Dalam pandangan Al-Quran, waktu bukan sekadar angka di jam dinding atau kalender digital. Ia adalah saksi abadi usaha manusiaciptaan Tuhan yang terus berjalan tanpa bisa diulang, tempat setiap amal tercatat tanpa cela.
Bagi Quraish Shihab, jihad tak lagi sekadar mengangkat senjata. Ia adalah perjuangan menjaga kemanusiaan, menegakkan keadilan, dan memelihara martabat hidup di tengah dunia yang terus berubah.
Dalam tafsirnya, Quraish Shihab mengingatkan: jihad tak selalu di medan perang. Musuh terbesar manusia justru bersemayam di dalam dirisetan, nafsu, dan ambisi yang menyesatkan.
Di tengah hiruk dunia yang menyanjung ambisi, tafsir Quraish Shihab mengingatkan: jihad sejati bukan perang dan pamrih, melainkan perjuangan sunyi menundukkan nafsu, menegakkan nurani, dan menebar kebaikan.
Prof. Quraish Shihab menegaskan, perbedaan bukan alasan berpecah, tapi ruang untuk berlomba dalam kebaikan. Ukhuwah sejati lahir dari empati, keadilan, dan pengakuan atas kehendak Ilahi.
Dari kesemakhlukan hingga keimanan, Islam menanamkan jaringan ukhuwah yang luas dan dalam. Quraish Shihab membacanya sebagai peta moral bagi umat yang kian terbelah.
Demokrasi berbicara tentang suara mayoritas. Syura menekankan musyawarah untuk mufakat. Quraish Shihab menyebut, Islam punya jalan sendiri: partisipatif, tapi tetap terikat pada nilai Ilahi.
Quraish Shihab menegaskan, tak semua hal bisa dimusyawarahkan. Musyawarah hanyalah untuk urusan manusia, bukan wilayah Tuhan. Akal bekerja di bumi, wahyu tetap berdaulat di langit.
Dari Perang Uhud, Al-Quran menurunkan pesan abadi: musyawarah harus dijaga, bahkan setelah keputusan keliru. Prof. M. Quraish Shihab menulis, tanggung jawab bersama lebih berharga dari kebenaran sendiri.
Dalam tafsirnya, Quraish Shihab menulis bahwa musyawarah sejati lahir dari kelembutan, pemaafan, dan hubungan jernih dengan Tuhanbukan sekadar adu argumen antar manusia.
Quraish Shihab memaknai musyawarah sebagai demokrasi beretika wahyu. Tapi di negeri yang gemar rapat ini, syura sering berhenti di meja notulentak lagi meneteskan madu kebijaksanaan
Masjid bukan sekadar bangunan ibadah, tapi ruang kesucian yang harus dijaga dari hiruk-pikuk duniawi. Di dalamnya, segala hal yang bisa mencemari ketenangan, bahkan sekadar transaksi, sebaiknya disingkirkan.