Ibnu Hajar al-Asqalani, begitulah namanya dikenal banyak orang. Dia merupakan ulama yang masyhur, berkat kekayaan ilmunya, khususnya ilmu hadis dan fikih.
KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) mengungkapkan, ulama sebagai pewaris para nabi hanya memiliki satu ciri, seperti tujuan dasar para nabi dan rasul.
Nama Ibnu Hajar Al-Asqalani sangat masyhur di tengah para pelajar muslim. Ia menguasai banyak bidang ilmu, namun lebih dikenal sebagai seorang ahli hadits dari Mazhab Syafi'i.
Buya Yahya berrcerita, suatu ketika ada orang bertanya kepada Imam Syafii perihal perihal kaitan pelajaran akhlak dan implementasi dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mendapat gelar Musnid al-Dunya atau ulama ahli sanad dunia karena ahli dalam ilmu periwayatan hadits. Ia juga pakar fikih, tasawuf, falak, dan cabang lain.
Dia menambahkan, berita tekanan agresif terhadap umat Muslim di sana, dia menambahkan, terlalu dibesar-besarkan dan kenyatannya dalam kondisi baik-baik saja.
Buya Hamka merupakan MUI pertama dan dikenal sebagai tokoh Masyumi dan ulama Muhammadiyah. Sepanjang hidupnya, dia menjadi ulama besar yang gigih membela Islam.
Jika merujuk berbagai literatur ulama terdahulu, ilmu dibedakan bukan berdasarkan jenis, tapi hukum mempelajarinya. Imam Al-Ghazali dalam Ihya 'Ulum ad-Din membagi dua hukum mempelajari suatu bidang keilmuan, yakni fardhu ain dan fardhu kifayah.
Syaikh Said bin Muhammad al-Kamali mengingatkan para penuntut ilmu agar menghindari fanatisme buta, agar tak gampang memvonis ijtihad dari seorang mujtahid.
Syaikh al-Basyir menyebut, banyak mahasiswa yang belajar ilmu umum di berbagai universitas bingung tetap melanjutkan kuliah atau keluar memperdalam ilmu agama.
Dalam Ihya' Ulumuddin, Imam Al-Ghazali membagi ulama menjadi dua tipe (tipologi) yakni ulama akhirat dan ulama dunia atau ulama yang buruk (al-'ulama al-suu').
Merawat Jagad dalam tema kali ini juga menjadi gambaran dalam mewujudkan NU yang terus berperan global seperti tergambar dalam simbol bola dunia di lambang NU.