Mengangkat tema kemanusiaan dan santri, pameran foto jurnalistik Pondok Tasawuf Underground menjadikan mantan presiden keempat RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sebagai ikon kemanusiaan dan santri
Prof Yahya Muhaimin pernah menjadi Menteri Pendidikan Nasional(Mendiknas) era Presiden Gus Dur, Ketua Majelis Dikti PP Muhammadiyah, Anggota PP Muhammadiyah periode 2000-2005 dan Atase Dikbud di Washington DC Amerika Serikat.
Gus Dur tak pernah menamatkan kuliahnya. Namun siapa sangka, sosok Presiden keempat RI itu ternyata mengoleksi 10 gelar honoris causa dari universitas ternama dunia. Hal itu membuktikan kejeniusan seorang Gus Dur.
Khofifah mengaku sangat mengagumi sosok Gus Dur dan juga nilai-nilai yang diwariskannya. Gus Dur bukan sekadar Presiden, melainkan bapak kemanusiaan dunia.
Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dikenal sebagai kiai nyentrik yang memiliki selera humor tinggi. Orang yang mendengar humor Gus Dur bisa tertawa terpingkal-pingkal. Mulai dari rakyat jelata hingga banyak kepala negara telah berhasil dibuat tertawa oleh Gus Dur.
Selama hidup, sosok Gus Dur terkenal sebagai kiai nyentrik. Ia sangat fenomenal di kalangan santri dan sosok humoris yang selalu mengundang tawa. Berikut fakta unik Gus Dur yang tak banyak diketahui publik.
Guyonan Madura saat orang Bangkalan ingin obati Gus Dur berlatar belakang kondisi politik pada 1999. Kisah ini terkait sakit punggung dan poros tengah melemah.
Dua hari setelah dilantik menjadi Presiden RI, Gus Dur tak mengumpulkan para politisi dan pengusaha untuk melakukan deal politik dan bagi-bagi jatah kursi. Ia justru sowan ke KH Abdullah Salam, Kajen, Pati.
Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dikenal sebagai seorang presiden yang memiliki dedikasi tinggi terhadap penegakan hak asasi manusia (HAM) dan pembela kaum minoritas di Indonesia
Presiden Republik Indonesia ke-4 KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ternyata memiliki dua versi tanggal lahir yakni 4 Agustus 1940 dan 7 September 1940.
Saat di Ambon terjadi kerusuhan bernuansa suku, agama, ras dan antargolongan (SARA), Gus Dur mengatakan bahwa provokator kerusuhan adalah seorang petinggi tentara bernama Mayjen K.