawan kolonialisme.
Dari Aceh hingga Banten, ulama Nusantara abad ke-17 menempuh jalur panjang ke Mekah dan Madinah. Mereka bukan sekadar berhaji, tapi menimba ilmu, membangun jejaring, dan membentuk wajah Islam Nusantara.