LANGIT7.ID, Jakarta - KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) mengungkapkan, ulama sebagai pewaris para nabi hanya memiliki satu ciri. Ciri itu pun merupakan tujuan dasar para nabi dan rasul diutus ke muka bumi.
Ciri itu adalah mendakwahkan tauhid, atau mengajak umat manusia untuk mengesakan Allah Ta'ala. Misi ini merupakan jalan juang para nabi dan rasul sejak era Nabi Adam AS sampai Nabi Muhammad SAW.
Baca juga: Kisah Ibnu Hajar Al-Asqalani, Si 'Anak Batu' yang Mampu Bangkit dari KeterpurukanGus Baha mengutip penjelasan Ibnu Qayyim al-Jauziyah tentang kedudukan kalimat tauhid, yakni
Laa ilaha illallah. Kalimat tersebut merupakan tujuan para nabi dan rasul diutus. Bahkan, neraka yang sangat mengerikan diciptakan untuk orang-orang yang mengingkari laa ilaha illallah.
"Surga diciptakan sangat mewah untuk orang yang menerima laa ilaha illallah. Intinya, laa ilaha illallah itu kunci dunia akhirat," kata Gus Baha melalui kanal
Santri Gayeng, Sabtu (5/3/2022).
Gus Baha melanjutkan, sunnatullah butuh proses, sehingga dunia diciptakan. Manusia diberi kesempatan beramal untuk mendapatkan kunci dunia akhirat tersebut. Manusia pun tidak berdalih tak mendapatkan ajaran tersebut, karena para nabi dan rasul telah diutus kepada mereka.
"Ketika nabi meninggal, beliau digantikan oleh ulama," ucapnya. Dakwah tauhid itu merupakan ciri utama ulama. Itu karena setelah Nabi Muhammad wafat, tidak ada lagi nabi dan rasul yang diutus ke muka bumi.
Baca juga: Cara Imam Syafi'i Belajar Akhlak, Sekali Dengar Langsung DipraktikkanMaka itu, para ulama bertugas menyambung dakwah para nabi dan rasul tersebut. Seseorang tidak bisa disebut ulama, jika tidak memahami substansi tauhid dan mengajarkan kepada umat manusia.
"Makanya Imam Syafi'i ngomong, kalau kamu ingin tahu orang alim, itu ciri-cirinya satu, kalau menyifati Allah itu fasih; ketika berbicara tentang Allah dan Al-Qur'an itu nyaman; kalau bicara hal selain Allah itu kurang begitu bisa," kata Gus Baha.
(jqf)